Treat You Better

Treat You Better
Prolog



Jangan lupa vote ya😘


.


.


.


.


Abigail D'Alejjandra.


Seorang siswi yang cantik berasal dari sebuah keluarga konglomerat nomor satu di negaranya. Semua siswa/i di sekolahan dan bahkan seluruh masyarakat tahu siapa seorang Abigail. Dialah putri satu-satunya dan ahli waris kekayaan keluarga D'Alejjandra. Ia mendapat julukan Queen of Beauty di sekolahnya karena menjadi incaran banyak pria tampan.


Kehidupan yang serba ada tidak membuat Abigail merasa di atas awan. Ia selalu mandiri dan tidak pernah merepotkan orang lain.


"Itu kekayaan orang tuaku, bukan milikku."


Itulah prinsip Abigail.


*****


Charles Delore.


Satu-satunya siswa yang berpenampilan sedikit norak dan kuno, kasarnya sekarang mungkin dikatakan ketinggalan jaman.


Kacamata hitamnya yang bulat besar selalu bertengger di batang hidungnya yang mancung. Mungkin tidak ada yang bisa dikategorikan sebagai kelebihan dari penampilannya itu.


Ia seringkali menjadi bahan ejekan dari murid-murid lain. Dan anehnya, ia tak pernah membalas sedikitpun perkataan mereka.


Tersenyum, menyapa, dan pergi menjauh menjadi kebiasaannya ketika dikatai.


Bodoh amat. Itu pikirnya.


*****


Ezmeralda High School menjadi sebuah sekolah menengah yang berkualitas di negara itu. Siswa-siswi yang menimba ilmu di sana selalu menjadi lulusan terbaik se-generasinya. Para pengusaha baik tingkat rendah bahkan sampai tingkat tertinggi berlomba-lomba menginginkan anaknya belajar di sana. Tak terkecuali D'Alejjandra Group. Bagaimana tidak, pengusaha ternama di kota itu bisa melakukan apapun untuk menyekolahkan anaknya di sekolah itu. Untungnya, Abigail itu siswi yang berprestasi. Peluangnya masuk ke sana sangatlah besar sehingga pada tes kualifikasi awal, namanya keluar sebagai calon siswi di sana.


"Ini akhir pertemuan kita hari ini. Silahkan kerjakan tugas kalian dan kumpulkan besok di ruangan saya. Adíos!" Ms. Grazie selaku pengajar pelajaran Matematika mengakhiri kegiatan belajar-mengajar di XIA Grade Jurusan Pengetahuan Alam sambil melangkah keluar dari ruangan kelas itu.


"Sííí!" sahut para murid secara kompak.


Sepeninggal Ms. Grazie, kelas itu menjadi ramai oleh siswa yang bangun dari tempat duduknya. Ada yang keluar menuju toilet, ada pula yang pindah tempat ke tempat lain.


"Abbie, sepulang sekolah ke mall ya? Aku mau membeli hadiah ulang tahun buat kekasihku", ajak Izzy, teman se-mejanya sambil tersenyum merona mengingat ia dan kekasihnya Casey, baru-baru ini telah resmi menjadi sepasang kekasih setelah beberapa kali berkencan.


"Baiklah. Aku juga mau membeli beberapa buku untuk mengerjakan tugas nanti", jawab Abigail mengiyakan dan menganggukan kepalanya.


Setelah bel panjang berbunyi menandakan waktu belajar telah usai, Abbie dan Izzy segera menuju tempat parkir. Mereka memasuki mobil mereka masing-masing dan menancap gas ke tempat yang dituju.


Sebuah mall terbesar di pusat kota, itulah tujuan mereka berdua. Dengan gaya khas anak konglomerat, mereka melenggang masuk ke dalam mall tersebut. Semua mata tertuju pada mereka. Penampilan mereka yang mencolok dengan pakaian seragam dari sekolah ternama di kota itu, menjadikan mereka pusat perhatian.


Badan Abbie yang sedikit berisi dengan tinggi yang maksimal, membuat rok yang dikenakannya sedikit terangkat karena hembusan angin sore di daerah itu. Rambut hitamnya yang digerai dengan poni yang dipotong tepat di atas alisnya menjadikan wajahnya yang bulat dan berpipi tirus itu semakin menawan.


Siapa saja yang belum pernah melihat wajah Abbie dari dekat dan secara langsung, segera berhimpit-himpitan dengan banyak manusia di dalam mall itu untuk mendekat. Tak lupa, ia juga menyampirkan sebuah kacamata hitam di atas hidungnya yang mungil itu.


Seksi.


Mungkin seperti itulah satu kata yang bisa menggambarkan penampilan Abbie sekarang. Meskipun ia masih duduk di bangku sekolah menengah, style dan fashionnya bahkan setara dengan artis papan atas.


Puluhan pasang mata yang memandang mereka memasang wajah takjub. Bagaimana tidak, Abigail D'Alejjandra yang seringkali mereka lihat di beberapa siaran televisi ternyata tidak kalah cantik daripada yang di tv atau bahkan lebih kalau dilihat secara langsung.


"Ayo!" sambil tersenyum manis, Abbie merangkul lengan temannya itu dan beriringan masuk ke sana.


Mereka terlebih dulu mencari keperluan Izzy.


Sudah banyak tempat yang mereka kunjungi dan belum mendapatkan apapun yang cocok untuk dijadikan kado yang bagus.


"Menurutmu, lebih bagus jam tangan atau sehelai baju? Aku bingung memilih yang mana." Izzy menanyakan pendapat temannya.


"Baju atau jam tangan?" tanya Abbie lagi. Izzy mengangguk.


"Hmm...Bagaimana kalau kita membeli sesuatu yang tidak masuk dalam pilihan itu? Sepatu misalnya." Abbie memberi usul.


"Ahh...Kenapa tidak terpikirkan dari tadi? Abbie...Kau membuatku kesal. Kita sudah berkeliling dan itu membuatku pegal. Bagaimana kau memberi ide ini setelah kita berkeliling sekian lama?" gerutu Izzy.


"Hei...Jangan menyalahkanku. Kau yang tidak mau menanyakan pendapatku tadi. Kau baru bertanya sekarang kan? Yah, aku jawab juga baru sekarang", jawab Abbie sambil menyengir melihat raut kekesalan di wajah temannya itu.


"Kau kebiasaan. Menyimpan hal baik terlalu lama" sanggah Izzy tersenyum sambil menarik tangan Abbie menuju counter sepatu.


"Ada sepatu keluaran terbaru?" tanya Izzy kepada penjaga ketika sampai di counter tersebut.


"Ada beberapa, Nona. Anda memilih yang mana? Ada merk Und** Armour terbaru dengan kualitas lebih bagus dari yang lama, N*ke ada versi terbarunya, dan merk Ard*les juga beberapa hari ini masuk top sell" jelas wanita berpakaian rapi itu.


"Ambilkan saya merek sepatu yang pertama kau sebut itu dengan ukuran 41. Dan tolong bungkus yang rapi. Saya akan menghadiahi teman saya sepatu merek itu". Izzy tersenyum. Wanita itu segera membungkus sepatu itu dalam sebuah kotak berwarna hijau dengan dihiasi pita berbunga di atasnya.


"Gracias" ucapnya berterimakasih setelah menerima kotak hijau tersebut. Pelayan wanita itu mengangguk sopan dan tersenyum manis.


Setelah itu, mereka menuju sebuah toko buku yang ada di dalam mall tersebut. Setelah menemukan buku yang dibutuhkannya, Abbie memilih beberapa novel untuk menemaninya di waktu luang.


*****


Seorang siswa berambut belah tengah dan berkacamata hitam memasuki koridor yang luas sebuah apartemen. Ia membuka lift dan menekan tombol naik ke lantai paling atas. Ia menghela napas lega setelah ia berdiri seorang diri di dalam lift tersebut.


Setelah liftnya sampai di lantai paling atas, ia segera keluar menuju sebuah kamar paling ujung dan mungkin itu adalah nomor kamar paling akhir.


Setelah memasukkan kode pintunya, ia segera melepaskan sepatunya dan pergi ke dapur meneguk segelas air dingin. Musim panas di kota itu membuatnya gerah setelah berhimpit-himpitan dengan banyak orang di dalam angkutan umum tadi.


Ia menaiki tangga menuju lantai dua dan melepaskan pakaian sekolahnya yang basah oleh keringat. Ia segera memasuki kamar mandi dan berendam di dalam bathup untuk merileks-kan badannya yang pegal. Aroma bunga lavender segera tercium setelah ia menuang salah satu cairan dari botol yang tersedia di samping bathup itu.


"Akhirnya" gumam Charles.


.


.


.


.


.


Regards,


Xie Lu