
Mobil Tristan sudah terparkir rapi di depan rumah Vian dan kinara.
Mereka sengaja mengunjungi keduanya karena ingin bertemu dengan Dara, anak Vian dan Kinara.
Usia Dara sekarang sudah menginjak usia tiga bulan. Jadi hanya berbeda sembilan bulan dengan usia Aarav.
"Hai Dara yang cantik," sapa Adira untuk pertama kali saat memasuki rumah dan langsung di sambut oleh suami istri itu.
"Hai Tante Adira yang makin cantik juga," jawab Kinara sambil menirukan suara bayi.
"Bisa aja deh, Lo." sangkal Adira mencoba untuk tidak terbang tinggi.
Setelah itu, Vian dan Kinara mempersilahkan Adira, Tristan beserta kedua anaknya untuk masuk ke dalam.
Adira segera mendudukkan dirinya di salah satu sofa yang berada di rumah Kinara. Sedangkan Tristan, dia menurunkan Aarav dahulu dari gendongan untuk bisa bermain bersama Echa di karpet yang sudah Kinara gelar.
Setelah Aarav mulai sibuk dengan mainannya bersama Echa, Tristan segera berdiri dan mendudukkan dirinya di sebelah istrinya.
Cup.
Tristan mengecup salah satu pipi Adira cepat. Adira sampai melotot karena suaminya itu tidak akan pernah segan untuk mengumbar kemesraan di depan umum.
“Aku malu, Mas. Jangan sembarang cium aja dong. Lihat-lihat sekitar dulu, kita ada di mana,” protes Adira, bibirnya sudah mengerucut karena merasa kesal.
“Biarkanlah ... Itu tanda aku cinta banget sama kamu,” ucap Tristan yang merasa dunia hanya milik mereka berdua. Kinara dan Vian hanya mengontrak di rumahnya sendiri.
Vian dan Kinara yang melihat kemesraan Adira dan Tristan hanya dapat berpura-pura tidak melihatnya.
“Kalian semakin tua semakin mesra aja ya ....” ucap Kinara dengan kalimat sarkasmenya.
“Iya, tua-tua keladi. Makin tua makin menjadi-jadi,” sahut Vian yang bagai panci yang menemui tutupnya. Sangat cocok dan serasi.
“Bagusan begitulah. Daripada semakin lama, semakin kesal, mendengar ... Sound yang ini,” jawab Tristan berupa nyanyian.
Semua tergelak bersamaan mendengar jawaban yang Tristan berikan.
Emak-emak yang berhasil viral karena menciptakan lagu Yamet Kudasi.
Sebenarnya bukan kesal bila mendengar sound yang ini, melainkan malah tertawa mendengar suara ibunya yang pembawaannya sangat lucu.
Begitu juga lirik lagunya yang sangat-sangat lucu menurut Adira dan Tristan.
“Bisa aja, lawakan Lo.” ucap Vian disela tawa renyahnya.
“Biar hidup nggak tegang-tegang banget. Sesekali bercanda, bolehlah ....” jawab Tristan jumawa.
Setelah itu, terlihat asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Kinara dan Vian pun muncul dengan membawakan minuman dan beberapa camilan yang diletakkan di atas tatakan.
Setelah Asisten rumah tangga tersebut meletakkan makanan dan minuman, dia mempersilahkan Adira dan Tristan untuk menikmati kudapan.
Adira dan Tristan mengucapkan terima kasih secara bersamaan.
Setelah asisten rumah tangga tersebut menghilang masuk ke dapur, Adira segera mengalihkan perhatian kepada Dara yang sedang anteng berada di gendongan ibunya.
“Sini Dara, pangku sama Tante,” ucap Adira sambil mengambil alih Dara dari gendongan Kinara.
Dara terlihat tersenyum menatap tantenya itu. Mungkin Dara merasa senang bisa di pangku oleh tantenya itu.
“Kalau umur segini sama siapa aja pasti masih nurut,” ucap Adira sambil mencubit pelan pipi Dara.
“Kan memang belum bisa menolak, Ra,” jawab Kinara sambil mencebikkan bibirnya.
Adira hanya tergelak menanggapi ucapan Kinara.
“Echa udah nggak pernah panggil nama Doni dan Amanda kan, Ra?” tanya Kinara yang raut wajahnya mulai berubah serius.
“Sudah nggak sesering dulu sih, Kin. Cuma ... Pas ulang tahun Echa yang keempat nanti, aku bakal kasih tahu di mana keberadaan ayah dan bundanya yang sebenarnya. Cepat atau lambat, Echa bakal tahu semuanya,” ucap Adira yang juga sudah berubah menjadi serius.
“Iya, Adira ada benarnya juga. Cepat atau lambat, Echa bakal tahu yang sebenarnya,” sahut Tristan yang membenarkan ucapan istrinya itu.
“Sebenarnya bukan hanya Echa yang harus menunggu siap. Karena aku juga harus menyiapkan mental untuk mengajak Echa datang ke makam kedua orang tuanya,” ucap Adira yang matanya mulai berkaca-kaca, pandangannya jatuh menatap Echa yang sedang tertawa bahagia bersama anaknya, Aarav.
Sedangkan Kinara, dia segera mengambil alih Dara untuk baby sisternya jaga.
“Gue tahu, ini pasti nggak mudah buat kalian berdua. Kita percaya bahwa semuanya pasti demi kebaikan Echa juga,” ucap Vian yang ikut menenangkan.
Ya, itu semua memang demi kebaikan Echa. Mungkin bila adira dan Tristan mengajak Echa mengunjungi makam kedua orang tuanya waktu umur Echa belum genap empat tahun, Echa tidak akan tahu apa itu meninggal dan di kubur.
Dan setelah umur empat tahun, Echa juga pasti belum memahami sepenuhnya. Tapi, Adira akan berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh Echa.
Adira sudah menyiapkan kata-kata yang harus dirinya ucapkan nanti setelah ulang tahun Echa yang keempat tahun.
Adira sengaja mempersiapkannya dari sekarang demi melatih mentalnya untuk kuat mengatakan semua kebenaran kepada Echa.
Memang terkadang, kebenaran itu sangat menyakitkan. Namun akan lebih menyakitkan lagi bila mengetahui kita sedang dibohongi.
*
Tristan dan Adira sudah berada di dalam kamarnya untuk tidur.
Sejak tadi, mata Adira enggan terpejam karena memikirkan masalah yang tadi pagi dirinya dan Kinara bicarakan.
Adira tidak tahu, mengapa rasanya berat sekali untuk memberitahukan kepada Echa tentang kedua orang tuanya?
Adira sangat menyayangi Echa dan sudah menganggapnya seperti anak kandungnya.
Adira begitu takut kalau Echa akan bersedih kembali.
“Jangan terlalu di pikirkan terlalu keras, Sayang. Manusia hanya bisa berencana, Allah SWT lah yang menjadi penentunya,” ucap Tristan saat menyadari bahwa mata istrinya masih belum terpejam.
Posisi mereka adalah tidur dengan saling memeluk. Salah satu lengannya, Tristan letakkan di bawah kepala Adira untuk bantalan.
“Semoga setelah Echa tahu kebenarannya, Echa nggak membenci kita ya, Mas. Karena kita sudah menyembunyikan keberadaan kedua orang tuanya,” ucap Adira yang mengeluarkan semua ke khawatirannya.
“Tidak akan, Sayang, Echa pasti akan mengerti. Nanti kita kasih tahunya pelan-pelan ya,” ucap Tristan menenangkan.
Adira mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.
Ya, dirinya dan suaminya bisa menjelaskan dengan pelan-pelan agar Echa bisa mengerti.
Setelah itu, mata Adira mulai terpejam untuk menggapai alam mimpi bersama suaminya.
*
Pagi kembali menjelang. Adira dan Tristan sudah terbangun pagi-pagi sekali untuk melaksanakan salat subuh berjamaah.
Sekarang, Tristan dan Adira sudah mulai rajin salat berjamaah berdua. Adira juga mulai mengajari Echa untuk melaksanakan salat sebagai kewajibannya sebagai umat muslim.
“Bunda, Echa juga mau salat,” ucap Echa yang sudah berada di ambang pintu lengkap dengan mukenanya.
Adira menoleh dan tersenyum melihat Echa yang rela bangun pagi untuk melaksanakan kewajibannya
Nanti, setelah Aarav berumur dua tahun, Adira juga akan mengajari Aarav untuk melaksanakan salat lima waktunya.
Adira percaya pada kata-kata mutiara yang berkata,
Jika amal perbuatan orang tua sudah terputus semasa hidupnya karena kematian, maka pahala jariyyah akan terus mengalir dari apa yang di ajarkan kepada anak-anaknya.
Entah dosa jariyyah atau pahala jariyyah, itu tergantung bagaimana orang tua mendidik dan merawat anaknya.
Adira ingin setelah dirinya tiada nanti, pahala jariyyah akan selalu mengalir untuk dirinya.
Pahala jariyyah lah yang akan bisa menyelamatkan kita dari panasnya api neraka.
Bukan Adira merasa paling suci, tapi setiap manusia ingin tempat yang terbaik untuk dirinya nanti setelah kematian tiba.
Dan akan tinggal di mana kita nanti setelah kematian, itu tergantung bagaimana kita hidup di dunia.