
Saat ini, Tristan dan Adira sudah berada di sebuah restoran karena ajakan Elvan.
Aura mencekam seakan menghiasi meja yang mereka pesan karena Tristan menatap Elvan dengan tatapan tajam, setajam silet.
Elvan tidak merasa keberatan jika Tristan sangat membencinya. Dia memang pantas dibenci karena perbuatannya dulu yang tidak berakhlak.
Adira yang melihat Tristan dipenuhi amarah saat menatap Elvan, dia menggenggam tangan Tristan.
Saat Tristan sudah lebih tenang, dia membuka bicara.
“Ada apa?” tanya Tristan datar.
Elvan berdehem sebelum memulai pembicaraan.
“Aku mau meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan. Mungkin semua perbuatannya sudah keterlaluan, tapi bisakah kalian memberiku satu kesempatan untuk memperbaiki diri lebih baik lagi? Aku sangat berharap, kalian akan berbaik hati memberikan aku kesempatan itu,” ucap Elvan langsung ke intinya.
Kepalanya menunduk menatap tangannya ya dia pilin.
Setelah mendengar penuturan dari Elvan, Tristan akhirnya bisa sedikit bernafas dengan lega. Kemudian, Tristan menjawab permintaan maaf Elvan.
“Semua sudah berlalu dan aku sudah melupakan semua kesalahanmu. Tapi jika boleh bertanya, apa kamu pernah bertemu Adira belum lama ini?” tanya Tristan malah mengubah topik pembicaraan.
Sebenarnya, Tristan ingin mengetahui lebih jelas tentang pertemuan Adira dan Elvan saat berada di sebuah kafe.
Adira yang mendengar ucapan Tristan di awal, sangat tidak percaya bahwa Tristan akan semudah itu memaafkan.
Tapi setelah mendengar pertanyaan Tristan, Adira memutar bola matanya malas sambil mendengus sebal.
Sepertinya, rasa cemburu di hati Tristan tentang pertemuan Adira dan Elvan bel benar-benar hilang hingga harus menanyakan langsung oleh yang bersangkutan.
Elvan berpikir sejenak untuk mencerna ucapan Tristan. Karena tak kunjung menemukan jawaban di otaknya, Elvan memilih bertanya lebih lanjut.
“Maksud kamu apa ya?” tanya Elvan yang memang tidak tahu menahu.
Adira yang sudah malas menjelaskan berkali-kali bahwa antara dirinya dan Elvan sudah tidak ada hubungan apapun selain pertemanan, hanya memilih diam mendengarkan kedua lelaki itu berbicara.
Kemudian, Tristan terlihat merogoh saku celananya untuk mencari benda persegi yang bisa dibawa ke mana-mana.
Tristan mencari sesuatu di dalam ponselnya. Setelah apa yang dicarinya ketemu, dia segera membalikkan layar ponselnya menghadap Elvan dan berkata.
“Maksud aku yang ini,” ucap Tristan kemudian.
Elvan memperhatikan foto yang berada di ponsel Tristan dengan serius.
Memang benar, itu adalah foto dirinya dengan Adira saat bertemu di kafe sekitar dua bulan yang lalu. Namun yang menjadi pertanyaan Elvan, siap yang telah mengambil foto keduanya secara diam-diam?
Sudah terlihat jelas jika foto itu di ambil dari jarak jauh.
“Kamu dapat dari mana foto itu?” tanya Elvan mencoba memecahkan kebingungannya.
“Jawab dulu pertanyaanku,” ucap Tristan datar dan sangat dingin.
Elvan menghela nafasnya dalam-dalam sebelum kembali bicara.
“Memang sedikit susah menghadapi seseorang yang sedang cemburu,” gumam Elvan berdecak sebal dalam hati.
Kemudian, Elvan menjelaskan pertemuannya dengan Adira yang tidak di sengaja. Elvan juga menjelaskan bahwa dia mengajak Adira ke kafe hanya agar pembicaraan mereka bisa lebih santai. Tidak ada maksud lain selain meminta maaf kepada Adira.
Dia juga menceritakan bahwa sudah berkali-kali Elvan ingin bertemu Tristan di Adira sewaktu masih di penjara. Elvan telah mengatakannya kepada pengacara keduanya.
Namun, selama itulah Elvan tidak pernah di pertemukan oleh keduanya.
“Karena aku ingin hidup dengan tenang dan memulai semuanya dari awal. Setelah ini, aku akan pergi ke Singapura untuk ikut bisnis papa yang ada di sana. Aku berjanji tidak akan menganggu kehidupan kalian lagi. Aku menyesal yang sebesar-besarnya untuk setiap perbuatan dosa yang aku lakukan. Sekali lagi, tolong maafkan aku,” ucap Elvan menjelaskan.
Dia juga meminta maaf untuk yang kesekian kali. Dia sadar, bahwa beribu-ribu maafpun tidak akan membuat semua kembali seperti semula.
Ibarat gelas yang pecah, sudah tidak mungkin bisa kembali utuh bila di satukan kembali pun, pasti akan terlihat retakannya.
Begitulah kira-kira. Walaupun Tristan dan Adira sudah memafkannya, namun mereka tidak akan pernah melupakan semua kejadian yang telah menimpa keduanya yang di sebabkan oleh Elvan.
Melihat ketulusan dan kesungguhan Elvan, Tristan paham bahwa Elvan sepertinya telah berubah.
Adira sampai berkaca-kaca mendengar ketulusan dari ucapan Elvan.
Elvan sudah berubah lebih baik dari sebelumnya. Adira tersenyum sendu melihat Elvan yang pemikirannya mulai dewasa dan tidak labil seperti dulu.
“Aku dan kak Tristan sudah memafkan kamu. Tidak akan baik bila kita hidup dalam rasa dendam,” ucap Adira tersenyum hangat.
“Iya. Maaf karena tadi aku sempat salah paham dengan pertemuan kamu sama Adira,” timpal Tristan sambil menggaruk hidupnya yang tidak gatal.
Elvan dan Adira terkekeh bersama melihat Tristan bersikap seperti orang bodoh.
“Nggak papa, wajar jika kamu cemburu melihat foto istrinya sedang bersama laki-laki lain,” ucap Elvan sambil tersenyum meledek ke arah Tristan.
“Tuh dengerin. Aku kan sudah bilang berkali-kali bahwa tidak ada apapun antara aku dan Elvan,” sambung Adira yang menyetujui ucapan Elvan.
“Iya maaf, Sayang.” jawab Tristan, lalu dia mengecup bibir Adira sekilas tanpa rasa malu di hadapan Elvan.
Jantung Elvan seakan mau copot melihat Tristan yang tiba-tiba mencium Adira di depan matanya yang notabene adalah seorang jomblo.
Mata Elvan melotot seakan mau lepas dari tempatnya.
“Ngomong-ngomong, apa kalian tahu siapa yang mengirim foto aku dan Adira? Tujuannya tidak lain pasti untuk membuat hubungan kalian renggang bukan?” tanya Elvan mulai berbicara serius.
Tristan langsung menegakkan tubuhnya. Pembicaraan mungkin akan berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya.
Adira juga melakukan hal yang sama.
“Emang kak Tristan sama sekali nggak tahu, yang ngirim itu nomor siapa?” tanya Adira menginterogasi.
“Aku nggak tahu karena nomor itu tidak dikenal,” ucap Tristan yang nada suaranya melirik di akhir kalimat.
Dia teringat seseorang yang begitu nekat ingin kembali dengan dirinya.
Seketika nama Sindy terbesit di pikiran Tristan. Tristan langsung terdiam setelah mengingat satu nama itu. Dia harus berhati-hati dengan orang bernama Sindy itu.
“Apa kakak tahu sesuatu?” tanya Adira saat wajah Tristan berubah dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Tristan menggeleng ragu-ragu menjawab pertanyaan Adira.
Sedangkan Elvan, dia menangkap gelagat aneh dari Tristan yang seperti sudah mengetahui siapa yang telah mengirimkan foto Adira dan dirinya waktu itu.
Namun karena tidak mau ikut campur terlalu jauh, Elvan memilih diam dan berkata.
“Ada baiknya, kalian lebih berhati-hati dan tidak mudah percaya dengan omongan maupun sangkaan orang luar,” ucap Elvan tulus memberi saran.
Adira dan Tristan mengangguk membenarkan ucapan Elvan yang memang ada benarnya.
Kunci suatu hubungan agar tetap langgeng adalah kepercayaan. Jika kepercayaan dalam rumah tangga sudah tidak ada atau rapuh, maka hubungan tidak akan berjalan dengan lancar.
Akhirnya, mereka berdamai setelah perseteruan mereka yang cukup pelik dan lama itu.