Treat You Better

Treat You Better
The wedding.



“Saya terima nikahnya Adira Belvina binti bapak Irawan setyanegara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai” ucap Tristan begitu lantang dan dengan satu tarikan nafas.


“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya pak penghulu.


“Saahhh!” Pekik semuanya bahagia.


Kemudian penghulu membacakan doa ijab kabul.


Dia juga menyuruh mempelai wanita untuk naik ke pelaminan.


Kinara yang bertugas mengawasi jalannya ijab kabul pun segera masuk ke kamar rias pengantin.


Dia harus segera memberi tahu Adira bahwa prosesi ijab kabul sudah selesai.


Ceklek.


“Raa.!!... Lo udah resmi jadi istri kak Tristan sekarang...!” pekik Kinara bahagia.


“berarti ijab Kabul nya udah selesai kin?” tanya Lidya.


“udah.. ayo turun Ra. Udah di suruh tuh sama penghulunya buat tanda tangan dan lain sebagainya” ucap Kinara.


Tapi sebelum itu, Kinara memeluk Adira erat.


Lidya juga ikut memeluk. Ketiganya berpelukan layaknya Teletubbies.


“selamat ya Ra. Semoga bersama dengan kak Tristan, Lo bisa bangun keluarga sakinah mawadah dan warohmah” ucap Lidya berkaca-kaca karena rasa haru menyelimuti hatinya.


Ucapan Lidya langsung di aminkan oleh Adira dan Kinara.


“Gue juga mau ngucapin selamat Ra. Semoga Lo bisa bahagia bersama kak Tristan. Dan yang paling penting... Nanti malam Lo nggak tidur sendiri..” ucap Kinara tanpa beban.


Tuing.


Lidya menoyor kepala Kinara. Dia benar-benar merusak suasana.


“Lo ngerusak suasana tau kin” ucap Lidya kesal.


Adira terkekeh.


“Udaah... Kapan gue turunnya nih. Pengen cepet-cepet ketemu babang tamvan gue” ucap Adira terkekeh.


Lidya dan Kinara mengulum senyumnya.


“oke .. karena Lo udah PERFECT, cuss.... Kita berangkat hehe” ucap Kinara yang di angguki oleh Lidya.


Kemudian ketiganya segera keluar kamar dengan Adira berada di tengah-tengah antara Lidya dan Kinara.


Adira di kawal layaknya seorang putri yang akan menemui rajanya.


Saat sudah di ballroom hotel, semua mata tertuju kepada Adira yang berjalan dia atas karpet merah layaknya tuan putri.


Apalagi gaun yang di gunakan Adira terlihat begitu indah dan elegan.


Para tamu undangan terpesona melihatnya.


Tak terkecuali Tristan.


Dia yang sudah menunggu Adira sejak tadi di atas panggung dibuat terpesona berkali-kali lipat.


Berbeda saat pertunangan, Adira menggunakan riasan tipis namun tetap cantik.


Dan saat pernikahan, Adira juga menggunakan make up, namun kali ini lebih berani dan menonjolkan kecantikan Adira yang sesungguhnya.


Adira mengenakan gaun berwarna putih. Gaun yang sangat pas di tubuh Adira. Sehingga menampakkan lekuk indah tubuh Adira.



Apalagi belahan dadanya yang rendah, menampakkan tonjolan di dada Adira.


Seketika Tristan merasa tidak rela miliknya dilihat oleh banyak orang.


Kenapa juga dia menyetujui Adira memesan kebaya itu saat fitting baju.


Dia tiba-tiba menyesali keputusannya.


Adira melihat Tristan saat berjalan ke arah panggung.


seakan tidak perduli dengan tamu undangan yang terpesona dengan kecantikannya, Adira hanya menjadikan Tristan titik fokusnya.


Adira melihat Tristan hari ini begitu tampan dengan tuxedo berwarna hitam.


jangan lupakan dasi merah yang menambah kesan ketampanan Tristan bertambah.



Adira merasa beruntung bisa menjadi istri Tristan.


dia juga jatuh cinta kepada Tristan bukan karena fisik. tapi hati Tristan begitu lembut.


Adira juga suka dengan kedewasaan Tristan. sangat cocok dengan dirinya yang anak tunggal dan terbilang manja.


tanpa terasa, Adira telah sampai di depan panggung.


Tristan turun dan menyambut Adira dengan mengulurkan tangannya untuk digenggam.


Tristan tersenyum manis menatap Adira. Begitu juga Adira sebaliknya.


Saat sudah sampai di pelaminan, Tristan mulai membuka suara.


“Nyesel aku udah setuju aja kamu pakai gaun itu” ucap Tristan berbisik lembut di telinga Adira.


“kenapa emangnya? Aku jelek ya pakai ini?” tanya Adira sedih.


“nggak. Kamu terlalu cantik dan jadi pusat perhatian. Apa lagi itu tuh... “ ucap Tristan posesif. Matanya menunjuk ke dua bukit kembar yang sedikit terlihat belahannya.


Adira mengulum senyum. Dia mengira Tristan tidak suka karena tidak cocok di tubuhnya.


“Kan Cuma sehari. Masa aku harus pakai yang tertutup sampai leher. Ini tuh lagi tren kak” ucap Tristan terkekeh.


“tetep aja aku nggak suka punya aku dilihat orang lain. Cuma aku yang boleh liat” ucap Tristan cemberut.


“Ihh... Kok posesif banget sih... Tapi aku suka” ucap Adira tersenyum lebar.


Karena saking asyiknya mengobrol berdua, mereka sudah tidak mendengarkan perkataan sang MC.


Mereka sibuk dengan dunia mereka.


Memang ya orang kalau udah jatuh cinta, dunia seakan milik berdua. Yang lain ngontrak.


Sang MC mengarahkan kedua mempelai untuk sungkeman kepada kedua orang tuanya.


Sesi sungkeman pun terjadi.


Adira dan Tristan sungkem kepada orang tua Adira terlebih dahulu.


Isak tangis haru pun tidak bisa dihentikan.


Adira menangis sesenggukan di bawah kaki ayah dan ibunya.


Pak Irawan yang notabene seorang ayah juga tidak bisa menghentikan air matanya.


Dia menangis kala Adira bersimpuh dan meminta maaf kepadanya.


Pak Irawan juga mengingat masa kecil Adira yang selalu manja dengannya. Namun sekarang Adira sudah menikah dan sudah menjadi seorang istri.


Waktu seakan cepat sekali berjalan.


Bu Dewi juga, dia menangis tanpa banyak bersuara.


Dia hanya mampu mengucapkan kata ‘semoga bahagia’.


Itu saja dengan susah payah.


Tristan yang melihat itu pun sesekali menyeka air matanya.


Kemudian sungkeman beralih kepada kedua orangtua Tristan.


Adira menangis namun sudah tidak sesenggukan saat bersama orangtuanya.


Giliran Tristan yang air matanya tidak bisa dibendung.


Mengingat perjuangan mama dan papa nya membesarkan dan membimbingnya hingga Tristan menjadi Tristan yang sekarang.


Para tamu undangan juga ikut menangis menyaksikan.


Tak terkecuali para teman-teman Adira.


“Kok gue jadi melow gini sih hiks” ucap Lidya menangis.


“gue juga... Gue terharu liatnya” jawab Kinara yang sama menangisnya.


Sedangkan Amanda, dia menangis dalam diam.


Sama sekali tidak bersuara.


Dia juga menjauh dari kerumunan dan hanya melihat abangnya itu dari kejauhan.


Abangnya yang jahil namun perhatian sudah menikah.


a Amanda.


Tidak ada suara. Doni melakukannya dalam diam.


Begitu juga Amanda, dia tidak bersuara dan hanya mengambil tisu yang disodorkan Doni untuknya.


Saat sudah cukup lama menangis hingga membuat matanya bengkak, Amanda akhirnya menghentikan tangisnya.


Dia melirik Doni yang masih setia menemaninya tanpa banyak bicara.


“Makasih bang” ucap Amanda lalu pergi meninggalkan Doni begitu saja.


Doni hanya tersenyum menanggapi. Kemudian dia melangkah menuju para teman-temannya berada.


sesi sungkeman telah selesai. para tamu undangan di persilahkan untuk menikmati hidangan yang tersedia.


"Yang... kapan kamu lamar aku. aku juga pengen nikah kaya Adira.." ucap Kinara kepada Vian sambil menatap kedua mempelai yang bagai raja dan ratu di atas pelaminan.


"kamu emang udah siap nikah?" tanya Vian bersemangat.


"setelah liat Adira... aku pikir-pikir nggak ada salahnya sama nikah muda" ucap Kinara mengalihkan pandangan kepada Vian.


"ya udah kalau begitu. besok aku datang ke rumah kamu" ucap Vian berbinar.


dia juga ingin segera menikah. usia dua puluh lima adalah usia yang pas untuk menikah bukan?.


"secepat itu??" tanya Kinara tak percaya.


"kaku punya keinginan baik kenapa harus di tunda-tunda. nggak baik sayang" ucap Vian sambil merangkul pinggang ramping Kinara.


Kinara jadi salah tingkah sendiri.


"nggak bisa dong. aku juga butuh persiapan" rengek Kinara.


"ya udah... satu Minggu lagi aku lamar kamu dan datang ke rumah kamu" ucap Vian tersenyum manis.


"naaah .. gitu dong. jadi aku bisa siapain semuanya" ucap Kinara lega.


"kalian tuh emang nggak tau tempat. main pelak-peluk terus" ucap Lidya ketus.


dia memang berada di dekat Kinara dan Vian. dan tentu saja Lidya mendengar semua percakapan keduanya.


haruskah Lidya meminta Azka untuk menikahinya? tidak mungkin... Lidya gengsi jika harus meminta duluan. huuuft...


"Biarin lah.. Lo juga boleh tuh sama Azka" ucap Kinara sambil menunjuk Azka yang sedang mengobrol bersama seorang wanita.


Lidya langsung menatap kemana Kinara menunjuk.


amarah Lidya sampai ke ubun-ubun.


dia ditinggal sendiri oleh Azka. dan lihatlah... Azka malah mengobrol berdua dengan seorang wanita?.


Lidya pergi dari tempat dan menghentakkan kakinya kesal meninggalkan dua sejoli yang terpelongo melihat tingkahnya.


Lidya sudah tidak perduli. dia terlalu terbakar cemburu.


ingin mendekati Azka pun dia gengsi.


dalam angan-angan, dia ingin menjambak dan mencakar wajah perempuan itu. tapi apalah daya gengsinya terlalu besar.


hubungannya dengan Azka juga baru dimulai.


huuft...


Lidya menghembuskan nafasnya. dia harus tenang.


Lidya nanti bisa bertanya langsung kepada Azka siapa wanita itu.


tapi tetap saja, pikirannya tidak bisa tenang.


akhirnya dia memilih mengambil minum dan menenggaknya dengan kasar.