Treat You Better

Treat You Better
Direndahkan.



 


Deru suara mobil milik Tristan menggema di parkiran rumah sakit.


Mereka sampai tepat pukul sembilan kurang lima belas menit.


Itu artinya, lima belas menit lagi jam besuk akan tiba.


Karena belum buka, Adira dan tristan memilih menunggu di dalam mobil.


Tristan sudah melepas seatbelt,nya begitu juga Adira.


“Yakin nih mau nunggu di mobil aja?” tanya Adira memastikan.


“Yakin dong. Kan masih ada waktu lima belas menit lagi” jawab Tristan sambil tersenyum licik.


Adira jelas tau senyum semacam itu. Senyum mesum yang selalu Tristan tunjukkan di hadapannya.


Adira langsung mengalihkan pandangan ke luar jendela. Dia bergidik ngeri.


“Ya udah. Tunggu aj.... Auw...!” ucap Adira diakhiri pekikan.


Bagaimana tidak, Tristan langsung mendekap pinggang Adira begitu erat.


Adira tentu saja terkejut.


Wajah mereka saat ini begitu dekat. Dan Adira tidak bisa berlama-lama dalam posisi seperti ini.


Ini tidak akan baik bagi kesehatan jantungnya.


Pandangan keduanya pun terkunci.


Otak Adira mengatakan harus menolak karena berada di tempat umum. Tapi tubuhnya seakan berkhianat.


Pandangan Tristan beralih kepada bibir ranum milik Adira yang bagian bibir bawahnya terbelah.


Itu sungguh menggoda iman seorang Tristan yang mempunyai iman lemah.


Perlahan tapi pasti, Tristan memajukan wajahnya.


Saat hidung keduanya sudah saling menempel, tanpa di duga justru Adira lah yang pertama kali melabuhkan kecupan di bibir Tristan.


Nah kan...


Tadi aja nolak. Sekarang nggak bisa ngelak.


Tristan langsung membalas dan meraup bibir menggoda itu dengan lembut namun tetap membangunkan gairah.


AC di dalam mobil seakan sudah tidak berfungsi dengan baik. Keadaan di dalam mobil menjadi panas menggelora.


Keduanya larut dalam adegan tarik-ulur lidah.


Ciuman Tristan turun ke leher dan mengecup tiap jengkal kulit Adira.


“Emh...” lenguh Adira.


Tristan seakan mendapat bahan bakar tambahan saat mendengar lenguhan Adira.


Adira begitu wangi. Wangi lavender yang benar-benar sangat Tristan sukai.


Tristan beralih ke bibir Adira lagi.


Tangannya tidak tinggal diam. Dia menelusup kan tangannya ke dalam dress Adira.


Dia mengelus paha mulus milik Adira.


Adira merasa bisa gila jika terus seperti ini.


“Kak... Udah...” ucap Adira yang suaranya terdengar seperti *******.


Adira ingin segera mengakhiri semua sebelum Tristan bertindak lebih jauh lagi.


Tristan pun berdecak kesal. Namun tak urung dia menghentikan aksinya.


Dia mengecup pipi kanan kiri Adira dan berakhir di kening Adira cukup lama.


Sudah lama mereka tidak melakukan itu. Tristan benar-benar merindukan bibir manis milik Adira


“Maaf ya” ucap Tristan lembut.


“Nggak papa. Yuk turun udah masuk jam sembilan nih” ucap Adira sambil merapikan rambut dan juga dressnya.


Tristan pun mengangguk dan keluar dari mobil.


Dia berniat membukakan pintu untuk Adira.


Adira yang mendapat perlakuan itu pun tersenyum manis dan keluar dari mobil.


Keduanya berjalan beriringan menuju ruangan dimana kenrick di rawat.


Saat sudah sampai, Tristan mengetuk pintu ruangan sedangkan Adira, dia berada di belakang Tristan sambil menggandeng tangan Tristan.


Tok. Tok. Tok.


Ceklek.


Pintu terbuka dan menampilkan Sindy yang sudah tersenyum manis menatap Tristan.


“Tristan.. ayo masuk. Udah ditungguin sama Ken” ucap sindy percaya diri dan belum menyadari keberadaan Adira.


“iya... Ayo Ra ikut masuk” ucap Tristan sambil menarik tubuh Adira agar menampakkan dirinya.


Padahal tadi Adira yang paling bersemangat. Kenapa sekarang dia malah seakan bersembunyi.


Sindy yang melihat keberadaan Adira pun langsung menampakkan raut wajah kecewa. Dia juga tersenyum masam.


“Oooh..  kamu ngajak seseorang. Ya udah masuk ayo” ucap sindy dibuat se netral mungkin.


Dia sudah berdandan secantik mungkin karena akan bertemu Tristan dan berharap bisa mendapatkan hatinya lagi.


Namun semua seakan sia-sia.


 


Adira POV.


Adira merasa tidak percaya diri setelah melihat betapa cantiknya mantan pacar Tristan.


Tiba-tiba dia merasa insecure. Tidak bersemangat seperti tadi pagi.


Saat Tristan berbicara dengan sindy, Adira hanya bisa bersembunyi di balik tubuh kekar Tristan.


Tapi dalam hati, Adira menyumpah serapahi dirinya sendiri.


Dia tidak boleh seperti ini. Dia harus berani.


Apalagi saat melihat sindy memakai riasan yang begitu cantik.


Adira yakin, sindy mempunyai maksud terselubung.


Tidak akan sempat bukan bila anak sedang sakit dirinya malah sibuk berdandan?. Tapi lihatlah...


Sindy tampil begitu cantik dengan riasan di wajahnya.


Setelah Tristan mengajaknya masuk, akhirnya Adira memberanikan diri tersenyum semanis mungkin ke arah Sindy.


Sindy seperti tidak menghiraukan Adira sama sekali.


Adira akhirnya berjalan masuk mengikuti Tristan.


.........


“Daddy..!” pekik Ken kegirangan.


Tristan balas tersenyum. Sedangkan Adira, dia hanya bisa tersenyum kikuk.


“iya.. aku datang..” jawab Tristan.


“dia siapa dad? Kenapa bersama Daddy?” tanya Ken sambil menunjuk Adira.


Tristan tampak diam berpikir. Mungkin lebih baik dia jujur saja.


“Dia calon istri Daddy. Namanya Tante Adira” jawab Tristan pelan.


“calon istri itu apa?” tanya Ken polos.


“Nanti kalau kamu udah gede kamu bakal tau. Yang terpenting sekarang kamu sembuh dulu ya” ucap Tristan mengalihkan pembicaraan.


Ken tampak mengangguk.


“hai Ken. Cepet sembuh ya” ucap Adira canggung. Dia bingung harus mengatakan apa.


Ken yang disapa langsung melengos enggan membalas ataupun menatap Adira.


Adira menghela nafas lalu menghembuskannya pelan.


‘ibu dan anak sama saja’ batin Adira.


Sedangkan sindy, dia sudah tersenyum. Anaknya sama-sama tidak menyukai Adira.


“Ken memang begitu dengan orang baru. Dia nggak gampang ketipu sama wajah polos seseorang” ucap sindy dengan sinis.


Adira jelas bingung dengan ucapan sindy. Apa sindy sedang menyindirnya? Punya masalah apa sebenarnya sindy dengannya?


“maksud kamu ngomong gitu apa.?” Tanya Tristan tidak terima.


“Emang bener kan. Kadang orang yang terlihat baik belum tentu baik beneran” jawab sindy dengan percaya diri.


Adira hanya diam mendengarkan. Dia mau melihat seberapa jauh Tristan membelanya.


“Bener yang kamu bilang. Contohnya kaya kamu” ucap Tristan penuh penekanan.


“Aku.?” Tanya sambil menunjuk dirinya sendiri tidak percaya dengan perkataan Tristan.


“Iya kamu. Siapa lagi emangnya” jawab Tristan sambil menatap tajam sindy.


“Aku yang lebih tau seperti apa Adira. Jadi nggak perlu menilai seseeorang buruk sebelum mengenalnya” ucap Tristan membela.


Wajah sindy berubah merah padam menahan amarah.


Niat hati ingin merendahkan Adira, yang ada malah dirinya yang di rendahakan.


Tristan langsung menarik tangan Adira dan mengajaknya keluar ruangan.


Adira hanya menurut saja.


Tristan tidak terima Adira direndahkan seperti itu oleh manusia seperti sindy.


Dia sudah tidak perduli dengan keberadaan kenrick. Tristan berpikir, dia tidak punya kewajiban selalu mengutamakan ken.


Dia datang karena rasa kemanusiaannya. Tapi dia malah mendapati perlakuan tidak mengenakkan.


.


.


.


.


**bersambung...


jangan lupa like coment dan hadiahnya hehe.


keaktifan jempol kalian sangat berharga untuk aku😊


oh iya. sebelum episode ini, masih ada episode lagi .


jadi kalau ada yang baca episode ini duluan, pasti agak nggak nyambung.


salam dari author amatiran**.