Treat You Better

Treat You Better
Kenrick sakit.



Tristan sedang merebahkan dirinya di kasur setelah seharian berada di rumah Adira.


Saking bahagianya, dia sama sekali tidak merasa lelah. Tapi rasa lelah itu datangnya sekarang.


Saat Tristan mulai memejamkan matanya, ponselnya tiba-tiba berdering.


Tristan langsung menyambar ponsel tersebut dan ada pesan dari nomer tidak dikenal.


 


Tris. Tolong aku


Ken demam dan sekarang berada di rumah sakit. Dia manggil nama Daddy terus dari tadi.


Jika kamu bersedia, tolong bantu aku dan datang ke rumah sakit.


Maaf telah merepotkanmu lagi.


 


Begitulah isi pesan dari nomer tidak dikenal itu. Tristan jelas langsung tau siapa pengirim pesan itu.


Tristan mengusap wajahnya frustasi. Dia berpikir, bahagianya akan segera tiba.


Tapi kenyataannya, masalah seperti ini datang lagi dan merusak suasana bahagia di hatinya.


Dia tidak membalas pesan itu. Namun dia langsung menggulirkan layar ke aplikasi panggilan.


Dia menelepon Adira. Dia akan membicarakan ini kepada Adira.


Bagaimanapun juga, Tristan tidak ingin ada kesalah pahaman nantinya.


Tut. Tut. Tut.


Tepat di dering ketiga, telepon di angkat.


“hallo kak? Kenapa? Kangen? Kan baru ketemu.” Ucap adira memberondong di akhiri decakan.


Tristan terkekeh.


“aku mau kasih tau kamu sesuatu” ucap Tristan to the point’.


“Kasih tau sesuatu? Apa?” tanya Adira masih bersikap biasa saja.


“aku mau bilang.....” ucap Tristsn terpotong.


“mau bilang apa? Bilang aja. Nggak papa kok?” ucap Adira santai.


“Bilang tidak ya... Bilang tidak ya... Bilang tidak ya..” jawab Tristan malah bernyanyi.


Adira jelas tertawa.


Pikiran stress yang melanda tadi seakan menguap begitu saja di otak Tristan.


Hidup memang harus ada selingan bercanda biar tidak terlalu tegang.


“Ra.. aku mau bilang.. kalau tadi sindy WA aku” ucap Tristan sengaja berhenti untuk mendengar respon Adira.


Adira jelas terkejut tapi dia berusaha menyembunyikannya.


“teruuus?” tanya Adira berusaha santai.


“Dia minta aku datang ke rumah sakit karena Ken sakit dan selalu manggil nama Daddy.” Lanjut Tristan menjelaskan.


Terdengar helaan nafas dari seberang telepon.


Tristan tau ini menyakitkan untuk Adira. Tapi akan lebih menyakitkan jika dia menyembunyikannya.


“Ya udah datang aja. Kasian kan”, ucap Adira terdengar tidak rela.


“Ya udah” ucap Tristan singkat lalu mematikan telepon begitu saja.


Adira langsung membanting ponselnya di atas kasur.


“kenapa aku nggak bisa bahagia sebentar aja sih. Kenapa mesti adaaa aja masalahnya” monolog Adira sambil menjambak rambutnya frustasi.


 


Sedangkan Tristan, dia sedang perang batin. Dia ingin Adira tidak mengizinkannya. Tapi kenapa Adira malah langsung memberinya izin.


Akhirnya dua sejoli itu memilih tidur dengan pikiran yang masih berkecamuk.


Lusa adalah hari bahagianya. Tapi cobaan seperti enggan untuk menepi sebentar.


 


Keesokan paginya, Adira sudah bersiap dengan dress selutut berwarna Lilac. Dia menguncir rambutnya menjadi satu.




Dia terlihat begitu anggun dan cantik.


Setelah semalaman berpikir dan susah tidur , Adira memutuskan untuk datang kerumah Tristan.


Dia tidak akan membiarkan Tristan datang sendiri menemui mantan kekasihnya itu.


Adira merasa tidak rela.


Masalah fitting baju pertunangan, untungnya dia sudah menyelesaikannya kemarin. Jadi hari ini dia free.


Setelah selesai berpakaian, dia menuju ruang makan. Di ruang makan, keluarganya sudah berkumpul untuk sarapan.


Jangan lupakan tas berwarna putih yang sudah di tenteng di tangan Adira.


“Aku mau ke rumah sakit. Temen kak Tristan ada yang sakit. Aku diminta menemani” ucap Adira tidak sepenuhnya bohong.


Pasalnya dia belum memberi tahu Tristan jika dia akan menemani datang ke rumah sakit. Dia memilih langsung datang kerumahnya saja.


“Oooh... Ya udah. Jangan kesorean pulangnya. Takut kamu capek. Kan besok hari penting kamu” ucap Bu Dewi yang sebenarnya sudah memberi ijin.


Lalu setelah sarapan selesai, Adira menyuruh pak Budi mengantarnya ke rumah Tristan.


Akhirnya Adira sampai di rumah Tristan.


Di depan rumah, Adira melihat tukang kebun sedang menyirami tanaman. Maklum hari masih menunjukkan pukul tujuh. Waktu yang tepat untuk menyirami bunga sebelum matahari benar-benar terik.


“Pagi pak.” Sapa Adira dengan tersenyum manis.


“Pagi juga non. Langsung masuk aja non” ucap tukang kebun tersebut.


Adira pun mengangguk dan mulai masuk ke dalam rumah Adira.


“Assalamu’alaikum” sapa Adira di depan pintu.


“waalaikum salam.. eeh Adira... Tumben pagi gini kesini. Ayo masuk” jawab Bu Siska yang melihat kedatangan Adira dan langsung menghampirinya.


“Hehehe. Iya Tante. Tristannya ada Tan?” tanya Adira to the point’.


“huh!! Dia belum bangun Ra. Bangunin sana. Tante jamin pasti langsung bangun kalau kamu yang bangunin” ucap Bu Siska tersenyum menggoda.


Adira bernafas lega. Akhirnya perjuangannya tidak sia-sia bangun pagi.


“sebenarnya, kami mau ke rumah sakit buat jenguk anak mbak sindy yang sedang sakit Tante “ ucap Adira sedikit berbohong.


“Ya Ampun.. sakit?? Kasian banget. Ya udah sana buruan bangunin” ucap Bu Siska mendorong bahu Adira pelan.


“Ya udah. Aku bangunin dulu ya Tan. Takut jam besuknya keburu habis “ ucap Adira berpamitan dan setelah mendapat persetujuan, dia segera naik menuju kamar Tristan.


Adira langsung memutar knop pintu dan tidak di kunci.


Dia membuka pintu lebar-lebar dan masuk ke dalam guna membangunkan Tristan.


“kak... Bangun dong. Udah siang nih” ucap Adira sambil menepuk pelan pipi Tristan.


Tristan menggeliat. Perlahan dia membuka matanya.


Dia tampak memicing karena matanya sedang menyesuaikan cahaya yang masuk.


Saat tau siapa yang membangunkannya, Tristan langsung menarik tangan adira.


Adira langsung terjatuh di atas tubuh Tristan karena tarikan yang tiba-tiba dan mengejutkannya.


Tanpa ba bi bu, Tristan membalikkan tubuh Adira. Sekarang posisi Adira berada di bawah Kungkungan Tristan.


“issh.. kak... Bangun... Jangan cari kesempatan dalam kesempitan deh” ucap Adira berusaha melepaskan diri.


“Salah sendiri.. kamu bikin aku nggak bisa tidur semalaman” ucap Tristan masih dengan mata terpejam.


Dia langsung menjatuhkan dirinya di sebelah Adira dan memeluknya.


“kak... Aku nggak tutup pintu.. nanti ada yang liat aku malu” rengek Adira lagi karena Tristan tak kunjung melepaskannya.


“kamu ada apa kesini sepagi ini?” tanya Tristan diluar pembahasan.


“Aku.... “ ucap Adira ragu-ragu.


“aku apa?” tanya Tristan tak sabaran.


“Aku nggak mau kakak ke rumah sakit sendiri. Ayo aku temani. Buruan kakak mandi dong” ucap Adira.


Tristan berhasil membuka matanya lebar-lebar dan tersenyum begitu puas.


Ini baru penyelesaian masalah yang tepat. Batin Tristan.


"ck. kenapa kamu nggak kasih solusi ini dari semalam sih. aku kan nggak perlu kurang tidur begini Ra" ucap Adira berdecak.


"emang cuma Kaka yang nggak bisa tidur. aku juga mikirnya semalaman. aku nggak rela kakak deket-deket sama mantan" ucap Adira setelah berhasil melepaskan diri.


"buruan mandi kak. jam besuknya jam 9. nanti keburu habis." perintah Adira.


"iya... iya.. aku mandi nih ibu ratu" jawab Tristan santai.


namun sebelum itu dia mengecup bibir Adira sekilas dan langsung berlari ke kamar mandi terbirit-birit.


Adira geleng-geleng kepala dan tersenyum bodoh.


.


.


.


.


.


.


.......


jangan lupa aku dikasih hadiahnya ya hehe.


jadi makin semangat kalau dapat like dan komen dari kalian.😊