Treat You Better

Treat You Better
102. Hidayah



Setelah memberitahukan kondisi dan keberadaan Adira kepada istrinya, pak Irawan sangat bahagia dengan perubahan bu Dewi yang kembali tersenyum.


Tanpa menunggu lama, bu Dewi segera menyuruh suaminya untuk bersiap karena akan menyusul Adira sekarang juga.


Bu Dewi sudah tidak sabar ingin menemui anak yang selama tiga bulan ini dia rindukan dan dia khawatirkan masalah kesehatannya.


Padahal, kesehatan dirinya juga kurang baik karena memikirkan Adira.


Begitulah seorang ibu, kadang lupa makan namun selalu menyuruh anaknya jangan sampai lupa makan dan menjaga kesehatan.


Cinta seorang ibu memang sepanjang masa.


Setelah selesai bersiap, bu Dewi langsung menarik suaminya agar segera berangkat menuju tempat Adira tinggal.


Mereka akan menggunakan pesawat agar bisa cepat sampai. Pak Budi lah yang bertugas mengantarkan atasannya itu menuju bandara.


Beruntung, sat pak Irawan mengecek tiket pesawat di lapak online, masih tersisa 10 tiket penerbangan ke Solo untuk penerbangan siang.


Tanpa menunggu lama, pak Irawan langsung memesannya.


Bu Dewi dan pak Irawan pergi tanpa memberitahukan Tristan ataupun keluarganya. Pak Irawan ingin menghargai keputusan Adira yang ingin menenangkan diri dulu.


Setelah waktunya tiba, dan Adira masih belum juga mau menemui suaminya, pak Irawan akan bertindak untuk hubungan keduanya.


Pak Irawan tidak akan membiarkan permasalahan anaknya semakin berlarut-larut dan semakin menjadikan banyak kesalahpahaman.


“Ayo, Ma. Pesawat sebentar lagi akan berangkat. Kita masuk sekarang aja,” ajak pak Irawan kepada bu Dewi untuk segera memasuki badan pesawat karena sebentar lagi pesawat akan berangkat.


Bu Dewi mengangguk dengan mantap. Dia mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam pesawat.


Sebentar lagi, bu Dewi akan bertemu dengan anak semata wayangnya. Dia sudah tidak sabar untuk itu.


..........


Amanda dan Doni beserta Echa, mereka bertiga saat ini sedang berada di kediaman keluarga Wijaya.


Mereka sengaja meluangkan waktu untuk melihat keadaan kakaknya yang masih terpuruk atas kepergian Adira yang masih belum diketahui keberadaannya.


“Gimana? Apa orang suruhan kalian sudah mengetahui keberadaan Adira?” tanya Tristan sesaat setelah Doni dan Amanda baru sampai.


Amanda berdecak sebal dengan tingkah abangnya itu. Mereka datang bukannya di sapa terlebih dahulu malah langsung diberi pertanyaan yang sampai sekarang belum ada jawabannya.


“Mereka ada menemukan ponsel Adira sudah di jual di daerah Jakarta. Adira sepertinya paham apabila dia membawa ponselnya, keberadaannya akan sangat mudah dilacak. Sehingga dia menjualnya,” terang Doni menjelaskan informasi yang baru saja dia dapat dari orang kepercayaannya.


“Adira lebih pintar dari yang aku kira ternyata,” ucap Amanda memuji dengan bangga terhadap rencana Adira yang begitu tersusun rapi sehingga keberadaanya tidak bisa di ketahui dengan jelas.


“Iya pintar, tapi jadi susah aku nyarinya.” ketus Tristan tidak terima dengan ucapan Amanda.


“Bagus dong. Itu tandanya, Adira ingin menguji seberapa besar cinta Abang ke Adira,” ucap Amanda tanpa beban.


Tristan tidak menanggapi ucapan Amanda karena sedang malas berdebat.


“Mama Dewi sama papa Irawan belum tahu juga, di mana keberadaan Adira?” tanya Doni memastikan.


“Terakhir, mama udah nanya tapi mereka belum tahu juga. Adira kaya ngilang tanpa jejak. Harusnya Adira jangan begini. Kalau marah atau kecewa sama aku tuh, mending tonjok aku atau diemin aku selama mungkin. Yang terpenting jangan pergi ninggalin aku sendirian seperti ini,” ucap Tristan mengeluarkan unek-uneknya.


Amanda dan Doni saling melempar pandang. Mereka sudah membantu mencarikan keberadaan Adira. Namun sampai sekarang belum juga menemukan titik temunya.


Amanda bisa mengerti perasaan kakaknya yang merasa sangat kehilangan Adira.


Keadaanya jadi terpuruk dan tidak bersemangat dalam menjalani hidup.


Bisa di bilang, Tristan sudah seperti mayat hidup yang kehilangan semangat hidupnya.


“Tenang aja. Kalau memang kalian berjodoh, pasti kalian akan di pertemukan lagi,” ucap Doni puitis.


“Tapi sampai kapan?” tanya Tristan frustasi.


Doni tidak menjawab. Dia juga tidak tahu sampai kapan masalah ini akan berakhir.


Tidak ada yang tahu jawabannya kecuali yang Maha Kuasa Pencipta alam semesta.


“Aku punya saran buat Abang. Aku tahu, aku juga belum bisa menjalankan kewajibanku sebagai umat-Nya. Tapi, ada baiknya kalau Abang lebih rajin lagi beribadah dan berdoa kepada Allah SWT. Karena Dia-lah yang Maha membolak-balikkan hati manusia,” ucap Amanda yang mulai religius.


Doni sampai menatap istrinya itu dengan tatapan terpukau karena ucapan religiusnya memang benar adanya.


Jika ingin mendekati hamba-Nya


Dekati dulu Tuhannya.


Begitulah sekiranya kata-kata mutiara yang bisa menggambarkan maksud dari ucapan Amanda.


Tristan tampak terdiam untuk mencerna ucapan Amanda.


Bila di ingat, Tristan memang tidak pernah melaksanakan kewajibannya sebagai hamba yang taat kepada Tuhannya.


Dia hanya melakukan sholat seminggu sekali yaitu sholat Jumat.


Tristan sampai lupa kapan terakhir kali melakukan sholat lima waktunya.


Tristan jadi tersadar, ada hikmah di balik masalah dalam rumah tangganya.


Mungkin saja, Allah SWT ingin dirinya lebih dekat lagi dengan-Nya. Karena selama ini, Tristan terlalu sibuk dengan urusan dunia dan mengesampingkan akhiratnya.


“Kamu memang benar, Man. Aku sudah terlalu jauh dengan Allah. Mungkin Allah ingin memberiku pelajaran agar aku tidak hanya mementingkan urusan dunia. Bahkan, aku sampai lupa mengajari Adira untuk memikirkan akhiratnya. Aku sudah terlalu banyak dosa,” ucap Tristan sambil meneteskan air mata, karena teringat akan dosa-dosa.


Amanda dan Doni tersenyum bangga melihat Tristan yang mau mengakui kesalahannya.


“Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri selagi nyawa masih ada dalam raga, Bang,” ucap Doni puitis. Tangannya dia gerakkan untuk menepuk pundak Tristan pelan guna menyalurkan ketenangan di sana.


Tristan mengangguk dan tersenyum.


“Terima kasih ya, Man. Aku merasa malu pada diriku sendiri. Umur memang aku lebih tua dari kamu, tapi masalah kedewasaan, sepertinya aku masih tertinggal jauh,” ucap Tristan sambil menatap adiknya itu.


Dia merasa bersyukur masih mempunyai keluarga yang mau mendukungnya dalam keadaan apapun.


“Cuma Amanda aja nih, yang dikasih terima kasih ... Aku nggak?” ucap Doni bermaksud menggodai.


“Iya, terima kasih juga karena Lo udah Sudi jadi ipar Gue,” ucap Tristan sambil tersenyum.


Kemarin, Tristan masih merasa berat sekali memikirkan masalah rumah tangganya.


Setelah mendengar nasihat dari adiknya, Tristan merasa beban pikirannya seakan berkurang. Tambah ringan lagi saat dirinya mengingat Tuhannya.


Mulai hari ini, Tristan akan merubah prinsip hidupnya. Dia akan menyerahkan semuanya kepada yang Maha Kuasa.


Dia akan selalu berusaha dan berdoa agar bisa cepat bertemu dengan Adira sehingga, masalah rumah tangganya bisa segera terselesaikan.


Tristan sudah tidak tahan bila harus berjauhan terlalu lama dengan istri pengertiannya. Istri yang begitu perhatian kepadanya.


Tristan akan meminta petunjuk kepada Allah SWT agar memberikan jalan yang terbaik untuk perjalanan rumah tangganya.


Tidak terasa, azdan ashar telah dikumandangkan di masjid dengan pengeras suara.


“Udah ashar nih. Aku mau sholat dulu kalau gitu,” ucap Tristan antusias.


Kemudian, tanpa menunggu jawaban dari Amanda dan Doni, Tristan segera berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya berada. Dia akan melaksanakan sholat ashar di kamarnya.


Amanda dan Doni sampai terpelongo dengan niat Tristan untuk merubah diri benar-benar akan di mulai saat ini juga.


Secepat itukah?


“Mungkin Allah sudah memberikan hidayah kepada bang Tristan,” ucap Amanda yang sudah sadar dari rasa terkejutnya.


Doni menoleh dan mengangguk menyetujui ucapan Amanda.


“Kita juga sholat yuk. Mumpung Echa lagi keluar sama mama, kita berjamaah aja,” ajak Doni sambil tersenyum menatap istrinya itu.


Amanda mengangguk dan tersenyum bahagia. Kemudian mereka pergi ke kamar untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat ashar berjamaah kala sore itu.