Treat You Better

Treat You Better
Sentuhan cinta.



Setelah selesai mandi, Tristan keluar dan mencari sosok Adira sudah tidak ada di kamarnya. Mungkin dia sudah di dapur. Pikir Tristan.


Dia bergegas memakai bajunya dan keluar untuk sarapan.


Benar saja, dia melihat Adira sedang memasak. Entah memasak apa. Tristan tersenyum melihat itu. Adira sudah seperti istri yang membuatkan sarapan suaminya.


Saat sedang sibuk dengan masakannya, tiba-tiba ada yang memeluk Adira dari belakang.


Awalnya Adira terkejut, namun saat tau siapa yang melakukannya dia melanjutkan pekerjaannya lagi.


Siapa lagi kalau bukan Tristan .


“kak, jangan gini lah. Ada Amanda, sama pekerja juga. Nggak enak” ucap Adira sambil berusaha melepaskan diri.


“Sebentar aja. Aku mau gini dulu” jawab Tristan dan mengendus aroma lavender di tubuh Adira. Wangi yang sudah menjadi candunya.


“duduk gih. Udah mau jadi nih” ucap Adira memerintah.


“Oh iya, kamu masak apa emang?” tanya Tristan mengingat.


“Nasi goreng. Suka nggak?. Soalnya kata bibi stok bahan habis. Jadilah aku masak nasi goreng aja” ucap Adira menjelaskan.


“Suka. Aku tunggu di meja kalau gitu” ucap Tristan sambil berlalu untuk duduk di kursi makan.


Setelah nasi goreng matang, Adira segera menyajikan dua piring untuk Tristan dan dirinya.


Dia memang belum sempat sarapan tadi. Dan sengaja ingin sarapan bersama Tristan.


Setelah nasi berhasil di hidangkan, aroma bumbu dan bahan nasi goreng menguar harum di Indra penciuman Tristan.


Tanpa ba bi Bu Tristan langsung melahap nasi goreng buatan Adira.


“enak banget Ra. Kalau udah nikah, kamu harus bikin sarapan terus buat aku” ucap Tristan dengan mulut penuh.


“Pelan-pelan makannya kak” jawab Adira yang khawatir Tristan tersedak karena sangat lahap.


Tidak lama, Tristan telah menghabiskan satu piring nasi goreng dan segelas air putih.


Adira juga telah selesai dengan makanannya.


Lalu dia membawa piring kotor dan mencucinya. Setelah itu dia duduk lagi di sebelah Tristan di meja makan.


“Kak, udah di salepin belum tuh lukanya?” ucap Adira bertanya.


“Oh iya belum. Aku lupa” jawab Tristan sambil memainkan ponselnya.


“Ya udah aku olesin deh. Dimana salep nya?” ucap Adira bertanya lagi.


“Di kamar aku Ra. Aku ambil dulu bentar ya” ucap Tristan sambil berlalu ke kamarnya


Adira segera menuju ruang tv Dimana Amanda berada.


“Serius amat Lo liat tv nya” ucap Adira sambil meraup wajah Amanda yang tegang akibat film di tv.


“Ah Lo mah bikin gaduh suasana. Gue lagi serius nih liatinnya” jawab Amanda kesal.


Adira hanya terkekeh dan memilih diam menunggu Tristan.


“eh, Abang gue mana? Bukannya tadi gue denger udah sarapan ya dia?” tanya Amanda yang menyadari ketidak hadiran kakaknya.


“lagi dikamar ngambil salep man” jawab Adira.


Selang beberapa saat, Tristan datang membawa salepnya dan menyodorkannya pada Adira.


“Sini duduk” ucap Adira sambil menepuk space kosong di sebelahnya.


Tristan menurut dan mendekatkan wajahnya kepada Adira. Dia sedikit menunduk karena Adira lebih pendek darinya.


Tanpa suara, Adira membuka tutup salep dan mulai mengoleskan ke wajah Tristan yang lebam.


Tristan mengamati wajah Adira yang sangat dekat. Begitu cantik dan manis saat wajahnya sedang serius.


“Udah kak” ucap Adira yang telah selesai mengolesi salepnya.


Tristan masih tersenyum menatap wajah ayu Adira. Dia sangat betah dengan posisi saat ini.


“Bang! Udah beres bang! Sadar! Sadar!” pekik Amanda melihat Tristan menatap Adira sampai tidak berkedip.


“apaan sih Lo. Ganggu aja bocil” ketus Tristan


“bocil? Abang bilang bocil? Berarti Adira bocil dong? Kan kita seumuran” ucap Amanda memojokkan kakaknya.


“Biar bocil tapi kelakuannya udah dewasa. Makanya aku tambah cinta” ucap Tristan dengan senyum malu-malu.


Adira langsung menyentil hidung mancung Tristan. Tristan selalu bisa saja membuat jantung Adira meletup-letup.


Tristan jelas mengaduh kesakitan dan memegangi hidungnya.


“Ciee... Cie .. si Adira merah tuh mukanya hahaha” ledek Amanda kepada Adira.


“Sakit tau Ra. Kenceng banget kamu nyentilnya” ucap Tristan merengek seperti anak kecil.


“masa sih? Oh iya ini merah. Aduh maaf kak maaf” ucap Adira merasa bersalah dan mengelus lembut hidung Tristan.


Cup.


Adira langsung mengecup sekilas hidung mancung itu. Tristan tersenyum bodoh, sedangkan Amanda, dia sudah melotot dan sebenarnya merasa iri.


“Udah nggak sakit lagi. Kan udah dapat sentuhan cinta. Mendadak sembuh nih” ucap Tristan tersenyum puas.


Adira melirik Amanda sekilas dan meringis saat Amanda menatapnya tajam.


“kalian bisa nggak sih kalau mesra-mesraan jangan di depan jomblo?” ucap Amanda pura-pura menangis tersedu.


Adira ingin menimpali namun kalah cepat dengan suara lainnya.


“woah broo.. muka Lo biru-biru gitu. Kaya habis main tinju” ucap suara tersebut. Siapa lagi kalau bukan Doni.


Dia memang datang dengan Azka untuk menjenguk Tristan.


Kinara, Lidya dan Vian juga pasti akan datang juga sebentar lagi.


Tristan dan Vian memang jadi teman dekat semenjak liburan di Anyer waktu itu.


“Hahaha, kaya di sinetron sumpah! Drama banget hidup Lo” pekik Azka menimpali.


“apaan sih kalian datang-datang langsung ngatain. Ini tuh demi cinta” ucap Tristan tengil.


Adira tersenyum menanggapi. Sedangkan Amanda sudah memutar bola matanya jengah.


“Eh Amanda, gimana kabar kamu? Abang rindu” ucap Doni lebay.


“iiih jijik. Lebay banget sih. Abang.. Abang..” ucap Amanda tak terima.


Doni memang sudah menyimpan perasaan untuk Amanda sejak lama. Namun dia seperti enggan untuk mengungkapkan perasaannya.


Karena Amanda selalu saja adu mulut jika bertemu dengannya. Itulah yang membuat Doni ragu dan takut ditolak.


“gitu banget Lo sama gue. Entar jatuh cinta baru tau rasa” ucap Doni lagi sambil cemberut.


“Udah ya. Kalian tuh berantem terus. Kalian kesini kan mau jenguk kak Tristan. Jadi kembalilah ke tujuan awal” ucap Adira menengahi.


Karena acara adu mulut pasti tidak akan berlangsung sebentar. Lebih baik Adira segera menghentikannya.


“Eh Ra, Lidya belum datang ya?” ucap Azka berbisik di telinga Adira.


Doni dan Azka memang langsung duduk di pinggiran sofa yang di duduki Adira dan Tristan.


“Bisik-bisik apa sih Lo. Nggak usah Deket-deket deh”. Ucap Tristan sambil merangkul tubuh Adira.


“Bucin amat Lo. Perasaan dulu nggak kaya gini waktu sama sindy” ucap Azka keceplosan.


Tristan langsung memelototi Azka sampai-sampai bola matanya rasanya ingin keluar.


“emang dulu gimana kalau sama sindy kak?” tanya Adira mulai tertarik dan menatap antusias ke Azka.


“Dulu tuh Tristan nggak bucin. Kesannya kaya sindy yang ngejar gitu” ucap Azka membocorkan.


“Udah, nggak usah bahas masalalu. Yang terpenting adalah masa sekarang dan masa depan” ucap Doni bijak.


Tumben-tumbenan otaknya nggak gesrek.


“Iya, ya terpenting sekarang aku dan kamu Ra” ucap Tristan menyetujui.


Okelah, Adira tidak akan menanyai tentang masalalu lagi.


Ting. Tong.


Terdengar suara bell dari arah depan. Semua menghentikan kegiatannya masing-masing.


“Gue buka pintu dulu “ ucap Amanda dan berlalu.


Tidak berapa lama muncullah Lidya, Kinara dan Vian.


Mungkin mulai hari ini Adira dan Tristan harus melupakan kejadian menyeramkan kemarin. Mereka harus melupakan ketegangan hidup yang terjadi.


Dan itu tentu saja bisa langsung terealisasi dengan adanya teman-teman mereka.


note: Adira dari dekat



kalau ini Tristan pas senyum malu-malu😆