
Setelah dua jam bergumul dalam kemacetan, akhirnya Tristan sampai juga di rumahnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore dan azan Maghrib telah berkumandang sejak tadi.
Setelah mobilnya masuk ke dalam garasi, Tristan segera turun dan masuk lewat pintu samping yang menghubungkan ruang tengah dengan garasi.
Tujuannya agar bisa cepat bertemu Adira.
Tristan segera menaiki anak tangga saat tidak melihat Adira berada di ruangan bawah.
Saat sudah sampai di depan kamarnya, Tristan membuka pintu dengan pelan.
Saat pintu sudah terbuka, Tristan melihat sekeliling kamarnya dan tetap tidak menemukan Adira.
“Adira ....” ucap Tristan memanggil nama Adira.
“Adira ....” Tristan berucap lagi. Namun tetap saja tidak ada jawaban.
Tristan semakin panik dan ketakutan bila Adira pergi lagi dari rumah seperti waktu itu.
Tristan juga sempat memeriksa kamar mandi, namun Adira tidak ada di sana.
Kemudian, Tristan turun kembali barang kali tadi Tristan tidak terlalu teliti saat mencari Adira.
Setelah berhasil menuruni anak tangga, Tristan langsung mencari Adira di mana-mana.
Nihil.
Tristan tidak menemukan Adira di manapun dalam rumahnya.
Tristan teringat ponselnya, lalu dia segera mencari nomor Adira di sana dan mendial panggilan.
Tut ... Tut ... Tut ...
Panggilan telepon tersambung namun Adira tidak segera mengangkatnya.
“Ke mana kamu sebenarnya, Ra.” lirih Tristan frustasi.
Berulang kali Tristan menghubungi Adira, namun hasilnya tetap sama dan tidak ada jawaban.
Dia menjambak rambutnya dan mengusap wajahnya kasar.
Tristan terduduk lemas di lantai ruang tengah rumahnya.
Dia benar-benar menyesali keputusannya datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Sindy.
Seandainya waktu bisa di ulang, Tristan ingin memilih menemani Adira pulang saja. Ini merupakan tamparan bagi Tristan.
Saat sedang menangisi ketiadaan Adira di rumah, pintu terbuka dari arah depan.
Ceklek.
Tristan tidak mendengar bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam rumahnya karena terlalu larut dalam sedihnya.
Seseorang tersebut mengernyit heran dengan keadaan Tristan yang terlihat begitu berantakan dan menyedihkan.
Kemudian, seseorang tersebut berjalan mendekati Tristan yang terduduk di lantai dengan wajah menunduk.
Saat sudah sampai di hadapan Tristan, seseorang tersebut ikut duduk di lantai untuk menjajarkan tubuhnya dengan tubuh Tristan.
Saat menyadari ada seseorang di hadapannya, Tristan mengangkat kepala dan menatap orang tersebut.
Wajah yang semula sedih telah berganti menjadi senyum bahagia.
“Adira ....” ucap Tristan tersenyum haru. Bahkan, di sudut matanya masih ada sisa-sisa air mata di sana.
“Kakak kenapa?” tanya Adira kebingungan, dia menatap penampilan Tristan dari atas hingga bawah.
Tanpa menunggu lama, Tristan segera membawa tubuh Adira ke dalam pelukannya.
“Maafin aku, Ra. Maafin aku.” gumam Tristan masih dalam kondisi berpelukan.
Ya, seseorang tersebut adalah Adira.
Dia keluar rumah untuk membeli makanan yang di inginkan oleh bayinya.
Adira langsung melepas pelukan itu dengan kasar. Lalu dia berdiri dan meninggalkan Tristan begitu saja dengan kondisi masih terduduk di lantai.
Dia masih kesal dan kecewa dengan suaminya yang meninggalkannya dan menyuruhnya pulang menggunakan taksi.
Dia segera melangkahkan kakinya menuju dapur dengan membawa kantong kresek di tangannya.
Tristan menghela nafasnya panjang dan menatap Adira yang berlalu menuju dapur.
Tristan tahu bahwa Adira pasti masih marah dengannya. Tapi itu tidak masalah bagi Tristan. Yang terpenting, dugaan bahwa Adira pergi dari rumah tidaklah benar.
Tristan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa malu kepada diri sendiri.
Di sampai tersenyum bodoh karena telah menganggap Adira kabur lagi.
Setelah itu, Tristan berdiri dan berjalan menyusul Adira. Bagaimanapun caranya, Tristan harus bisa membujuk istrinya itu.
Hidup tidak akan tenang dan damai bila sang istri sedang dalam mode merajuk.
Setelah sampai di dapur, Tristan melihat Adira sedang menuangkan bakso ke dalam mangkok.
Aroma sedap terendus di indra penciuman Tristan.
Kemudian, Tristan duduk berhadapan dengan Adira yang sudah duduk anteng sambil menyuapkan bakso ke dalam mulutnya.
Adira pura-pura tidak melihat kehadiran Tristan di hadapannya. Dia fokus untuk menyantap bakso yang sudah dia idam-idamkan dari siang tadi dan baru kesampaian untuk memakannya malam itu.
“Bakso itu kamu beli sendiri di mana, Ra?” tanya Tristan sambil menatap Adira yang begitu lahapnya memakan bakso.
Adira tetap diam dan tidak menjawabnya. Kemudian Tristan bertanya lagi.
“Kenapa kamu nggak bilang aku aja. Aku kan bisa beliin buat kamu,” ucap Tristan lagi. Dia akan mencoba merayu Adira untuk bisa memaafkannya.
Adira menghentikan kegiatan makannya dan beralih menatap Tristan dengan tatapan datar.
“Cek HP.” ucap Adira sangat datar dan menatap dingin mata Tristan.
Tristan menurut, dia mengecek ponselnya dan benar saja, ada puluhan panggilan tak terjawab dari Adira.
Padahal tadi, saat Tristan mencoba menghubungi Adira, dia tidak melihat panggilan tidak terjawab itu. Mungkin karena efek saking paniknya.
“Maafin aku, Ra.” ucap Tristan menyesal.
“Maaf nggak bisa merubah semua yang sudah terjadi,” jawab Adira masih datar.
Dia segera menyudahi acara makannya karena selera makannya tiba-tiba menguap entah ke mana.
Dia meninggalkan semangkok bakso yang masih banyak karena baru beberapa yang dia makan.
Kemudian, Adira berdiri dari duduknya dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Tristan langsung menyusul dari belakang dan mencekal pergelangan tangan Adira.
“Tolong jangan begini, Ra. Bicara sama aku, luapin semua kekesalan kamu. Jangan hanya diam karena itu sangat menyakiti hati aku,” ucap Tristan yang nadanya mulai terlihat kesal karena dia tak kunjung mau berbicara dengannya.
Adira tersenyum kecut mendengar ucapan suaminya itu. Lalu dia berkata.
“Lebih sakitan mana di saat aku sedang mual muntah hingga lemas, aku hanya sendiri padahal aku punya suami. Di saat aku ngidam pengen makan sesuatu, aku mesti cari sendiri untuk memenuhi keinginan anakku yang belum lahir, padahal aku punya suami,” ucap Adira yang matanya mulai berkaca-kaca.
Nada bicaranya terdengar bergetar di akhir kalimat. Ucapan Adira begitu tenang namun di dalamnya terdapat luka yang sangat dalam.
Tristan lagi-lagi merasa tertampar karena ucapan Adira. Sebagai seorang suami, Tristan merasa gagal dan tidak berguna.
Wajar, jika Adira sangat marah dengan dirinya dan berujung mendiamkannya.
“Ke mana kakak selama ini?! Aku mencoba memahami keadaan kakak yang sedang sibuk bekerja dari pagi hingga pulang malam. Aku menghargai itu. Tapi, bisakah sedikit saja kakak luangkan waktu untukku sebentar saja seperti dulu?” ucap Adira dengan berderai air mata.
“Aku selama ini diam bila kakak pulang hingga malam padahal jam kantor pulang pukul lima. Aku nggak tahu urusan kakak setelah jam kantor selesai itu ada urusan apa, tapi aku mencoba selalu percaya,” ucap Adira sambil menatap mata Tristan penuh luka. Air matanya masih deras mengalir dari kedua sudut matanya.
“Aku memang bodoh,” ucap Adira sambil tersenyum miris.
Lidah Tristan kelu, tenggorokannya terasa tercekat mendengar segala kebenaran yang Adira ucapkan.
Adira memang benar. Sudah hampir satu bulan ini, Tristan tidak pernah selalu ada di samping Adira.
Tristan merasa, dirinya sudah tidak berguna lagi dan bukan suami yang baik untuk Adira.
Tapi, bukankah Tristan masih punya kesempatan untuk berubah?
“Maafkan aku, Ra. Bisakah kamu memberiku satu kesempatan lagi untuk merubah semuanya? Kita bisa perbaiki semuanya,” ucap Tristan memohon sambil menggenggam jemari Adira.
Adira semakin terisak. Bagaimana bisa Adira hidup tanpa Tristan? Adira tidak akan bisa.
Saat Tristan meminta satu kesempatan untuk berubah, dengan senang hati Adira akan memberikannya karena rasa sayang dan cinta untuk Tristan bukanlah sekedar rasa cinta biasa.
Adira mengangguk dengan sisa air matanya.
Kemudian, Tristan memeluk tubuh Adira lagi. Dia berjanji tidak akan membuat Adira terluka lagi.
Pertemuannya dengan Sindy akan segera Tristan akhiri. Tidak ada lagi kata mengasihani untuk seseorang seperti Sindy.
Namun, seindah dan serapat apapun seorang manusia menyusun rencana, rencana Tuhan lah yang tetap berkuasa.
Kita tidak akan tahu hidup kita kedepannya akan seperti apa. Tapi, kita bisa melihat sedikit gambarannya dari perbuatan kita di masa lalu dan masa kini.