
Tristan langsung menegakkan kepala saat pintu ruangannya di buka tanpa di ketuk terlebih dahulu.
Dia menoleh ke arah pintu dan mendapati Doni sedang berjalan dengan santai ke arahnya.
“Waaah, si bos lagi nyantai kaya di pantai,” ucap Doni meledek.
Tristan hanya menanggapinya dengan decakan.
Kemudian, Doni segera duduk di sofa yang tersedia di ruangan tersebut.
“Gimana? Udah cari tahu belum, di mana mama Dewi sama papa Irawan?” Tanya Tristan langsung ke intinya.
Doni tersenyum misterius menatap Tristan. Kemudian, dia berkata.
“Udah sholat zhuhur belum?” tanya Doni mengalihkan pembicaraan.
“Udah tadi. Cepat katakan, apa yang Lo dapet?” tanya Tristan lagi tak sabaran.
“Kalau Gue kasih tau, Gue bakal dapat apa?” tanya Doni bernegosiasi.
“Dasar mata duitan, entar aku transfer biaya penyelidikan sekalian bonus untuk adek ipar tersayang,” ucap Tristan dengan nada yang kesal karena tak kunjung mendapat balasan.
Doni tersenyum penuh binar di matanya. Tanpa menunggu lama, Doni segera memberitahukan keberadaan kedua orangtua Adira.
“Iya, mereka sedang bersama Adira di kota Solo,” ungkap Doni to the point.
“Solo?! Serius?! Sejauh itu?!” pekik Tristan terkejut terheran-heran.
Doni sampai menutup kedua telinganya karena merasa gendang telinganya seperti akan pecah.
Wajah sudah meringis mendengar dengungan di telinganya karena pekikan Tristan yang memekakkan telinga.
“Biasa aja kali.” Ketus Doni kesal.
“Setelah di cari tahu lagi sama orang suruhanku, ternyata waktu kecil Adira tinggal di Solo dan menetap di sana selama beberapa tahun,” ungkap Doni lagi yang mampu membuat Tristan semakin terkejut.
Pasalnya, Adira tidak pernah bercerita jika pernah tinggal di Solo.
“Lo tahu alamat rumah Adira yang ada di Solo nggak?” tanya Tristan lagi.
“Berani bayar berapa?” ucap Doni bernegosiasi. Senyum menyebalkan sudah tercetak jelas di bibirnya.
Tristan semakin berdecak kesal dengan tingkah adik iparnya ini yang mata duitan.
“Duit teroooos ... Kapan nggak minta duit sih, Lo?” jawab Tristan kesal.
“Ada fulus, semua mulus,” ucap Doni sambil menyatukan dan menggesekan jari jempol dan jari telunjuknya.
“Oke, nanti aku lebihin. Cepat kasih alamatnya!” titah Tristan dengan wajah yang sudah di tekuk.
Kemudian, Doni tampak mengotak-atik ponselnya untuk mengirimkan alamat rumah Adira yang berada di Solo.
“Udah Gue kirim alamatnya, oh ya satu lagi, lusa adalah jadwal Adira check up kandungannya di rumah sakit. Gue kirim juga alamat rumah sakitnya. Takut Lo nggak berani langsung ke rumahnya,” ucap Doni sambil menunjukkan senyum menyebalkannya.
Saat Tristan akan membuka mulutnya, seketika urung karena Doni berbicara lagi.
“Yang ini gratis, Lo nggak perlu bayar. Anggap aja sedekah,” ucap Doni menyombongkan diri.
“Adik sialan, Lo!” umpat Tristan kesal.
Bukannya marah, Doni malah tertawa renyah mendengar umpatan keluar dari mulut Tristan.
“By the way, terima kasih banget atas informasinya ya, Don. Kalau nggak ada, Lo, Gue enggak tahu bakal gimana hidup Gue,” ucap Tristan tulus sambil menatap Doni.
“Sama-sama. Kaya sama siapa aja pake terima kasih segala,” jawab Doni.
Sedetik kemudian, mereka berpelukan ala cowok untuk menyalurkan rasa bahagia karena telah menemukan di mana Adira berada.
Setelah Doni berpamitan, Tristan sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaannya. Nanti sore, Tristan akan berangkat ke Solo untuk menjemput cintanya.
Semoga saja, Adira masih sudi menerimanya kembali. Jika Adira sudah tidak mau dengannya, Tristan akan berusaha untuk mengambil hati Adira lagi.
Tristan yakin, cinta Adira masih ada untuk dirinya. Biarlah Tristan dikatakan terlalu percaya diri, tapi Tristan percaya, tidak akan semudah itu Adira melupakan dirinya.
Tristan tersenyum bahagia karena sebentar lagi akan bertemu Adira.
Dia segera menyuruh sekretarisnya untuk memesan tiket pesawat menuju Solo. Dia juga menyuruh sekretarisnya untuk memesankan hotel terdekat di sana.
Karena pekerjaan yang masih menumpuk tidak memungkin Tristan untuk memesannya sendiri. Jadilah dia meminta bantuan sekretarisnya itu.
Bu Dewi dan pak Irawan saat ini sedang mengamati Adira dari dalam rumah.
Sejak tadi, Adira tampak melamun entah apa yang dipikirkannya.
Bu Dewi semakin tidak tega melihat wajah murung Adira.
“Apa kita kasih tau Tristan aja ya, Pa? Mama nggak tega liatnya,” ucap bu Dewi sedih.
“Begitulah definisi seorang wanita, sangat rumit namun selalu ingin di mengerti,” jawab pak Irawan sambil masih tetap fokus menatap Adira.
“Yang serius dong, Pa ... Mama lagi pengen serius.” ucap bu Dewi lagi dengan kesal.
“Memang benar kan, Ma. Bukannya di selesaikan dengan cara baik-baik, malah kabur jauh-jauh sampai Solo. Buruan udah jauh, eh ... Malah rindu,” ucap pak Irawan tergelak kencang hingga Adira mendengar suara papanya itu.
Bu Dewi menyengir kuda dan membenarkan ucapan suaminya.
“Iya juga ya, Pa.” Jawab Bu Dewi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Saat pak Irawan melihat Adira sedang bejalan mendekat, pak Irawan semakin mengeraskan suaranya, sengaja agar Adira mendengarnya.
“Kalau kangen tuh, tinggal ngomong aja. Kalau mau ketemu, ya tinggal telpon aja. Hidup kok di bikin ribet sama gengsi,” ucap pak Irawan sambil melirik Adira.
Ucapannya memang sengaja dia tunjukkan untuk Adira agar segera tersadar bahwa sudah cukup dia menyiksa dirinya sendiri.
Adira menunduk dan merasa, perkataan papanya memang ada benarnya. Adira terlalu meninggikan gengsi sampai menyiksa diri sendiri.
Jelas-jelas Adira tahu bahwa Tristan juga mencari dirinya.
Memang benar, wanita itu rumit.
“Apa aku kasih tahu kak Tristan aja ya, Pa, Ma? Tapi aku maunya kak Tristan yang datang duluan ke aku, Pa,” ucap Adira dengan bibir yang sudah cemberut.
Bu Dewi dan pak Irawan menghela nafas bersamaan. Kemudian, pak Irawan berkata lagi.
“Turunkan egomu sedikit saja, Ra.” ucap pak Irawan menasihati dengan lembut.
“Ini bukan masalah ego, tapi ini masalah harga diri, Pa,” jawab Adira menggebu-gebu.
“Sudah-sudah ... Jangan bertengkar. Kita makan dulu biar nggak pingsan,” ucap bu Dewi melucu.
“Mama!” pekik pak Irawan dan Adira bersamaan.
Pasalnya, mereka sedang membicarakan hal yang serius, tapi buyar sudah karena lawakan dari bu Dewi.
Kemudian, mereka tergelak bersamaan karena merasa lucu dengan sikapnya sendiri.
Setelah tawa reda, mereka semua berjalan masuk menuju ruang makan. Sudah waktunya makan siang, makanan juga sudah di siapkan di meja makan.
Setelah duduk di kursi, mereka mulai mengisi piring dengan lauk dan nasi.
Entah mengapa, Adira merasa selera makannya hilang siang itu.
Terlalu banyak memendam rindu kepada Tristan, membuat perutnya merasakan mual.
Apakah ini pertanda bahwa anaknya juga merindukan ayahnya?
Apa anaknya juga ingin di sentuh oleh ayahnya juga?
Mengingat nama Tristan, perut Adira semakin bergejolak. Padahal, bila mengingat usia kandungannya, sudah tidak seharusnya Adira mual muntah lagi.
Adira berusaha menahan gejolak yang ada di perutnya. Namun seakan sia-sia, makanan yang baru saja masuk ke perutnya sudah mau keluar lagi.
Adira segera berlari kecil menuju wastafel. setelah itu Adira memuntahkan semua isi perutnya itu.
"Uek ... uek ...."
Setelah itu, Adira merasa lega karena perutnya sudah tidak bergejolak.
Bu Dewi dan pak Irawan sudah khawatir sekali dengan kondisi Adira.
Namun, celetukan Adira malah membuat Bu Dewi dan pak Irawan geleng-geleng kepala merasa heran dengan sikap anaknya itu.
"Memang benar kata Dilan ya, jangan rindu, berat. Nanti kamu nggak kuat," ucap Adira di luar ekspetasi bu Dewi.
Pak Irawan dan Bu Dewi sampai tepuk jidat mendengar celetukan Adira yang sudah seperti orang mabuk.