Treat You Better

Treat You Better
Aku nggak mau jadi janda!



 


“Elvan nggak papa kok Ra. Dia udah baik-baik aja” ucap Bu Siska yang memang sudah berada di ruangan Tristan dan menungguinya.


Adira reflek menoleh dan meringis. Dia sampai lupa jika Tristan juga pasti ada yang menunggu.


“Maaf tante. Sampe lupa nggak nyapa Tante dulu. Aku khawatir banget soalnya sama kak Tristan” ucap Adira dengan senyum kikuknya.


“nggak papa Ra. Tante ngerti kok.” Jawab Bu Siska memaklumi.


“Eh kak, terus si Elvan sekarang kemana? Kok bisa ada yang nolongin?” tanya Adira penasaran.


“dia udah di bawa sama polisi. Randy kakaknya Elvan yang bantuin kita. Dia yang manggil polisi buat datang” ucap Tristan menjelaskan.


Mata Adira membulat sempurna. Kak Randy? Membantunya?.


“Maafin aku ya Kak. Gara-gara aku kakak jadi sasaran Elvan.” Ucap adira sambil menunduk merasa bersalah.


“ini bukan salah kamu Ra. Emang si Elvan ya aja yang obsesif” ucap Tristan menenangkan.


“Udah sini peluk dulu” ucap tristan tanpa rasa malu.


Adira menoleh ketempat dimana ibu dan ibu Tristan berdiri, dia merasa malu. Mengapa Tristan tidak sama sekali?.


Bu Siska dan Bu Dewi hanya mengulum senyum dan pamit ijin keluar. Mereka akan memberi waktu dua manusia itu untuk bicara dan menyelesaikan masalahnya


“kalau gitu mama sama tante Dewi keluar dulu Tris. Kalo kamu macem-macem, awas!” ucap Bu Dewi memperingatkan. Matanya melotot dan menatap tajam Tristan.


Sedangkan yang ditatap malah terkekeh. Bu Dewi juga hanya bisa terkekeh. Sedangkan Adira, dia jelas merasa sangat malu semalu malunya.


“Sini dong peluk. Aku susah ini pakai infus” ucap Tristan lagi setelah dua wanita paruh baya itu keluar.


Adira tersenyum dan berhambur memeluk Tristan.


“aku takut banget beneran deh kak. Elvan tuh udah kaya psikopat nggak sih” ucap Adira masih dalam pelukan Tristan.


“Ya gitu lah. Mungkin dia ngerasa kehilangan kamu dan penyebabnya karena aku. Jadilah dia manusia seperti itu” jawab Tristan menjelaskan. Tangannya masih mengelus lembut Surai hitam milik Adira


“Dia udah di tahap sakit jiwa itu. Eh ceritain dong gimana kita bisa sampai disini dengan selamat. Aku penasaran” ucap Adira melepas pelukan dan menatap Tristan.


Dia memang sudah duduk di satu ranjang dengan Tristan.


“Makanya jangan pingsan dulu. Drama belum selesai malah udah pingsan” ucap Tristan dengan nada mengejek.


“Ya aku kan takut kalau kakak di tembak terus mati gimana coba? Aku kan nggak mau jadi janda” ucap Adira dengan bibir sudah maju lima Senti.


Tristan tertawa mendengar jawaban Adira.


“Janda kamu bilang? Nikah aja belum udah jadi janda” sahut Tristan dengan tertawa.


“Hehehe iya ya. Berarti jomblo dong” ucap Adira dengan bodohnya.


Pletak!.


Tristan menjitak dahi Adira. Mengapa Adira malah membahas kematian apa Adira mendoakannya agar cepat mati? Ck.


.........


Setelah satu hari dirawat di rumah sakit, Tristan dan Adira akhirnya diperbolehkan untuk pulang.


Kondisi Adira baik-baik saja. Jadi dia memilih menemani Tristan di rumahnya.


Dia tetap merasa bersalah. Keadaan Tristan yang sekarang ini adalah karena ada sangkut paut dengannya.


Terlepas dari itu semua, Adira memang tulus ingin merawat dan menemani Tristan.


Seperti sekarang ini, Adira sedang berada di rumah Tristan. Keadaan rumah begitu sepi karena Om Hendra sedang ke kantor sedangkan Tante Siska, dia sedang menghadiri arisan.


Dirumah hanya ada Amanda yang sama libur kuliah dengan Adira.


“man, kak Tristan belum bangun juga ya?” tanya Adira pada Amanda. Berulang kali Adira menatap pintu kamar Tristan, namun tak kunjung terbuka.


 Mereka sedang duduk di depan tv. Padahal Adira sudah datang satu jam yang lalu. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, namun belum ada tanda-tanda Tristan bangun dari tidurnya.


“Kayaknya belum deh Ra. Kebo sih dia hahaha” jawab Amanda nyeleneh.


“Berarti Lo adek kebo dong hahaha” timpal Adira tak kalah nyeleneh.


“Bangunin aja Ra. Sampai jam dua belas siang pun mungkin nggak akan bangun tuh” ucap Amanda memberi saran.


“nggak papa emangnya?” tanya Adira hati-hati


“nggak papa lah. Naik aja ke kamarnya” ucap Amanda lagi.


Kemudian Adira berpikir sejenak. Tapi ide Amanda ada benarnya juga. Okelah, Adira akan membangunkan Tristan


“gue bangunin kebo dulu ya hehe” ucap Adira yang mendapat kekehan dari Amanda.


“Pacar sendiri dibilang kebo” kekeh Amanda lagi sambil geleng-geleng kepala.


Tok. Tok. Tok.


Adira mengetuk pintu kamar Tristan. Namun belum juga ada sahutan dari dalam.


Tok. Tok. Tok.


Adira mencoba mengetuk lagi namun masih sama, tidak ada sahutan dari dalam.


Akhirnya Adira memilih langsung memutar knop pintu. Beruntung tidak dikunci.


Adira menyembulkan kepala di balik pintu. Dia masih melihat Tristan masih berguling dengan selimutnya.


Akhirnya Adira memilih membuka pintu lebar-lebar dan masuk ke dalam untuk membangunkan Tristan.


“Kak... Bangun dong. Udah siang ni” ucap Adira sambil menepuk pelan pipi Tristan.


Respon Tristan hanya mengerang dan matanya masih terpejam.


“Kak, udah siang Lo. Aku bela-belain kesini buat kakak. Tapi kakak malah masih tidur” ucap Adira lagi. Dia kini sudah beralih menggoyang-nggoyangkan tubuh Tristan.


“Bentar lagi ..” gumam Tristan matanya masih terpejam.


“Nanti rejekinya di patok ayam Lo kan kalau bangun siang” ucap Adira lagi .


Tristan mengulas sebuah senyum. Dia sudah bangun dari sejak Adira mengetuk pintu. Namun dia masih enggan untuk membuka matanya.


“Ayam siapa yang mau matok rejeki aku?” tanya Tristan setelah berhasil mengumpulkan nyawanya.


“Ayam tetangga hehehe. Kan aku nggak punya ayam.” Jawab Adira terkekeh.


Tristan tersenyum dan mengacak rambut Adira gemas.


“Pagi ini rasanya indah banget. Karena bangun langsung disuguhkan wanita cantik yang aku cintai” ucap Tristan tersenyum sambil berusaha duduk di ranjang.


Adira yang masih dalam posisi berdiri akhirnya duduk di pinggir ranjang tepat dihadapan Tristan.


“Pagi-pagi udah gombal. Mandi gih biar nggak bau iler. Nanti aku bikinin sarapan” ucap Adira memerintah.


“mandiin...” rengek Tristan manja.


Adira tertawa dan memukul lengan Tristan pelan.


“Nggak usah aneh-aneh deh. Buruan mandi kak.” Ucap Adira kesal.


“Oke aku mandi.” Tristan akhirnya bangkit dan turun dari ranjang.


Cup.


Tristan menyambar bibir Adira sekilas dan langsung berlari masuk ke kamar mandi.


Adira terkejut, namun itu hanya sebentar dan berganti dengan semu merah di pipinya.


‘kak tristan ada aja ulah manis nya. Jadi makin cinta” ucap Adira tersenyum dalam hati.


Sedangkan Tristan, dia tidak bisa berhenti tersenyum. Bangun tidur langsung melihat Adira membuat semangatnya meningkat.


Rasa sakit di wajah nya akibat luka lebam seakan sudah tidak terasa lagi.


Adira segera turun dan menuju dapur. Dia akan membuatkan sarapan untuk Tristan.


Untungnya Adira selalu membantu mamanya memasak, jadi itu tidak menjadi masalah.


Karena Adira sudah lumayan mahir untuk urusan dapur.