Treat You Better

Treat You Better
66. Memanjakan mata.



Setelah tiba di atas bukit, rasa penasaran akhirnya terbayar sudah.


Dibawah sana, terbentang indah pemandangan Ranu Kumbolo yang tampak cantik dilihat dari ketinggian.


Banyak pepohonan hijau mengelilingi yang membuat mata terasa sejuk.


Tristan dan Adira mengistirahatkan kakinya sementara waktu.


Mereka berbalik untuk melihat pemandangan dibelakangnya.


Panorama Oro-Oro Ombo terbentang indah disana.


Hamparan bunga Verbena, bunga dengan kelopak berwarna ungu, tampak memanjakan mata.




Banyak yang menyebut itu merupakan bunga lavender karena kemiripan warna kelopaknya.


Namun, bunga yang tumbuh di Oro-oro Ombo bukanlah bunga lavender, melainkan bunga Verbena.


Bunga tersebut tumbuh tinggi setinggi tubuh manusia.


Tingginya bisa mencapai 1.5-2 meteran.


Melewati hamparan bunga Verbena seperti menembus labirin hidup.


Tak khayal, jika banyak para pengunjung maupun pendaki menjadikan Oro-oro Ombo sebagai spot favorit.


Karena lelah di kakinya sudah membaik, Adira segera berjalan menuju Savana yang ditumbuhi bunga Verbena itu.


Matanya benar-benar termanjakan.


Tristan yang mengikutinya pun, diam-diam mengambil foto Adira.


Sangat indah ...


“Sini dong, Kak ... Jangan Cuma aku yang difoto ... Kita foto bareng.” ucap Adira lalu menarik tangan Tristan lembut.


Tristan menurut.


Mereka melakukan selfie berdua dengan background bunga Verbena.


Tidak puas hanya ber Selfi, Adira menyuruh salah satu pengunjung untuk memfoto kan dirinya dan Tristan.


“Hai, Mbak ... Maaf nih mbak, mau minta tolong bisa?” tanya Adira ramah.


“Iya ... Ada yang bisa saya bantu?” tanya orang tersebut.


“Tolong fotoin kita ya, Mbak ... Entar kalo Mbak mau foto, kita gantian gimana?” ucap adira bernegoisasi.


“Oke, Mbak!” ucap orang tersebut.


Adira dan tristan pun berpose untuk di gambar dirinya.


Cekrek.


Cekrek.


Cekrek.


Beberapa foto berhasil diambil dengan indah.


Adira mengucapkan terima kasih kepada pengunjung tersebut.


Sesuai janjinya, Adira akhirnya memfoto orang tersebut.


Setelah puas berada di Oro-oro Ombo, Adira dan Tristan akhirnya melanjutkan perjalanan.


“Kamu nggak capek, Ra?” tanya Tristan karena Adira sejak tadi selalu tersenyum seakan tidak punya lelah.


Padahal mereka berjalan begitu jauh.


“Nggak lah ... Aku seneng banget soalnya di ajak kesini. Lain kali kalo liburan, boleh tuh ajak aku ke gunung aja hehe.” ucap Adira sumringah.


Tristan tersenyum.


“Tentu ... Nanti kita buat agenda jalan-jalan lagi ke gunung.” Ucap Tristan tersenyum manis.


“Iya ... jalan-jalannya Kakak tuh ekstrem banget. Soalnya jalannya ke gunung.” Adira langsung tergelak setelah mengucapkan itu.


Tristan pun akhirnya ikut tergelak.


“Mau gendong nggak?” ucap Tristan menawarkan diri.


“Nggak lah. Kasian Kakak, kan juga capek. Aku masih bisa jalan sendiri.” ucap Adira meyakinkan.


Tristan mengangguk dan tersenyum.


Rasa lelah karena berjalan jauh pun seakan hilang saat melihat senyum dan tawa bahagia Adira.


Setelah mendaki lagi cukup jauh, akhirnya, Adira dan Tristan sampai di puncak gunung Semeru, Mahameru.


“Aaaaaaaaaa!!” pekik Adira lega saat keduanya sudah berada di puncak Mahameru.


“Aaaaaaaaaa!!” Tristan juga melakukan hal yang sama.


Lelahnya terbayar sudah ketika melihat pemandangan alam dari ketinggian Mahameru.



“Sayang banget ... Harusnya kita berangkat lebih pagian lagi. Biar kita bisa liat sunrise disini.” ucap Tristan sedikit menyesal.


“Nggak papa. Kita bisa mencobanya lain waktu kan. Walau sampai sini siang, pemandangan disini tetep indah pake banget malah.” ucap Adira jujur.


“Aku nggak masalah. Kan kita udah liat sunrise di Ranu Kumbolo tadi.” sambung Adira lagi.


“Tapi katanya, kalau kita liat sunrise dari Mahameru tuh lebih indah, Ra.” ucap Tristan yang masih tidak terima.


“Ya udah sih ... Ini juga indah. Mending kita foto dulu. Nanti kita pajang di rumah baru kita.” ucap Adira merasa bangga.


Bagaimana tidak?


Adira baru mendaki pertama kali, dan saat mendaki, dia langsung mendaki gunung Semeru.


Gunung tertinggi di pulau Jawa itu memiliki jalur pendakian yang lumayan sulit.


Mereka mengambil banyak foto yang akan mereka abadikan dan akan di pajang di rumah mereka nanti.


“Aku mau, anak-anak kita tau ... bahwa ibu dan ayahnya tuh pernah naik gunung.” ucap Adira tanpa beban.


“Ada-ada aja kamu tuh. Aku pengennya anak kita tau, masa muda tuh harus dinikmati dulu.” Ucap Tristan yang juga ikut berkomentar.


Mereka berbincang dengan posisi masih berdiri menghadap pemandangan indah di bawah sana.


“Entar ... Aku yakin. Anak-anak kita juga bakalan pengen naik gunung kalo kita cerita dan punya fotonya juga.” Imbuh Adira.


Dia memeluk Tristan dari samping, mencari kenyaman disan.


Tristan balas memeluk bahu Adira lembut.


“Pasti kalau itu, Ra. Apalagi liat foto-foto kita dengan background indah gini.” ucap tristan sambil matanya menelusuri pemandangan indah di depannya.


Cukup lama mereka ada disana.


Saat sudah puas, akhirnya mereka turun untuk kembali ke hotel.


Tepat pukul lima sore, mereka sudah berada di basecamp.


Setelah itu, mereka menyewa mobil menuju hotel tempat mereka menginap.


Pukul sembilan malam, mereka tiba di hotel dan segera membersihkan diri.


Untuk menghemat waktu, keduanya mandi bersama.


Hanya mandi tanpa melakukan hubungan badan lagi.


Setelah selesai, keduanya segera pergi menuju alam mimpi bersama.


Mereka tidur saling berhadapan dan berpelukan.


Nyaman sekali.


Tristan langsung tertidur begitu saja. Adira tersenyum menatap wajah damai suaminya.


Dia mengecup dahi suaminya sebelum dia juga pergi ke alam mimpi menyusul suaminya.


..........


Matahari sudah menampakkan diri dan keluar dari persinggahannya.


Hari yang sangat cerah.


Adira sudah terbangun dan berdiri di depan jendela menatap indahnya pemandangan gunung di depannya.


Gunung.


Sebuah tempat yang menjadi tempat favorit baru untuk Adira.


Dia mulai menyukai semua tentang gunung.


Ya, walaupun gunung tidak bisa lepas dari segala mitos yang beredar di masyarakat.


Adira mencoba menoleransi itu.


Semua demi kebaikan hidup manusia.


Saat pikirannya sedang asik melanglang buana, ada tangan kokoh yang memeluknya dari belakang.


Adira tersenyum lagi.


Dia bahagia, Tristan benar-benar menyayangi dan mencintainya sangat tulus.


Adira merasa, Tristan adalah cinta sejatinya.


Semoga, Tristan juga merasakan hal yang sama.


Adira percaya, bahwa di dunia ini ada yang namanya cinta sejati.


Dan Adira berharap, dirinya dan Tristan adalah wujud cinta sejati itu.


 "Kamu suka banget ya liat pemandangan di depan sana?" tanya Tristan dengan suara serak khas bangun tidurnya.


Dia juga menyandarkan kepalanya di pundak Adira. matanya masih terpejam karena mengantuk.


"Nggak tau ... sekarang aku suka banget apapun tentang gunung." ucap Adira berbinar.


"Kalau pantai?" tanya Tristan lagi.


"Tetap gunung selalu dihati." Adira terkekeh dengan perkataanya sendiri.


Tristan hanya tersenyum. Dia mengusap lembut perut Adira. Berharap disana akan tumbuh anak-anaknya.


Adira yang paham akan maksud Tristan, dia juga berdoa dalam hati agar segera di beri momongan.


.


.


.


.


.


.


**Baru bisa up maaf ya hehe.


jangan lupa like dan komennya.


dukung karya aku juga dengan kasih vote hehehe**