Treat You Better

Treat You Better
70. Jadian?



Pukul lima sore tepatnya, Adira dan Tristan sudah berada di Jakarta.


Keduanya di sambut bahagia oleh para orangtua dan juga Amanda.


Sesuai janjinya, Tristan membawa Adira pulang kerumahnya.


Mereka akan menginap dua hari disana. Begitu juga nanti di rumah orangtua Tristan, mereka akan menginap dua hari juga.


Tristan mengatakan, agar bisa adil pada semuanya sebelum Adira dan Tristan pindah ke rumahnya.


Saat pertemuan kembali terjadi setelah satu minggu Adira pergi, bu Dewi langsung memeluk anak kesayangannya itu.


Dia sangat merindukan Adira. Setelah itu, giliran bu Siska yang memeluk Adira untuk melepas rindu pada menantunya itu.


“Aku belum dapet pelukan dari kakak Ipar lho.” ucap Amanda cemberut karena sejak tadi, Adira terus di monopoli oleh emak-emak.


“Ya udah situ kangen-kangenan dulu. Kita (sambil menunjuk dirinya dan bu Dewi) emak gaul pamit dulu kebelakang.” ucap bu Siska berpamitan.


Bu Dewi mengangguk tanda setuju. Lalu kedua emak tersebut berlalu meninggalkan Adira dan Amanda di ruang depan.


Tristan sudah masuk ke dalam untuk menemui papa dan mertuanya.


“Utututu ... Sini peluk ....” ucap Adira sambil merentangkan tangannya.


Amanda tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung berhambur memeluk Adira.


“Gue kangen banget sama Lo, Ra. Banyak banget yang mau Gue ceritain ke Lo.” ucap Amanda masih dalam posisi memeluk.


“Tentang apa nih?” tanya Adira meledek.


“Nanti Gue ceritain semuanya. Gue juga mau minta sarannya ya.” ucap Amanda terdengar murung.


Adira yang memahami nada tak biasa dari Amanda pun langsung melepas pelukannya dan menatap Amanda menyelidik.


“Semua baik-baik aja kan, Man?” tanya Adira khawatir.


Kalau Adira lihat, Amanda seperti sedang menyimpan beban pikiran. Namun Adira tidak tahu apa penyebabnya.


Amanda hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis.


Adira melihat ada luka di senyum yang Amanda tunjukkan.


“Entar kita harus bicara. Sekarang Gue urus dulu para orangtua ya.” ucap Adira sambil menepuk pelan bahu Amanda dan mencoba memberi ketenangan disana.


Setelah berkata demikian, Adira segera berlalu menemui semua orangtuanya.


 


Satu jam Adira habiskan untuk bercengkrama dengan orangtua dan mertuanya.


Setelah itu, dia pamit dengan alasan ingin melepas rindu dengan Amanda.


Amanda yang berada di satu ruangan pun mengangguk menyetujui.


Para orangtua tentu mengizinkan dan membiarkan mereka menepi.


Tristan yang penasaran pun mengikuti Adira dan Amanda melangkah.


Karena ini rumahnya, Adira mengajak Amanda menuju balkon atas. Tempat yang nyaman untuk bercerita.


“Kayaknya kita butuh minum deh ya. Bentar aku suruh bik Yati bawain kesini ya.” ucap Adira setelah mereka sampai di balkon atas.


Amanda mengangguk menyetujui. Karena Amanda juga akan bercerita panjang kali lebsr. Jadi, agar kondisi tenggorokan aman, yang di ucapkan Adira memang ada benarnya.


Sambil menunggu Adira, Amanda duduk terlebih dahulu di kursi yang tersedia.


Dia menarik nafas lalu menghembuskannya. Amanda berharap, setelah dia bercerita tentang masalahnya, dia bisa mendapat pencerahan tentang apa yang harus dia lakukan kedepannya.


“Nih ... Gue bawain minuman dingin. Biar otak juga dingin hehe.” ucap Adira terkekeh.


Amanda hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar celetukkan Adira.


“Mau cerita apa, Man? Mulai aja sekarang yok ....” ucap Adira to the point’.


“Ini tentang kak Doni, Ra.” ucap Amanda memulai cerita.


Namun saat ingin melanjutkan, suara Tristan mengangguk perbincangan kedua nya.


“Ada apa dengan Doni? Dia nyakitin Lo? Atau Lo yang nyakitin dia?” berondong Tristan lalu mendudukkan dirinya di pinggiran kursi yang di duduki Adira.


“Abang ganggu aja sih. Aku tuh mau curhat.” rengek Amanda tidak terima.


“Lo kan bisa cerita ke gue sama Adira, Man. Nggak bakal gue judge. Bukannya selama ini, Gue yang selalu dengerin Lo curhat.” ucap Tristan sambil menatap Amanda lembut.


Adira mendongak dan tersenyum menatap Tristan yang bisa jadi teman bercerita dengan baik.


Amanda mengangguk dan tersenyum lega. Ada dua orang yang mau mendengar keluh kesahnya.


“Makasih banget ... Aku beruntung punya kakak seperti kalian.” ucap Amanda berkaca-kaca.


“Kaya sama siapa aja. Yok cerita. Kapan mulainya nih ....” ucap Adira lagi to the point’.


Amanda mengangguk dan mulai menceritakan semuanya.


Dari tragedi tarik ulur Amanda dan Doni di acara lempar bunga, Amanda yang mencoba menghindari Doni, hingga pertemuan terakhir keduanya saat ban mobil Amanda kempes.


Amanda juga menceritakan soal ucapan dirinya yang sudah keterlaluan hingga membuat Doni selama tak pernah mau bicara lagi dengannya.


Amanda merasa menyesal telah membuat Doni seperti sekarang ini.


Dia juga menceritakan bahwa Doni sekarang berubah menjadi pendiam. Padahal biasanya Doni orang yang paling heboh di geng mereka.


Adira dan Tristan tampak antusias mendengarkan setiap ungkapan Amanda.


Setelah Amanda selesai bercerita, Adira menghela nafasnya kasar.


“Terus setelah ini, Lo maunya gimana?” tanya Adira sesat kemudian.


“Gue pengen minta maaf ke bang Doni. Dan gue juga mau, bang Doni balik lagi kayak dulu.” lirih Amanda menyesal.


“Bukannya Lo harusnya seneng gitu. Secara ... Lo kan suka adu mulut dengannya. Kalau dia berubah jadi pendiam kan nggak ada lagi temen gelud.” Ucap Adira memancing Amanda.


“Gue juga bingung. Kenapa gue terganggu saat bang Doni ngediemin Gue.” ucap Amanda lirih.


Kena!


Amanda masuk dalam perangkap Adira. Sudah Adira duga bahwa Amanda mulai menyukai Doni.


“Fiks! Ini sih ... Lo udah ada rasa sama Doni. Akui aja, Man. Nggak perlu gengsi.” ucap Amanda mencoba memberikan pencerahan untuk Amanda.


“Gue malu, Ra. Gue pernah bilang sampai dunia kiamat pun gue nggak bakal mau nikah sama Doni. Dan itu buat Gue merasa malu sama diri Gue sendiri.” ucap Amanda sambil menundukkan kepala.


Adira dan Tristan tergelak bersamaan.


Amanda mengernyit bingung.


“Kok pada ketawa sih ....” ucap Amanda tidak terima.


“Y abisnya Lo ngomong gitu segala sih. Kalau Lo suka ya kejar dong.” ucap Adira memberi saran.


“Turunin gengsi Lo, Man. Dulu, Doni yang selalu ngejar Lo. Sekarang giliran Lo yang kejar dia. Jangan sampai Lo nyesel nanti.” Imbuh Tristan.


Dia tidak masalah jika akhirnya Amanda memilih Doni sebagai pelabuhan terakhirnya.


Tristan percaya, Doni adalah orang yang ideal dan bisa membimbing adiknya itu dengan baik.


..............


 


Setelah mendapat kritik dan saran dari kakaknya, Amanda bersungguh-sungguh untuk meminta maaf dan menjemput cintanya.


Tidak apa dia disebut murahan karena mengejar seorang pria. Sesuatu yang tidak pernah Amanda lakukan semasa hidupnya.


Ting tong.


Amanda memencet bel yang berada di apartemen Doni.


Belum ada jawaban dari dalam. Amanda akhirnya menekan bel kembali.


Ting tong.


Ting tong.


Ceklek.


Pintu apartemen terbuka dan menampakkan pemandangan seorang Doni dengan muka bantal khas bangun tidur.


Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, dan Doni belum bangun juga dari tidurnya?


“Siapa sih ... Berisik banget.” ucap Doni setelah membuka pintu apartemennya.


“Aku, Bang.” jawab Amanda lirih.


Doni langsung membuka matanya lebar-lebar setelah mendengar suara yang sudah beberapa hari ini dia rindukan.


Dia mengucek matanya berulang-ulang karena takut salah dengar atau mungkin dia sedang berhalusinasi.


Tetap saja, sosok Amanda masih berdiri dengan cantik di depan pintu apartemennya.


Cara terakhir, Doni menampar pipinya sendiri.


Plak.


Plak.


Ternyata sakit. Ini adalah nyata. Amanda yang ada di depannya adalah nyata.


Amanda terkekeh melihat reaksi Doni yang dianggapnya berlebihan.


“Ini aku, Bang. Kaki aku pegel nih ... Nggak disuruh masuk?” tanya Amanda kemudian.


Doni segera tersadar dan menyuruh Amanda masuk ke dalam apartemennya.


Doni mempersilahkan Amanda duduk di sofa dan dia berpamitan untuk membersihkan dirinya dahulu.


Amanda tersenyum dan mengangguk.


Dia bahagia. Setidaknya, kedatangannya ke apartemen Doni di terima dengan baik.


.


.


.


.


.


.


.


**jangan lupa kasih dukungan buat karya aku ya😊


dukungan kalian sangat membantu.


caranya dengan like, komen, vote dan kasih hadiah semampu kalian.


makasih juga buat kalian yang masih setia baca karya aku. ya walaupun masih amburadul.


sekali lagi makasih banget.


salam hangat dari aku, author amatiran😊**