Treat You Better

Treat You Better
124. Daddy!



 


Adira langsung mengalihkan pandangan menatap Echa yang sedang tersenyum meledek ke arah keduanya.


“Siapa yang ajari kamu ngomong begitu, Cha?” tanya Adira lembut.


“Dari HP,” jawab Echa santai.


Adira mengernyit heran karena setahu dirinya, Echa sudah diberi ponsel khusus dan Adira sudah menyetelnya dengan mode anak-anak.


“HP siapa memangnya?” tanya Adira lagi masih menginterogasi.


“Pinjam punya ayah,” jawab Echa polos.


Adira langsung melipat kedua tangannya di kedua sisi pinggangnya.


Matanya sudah menatap suaminya itu dengan tajam.


Tristan yang paham akan tatapan permusuhan dari Adira pun memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat.


“Kok bisa kamu pinjamkan Echa HP?” tanya Adira masih menatap Tristan tajam.


“Hehe ... Pis.” Ucap Tristan sambil mengangkat jari tengah dan jari telunjuk bersamaan.


Setalah itu, Tristan segera berlari menuju kamarnya untuk menghindari singa yang sebentar lagi akan mengamuk.


Adira hanya bisa menghela nafas melihat Tristan yang sudah lari menuju kamarnya.


Dia tidak mungkin berteriak kesal dan akan membuat seisi ruangan menjadi gempa bumi dadakan.


“Haha ... Ayah kabul,” ucap Echa sambil tergelak.


Adira geleng-geleng kepala mendengar ucapan yang Echa lontarkan.


“Echa mau ngapain ke dapur? Ada sesuatu yang mau Echa ambil?” tanya Adira lembut sambil berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan Echa.


“Echa haus, Bun. Mau minum,” ucap Echa jujur.


Adira tersenyum dan mengacak gemas rambut Echa yang hanya sebahu itu.


“Bentar ya, Bunda ambilkan dulu,” ucap Adira lalu segera mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih.


Kemudian Adira menyodorkan segelas air putih itu untuk Echa minum.


Setelah menerima satu gelas air putih yang disodorkan oleh bundanya, Echa langsung meneguknya hingga habis dan mengembalikan gelas itu kembali.


“Terima kasih, Bunda.” ucap Echa kemudian.


“Sama-sama Echa sayang,” jawab Adira lembut sambil tersenyum.


.......


 


Hari minggu akhirnya tiba kembali. Hari yang sangat dinanti-nantikan oleh Tristan untuk segera tiba.


Karena di hari tersebut, dia akan menghabiskan waktu bersama keluarganya entah di rumah atau berjalan-jalan.


Tristan selalu mendapatkan kebahagiaan di saat melihat anak dan istrinya tersenyum bahagia ketika dirinya mengajak jalan-jalan apalagi pergi ke pekan raya.


Saat ini, Adira dan Tristan sedang sarapan bersama keluarga kecil mereka.


Echa duduk di kursi yang bersebelahan dengan Adira sedangkan Aarav, dia duduk di kursi makan khusus untuk bayi.


Aarav di suapi oleh baby sisternya agar Adira bisa menghemat waktu.


Mereka akan pergi ke pekan raya hari Minggu ini.


Echa tentu menyambut hal tersebut dengan sorakan gembira. Echalah yang paling bersemangat jika akan pergi ke pekan raya.


Di sana, banyak sekali barang dan mainan yang bisa Echa beli.


“Echa makanannya dihabiskan dulu, Sayang,” ucap Adira sedikit berteriak karena Echa sudah berlari menuju sofa ruang tengah untuk mengambil tas yang akan dia bawa ke pekan raya.


“Kenyang, Bun.” sahut Echa yang juga berteriak.


Adira hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar alasan klise yang selalu Echa ucapkan.


“Biarkan saja, Sayang. Nanti di pekan raya, Echa juga bakal banyak makan,” ucap Tristan sambil tersenyum menatap istrinya.


“Kebiasaan kalau mau bepergian, Echa makannya selalu nggak habis. Seneng banget kayanya dia deh, Mas,” ucap Adira sambil tersenyum bahagia mengingat wajah Echa yang selalu berbinar bila ingin pergi keluar rumah bersama dirinya dan Tristan.


Adira dan Tristan sudah selesai dengan kegiatan sarapannya.


“Dikit lagi habis, Bu,” jawab sang baby sister yang menyuapi Aarav.


“Ya sudah habiskan dulu. Aku ambil tisu basah dulu ke atas buat lap mulut Aarav,” ucap Adira lagi dan berlalu pergi menaiki tangga untuk mengambil barang yang dia perlukan.


Termasuk segala peralatan yang mungkin akan dirinya perlukan nanti saat di pekan raya.


Setelah mengendarai mobilnya selama tiga puluh menit, akhirnya mereka semua tiba di alun-alun kota tempat di adakannya pekan raya.


Setelah mobil terparkir sempurna, Adira dan Tristan berjalan beriringan memasuki pekan raya dengan Aarav yang berada di troli yang Tristan dorong.


Sedangkan Echa, dia sudah berlari masuk ke tengah-tengah pekan raya.


“Echa pelan-pelan dan jangan jauh-jauh dari Ayah sama Bunda,” teriak Adira mengingatkan.


Echa langsung menurut dan berhenti untuk menunggu bunda dan ayahnya itu.


Echa takut dirinya akan tersesat bila tidak bersama ayah dan bundanya.


“Kenapa Echa berhenti?” tanya Tristan setelah dekat dengan Echa.


“Takut tersesat kalo nggak sama ayah bunda,” jawab Echa polos.


Tristan dan Adira terkekeh bersama mendengar ucapan Echa.


Kemudian, Adira menggandeng tangan Echa agar berjalan bersama dirinya dan suaminya.


“Echa mau main apa dulu, Sayang?” tanya Adira lembut saat sudah berada di tengah-tengah pekan raya.


“Echa mau naik itu, Bun,” jawab Echa, telunjuknya sudah terangkat untuk menunjuk salah satu wahana permainan komedi putar.


Adira tersenyum dan menatap suaminya untuk meminta persetujuan.


“Mainlah sayang. Temani Echa nggak papa, Aarav biar aku yang menjaga,” ucap Tristan memberi izinnya.


Echa tersenyum dan tanpa menunggu lama, Echa segera berlari menuju wahana permainan komedi putar tersebut.


Hanya Echa yang boleh menaiki wahana tersebut. Sedangkan Adira, dia menunggu Echa bermain dari bawah dan mengawasi Echa takut-takut nanti terjatuh.


Setelah puas bermain komedi putar, Echa beralih ke wahana permainan lainnya. Begitu seterusnya hingga Echa merasa kelelahan dan meminta untuk beristirahat.


Karena tidak melihat keberadaan suaminya, Adira mengajak Echa untuk mencari keberadaan ayah dan juga diknya terlebih dahulu.


Kepala Adira tampak celingukan ke kanan dan kiri untuk melihat sekeliling.


Dapat.


Adira melihat Tristan sedang menemani Aarav bermain mandi bola. Adira tersenyum dan segera menggandeng tangan Echa bersamanya menuju ke Aarav dan suaminya berada.


Saat sudah sampai, Adira bisa melihat tawa bahagia yang Aarav tunjukkan saat bermain mandi bola.


Adira tersenyum senang melihat senyum dan tawa terpancar di wajah anak laki-lakinya.


“Echa mau main juga? Sambil duduk aja biar capeknya hilang,” tanya Adira menawarkan.


Echa tampak mengangguk antusias dan langsung menyebutkan diri ke dalam lautan bola yang berwarna-warni itu.


Adira dan Tristan juga ikut masuk ke dalam kolam bola itu.


Mereka bermain dengan saling melempari bola ke satu sama lain.


Siapa yang di lempari harus bisa menangkap bola tersebut.


Gelak tawa mengisi kolam bola tersebut karena adanya keluarga kecil yang Tristan punya.


Mereka berempat sampai menjadi pusat perhatian pada pengunjung yang ada karena keharmonisan rumah tangga mereka.


Ada yang ikut tersenyum bahagia, namun ada juga yang memberikan nyinyiran.


Adira tidak peduli. Memang tidak semua orang akan suka kepada dirinya dan bagi Adira, itu semua wajar saja.


Tidak berapa lama, tawa mereka terhenti karena panggilan seorang anak kecil yang memanggil Tristan.


“Daddy!” panggil anak tersebut dengan biar bahagia di wajahnya.