Treat You Better

Treat You Better
132. Salah paham



Tristan tampak terdiam memikirkan kata-kata apa yang harus dirinya ucapkan, agar tidak menyinggung perasaan Briana.


“Iya, nanti akan saya pertimbangkan. Sekarang kamu bisa keluar dahulu, pintu keluarnya ada di sana,” ucap Tristan sambil menunjuk ke arah pintu masuk.


“Baiklah, Pak. Terima kasih.”


Setelah itu, Briana berdiri dari duduknya untuk berjalan menuju pintu. Namun, belum sempat Briana berdiri sepenuhnya, tubuhnya tiba-tiba limbung.


Tristan yang melihat tubuh Briana limbung pun segera beranjak dari kursi dan,


Hap!


Tubuh Briana berhasil di tangkap oleh Tristan dan tidak jadi terjatuh ke lantai.


Briana terlihat memegangi pelipisnya, mungkin karena merasakan pusing pada kepalanya.


“Terima kasih, Pak, karena sudah mau menolong saya,” ucap Briana yang masih berada di dekapan Tristan.


“Kamu sedang tidak enak badan? Duduk dulu di sana,” perintah Tristan menunjuk sofa yang tergeletak di ruang kerjanya.


Tristan segera memapah Briana menuju sofa agar Briana bisa beristirahat sebentar. Dengan beristirahat, itu akan mengurangi sedikit rasa pusing yang Briana rasakan.


Tanpa Tristan tahu, Adira sudah berdiri di ambang pintu sambil mengamati interaksi Tristan dengan gadis yang bernama Briana itu. Adira berniat untuk membawakan makan siang untuk suaminya sebagai permintaan maaf karena semalam sudah tidur lebih dulu.


Adira juga ingin meminta maaf karena tidak membujuk suaminya itu untuk tidak cemburu lagi. Tadi pagi, Adira belum sempat bertemu dengan suaminya itu, karena dirinya sedang mengajak Aarav dan Echa jalan pagi.


Tapi yang membuat Adira tidak menyangka adalah, suaminya itu sedang berduaan dan bermesraan dengan perempuan lain di dalam ruang kerjanya.


Bahkan, perempuan itu terlihat masih muda dan sangat cantik. Berbeda dengan dirinya yang sudah berumur dan mempunyai anak. Jelas jauh berbeda sekali dengan Adira.


Prang!


Seketika, rantang berisi makan siang untuk Tristan, yang sengaja Adira bawakan, jatuh ke lantai hingga semua isinya berhamburan keluar.


Tristan dan Briana sama-sama mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Dan betapa terkejutnya Tristan ketika melihat Adira sudah berdiri di ambang pintu dengan air matanya yang sudah berderai.


Sedangkan Briana, dia mengerutkan dahinya tanda bingung dengan situasi yang sedang dia alami.


Tanpa menunggu lama lagi, Adira segera berlari keluar dari kantor. Hatinya merasakan sakit dan kecewa lagi saat memergoki suaminya sedang bersama wanita lain.


Niatnya ingin memberikan kejutan untuk suaminya, justru Adiralah yang dibuat terkejut dengan pemandangan di dalam ruang kerja suaminya.


Entah mengapa, Adira sudah berlari sejauh mungkin, namun seakan lama sekali untuk mencapai pintu lift.


“Adira! Tunggu! Aku bisa jelaskan semuanya, kamu hanya salah paham!” pekik Tristan sambil berlari mengejar Adira.


Adira sudah tidak mendengarkan teriakan dan panggilan yang suaminya ucapkan. Hatinya sudah terlalu sakit karena ini bukan untuk yang pertama kali Adira melihat suaminya bersama wanita lain.


Hap!


Tristan berhasil mencekal pergelangan tangan Adira dan segera menggendong tubuh Adira ke dalam ruang kerjanya lagi.


Tristan menggendong Adira dengan meletakkan tubuh Adira di bahunya dan posisi tubuh Adira menghadap ke belakang. Adira berusaha memberontak sekuat tenaga agar diturunkan dari gendongan suaminya.


Tangannya Adira gerakan untuk memukul punggung suaminya yang telah lancang menggendong tubuhnya secara paksa.


Beruntung, tidak banyak karyawan yang berada di lorong tersebut. Ruang kerja Tristan memang berada di lantai yang paling atas sehingga, hanya orang-orang tertentu dan berkepentingan yang mendatangi lantai atas itu.


“Lepas! Kamu jahat banget sih, Mas!” teriak Adira berusaha memberontak.


Setelah sampai di ruangannya, Tristan segera mendudukkan Adira di meja kerjanya. Briana yang memang masih berada di ruangan tersebut hanya bisa tersenyum canggung saat matanya bertemu dengan mata Adira.


Sedangkan Adira, dia langsung melengos dan tidak membalas senyuman yang Briana berikan.


“Apa! Mau jelasin yang kaya gimana lagi? Mau beralasan seperti apa lagi?!” tanya Adira bernada ketus dan sedikit meninggi.


Tristan menghela nafasnya lelah karena merasa tidak mudah membawa Adira dalam gendongannya. Karena Adira terus meronta meminta untuk di lepaskan. Punggungnya sampai rela Tristan jadikan sasaran kemarahan istrinya itu.


“Sayang ... Sayang ... Nggak ada sayang-sayangan,” racau Adira ketus.


Tristan tersenyum penuh kemenangan melihat wajah kesal dan cemberut yang Adira tunjukkan karena merasakan cemburu.


berbeda dengan Adira, dia merasa dongkol dan kesal melihat wajah santai suaminya itu. Apalagi senyumnya yang sangat menyebalkan seakan dirinyalah yang sudah menang. Adira duduk dengan anteng di meja sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Adira berkata.


Sedangkan Briana, dia terus menunduk karena takut dan merasa bersalah dengan suami istri yang ada di hadapannya itu.


“Jelaskan sekarang juga!” perintah Adira dengan nada angkuhnya.


“Baiklah, Sayang. Briana ... Jelaskan semuanya dengan detail tanpa ditambah atau di kurangi,” ucap Tristan memerintahkan Briana untuk menjelaskan kejadiannya.


Setelah itu, Briana menjelaskan semua kejadian yang menimpa dirinya. Briana  meminta maaf karena telah membuat kesalahpahaman di antara Tristan dan Adira. Tidak lupa, Briana menjelaskan niat awalnya datang ke kantor, yaitu untuk melakukan interview.


“Maafkan aku, aku sudah salah paham,” ucap Adira tanpa malu untuk meminta maaf lebih dulu.


“Tidak apa-apa, Bu. Saya memang yang bersalah karena sudah membuat kalian salah paham,” jawab Briana yang juga mengakui kesalahannya.


“Kalau begitu, saya keluar dulu ya, Pak, Bu. Permisi,” ucap Briana sambil beranjak dari sofa.


“Kamu beneran udah nggak pusing lagi?” tanya Adira memastikan.


“Sudah mendingan kok, Bu,” jawab Briana sambil tersenyum ramah.


Setelah Briana keluar dari ruangan, Tristan segera membawa tubuh Adira ke dalam pelukannya. Tristan juga mengecupi dahi Adira berulang-ulang untuk menyalurkan rasa sayang dan sebagai tanda permintaan maaf karena sudah membuat istrinya itu cemburu.


“Kamu bawa makanan apa tadi?” tanya Tristan sambil merenggangkan tubuhnya dan menatap penuh cinta pada Adira.


“Udah tumpah juga. Terus, Mas mau makan apa? Mau makan di kantin atau delivery saja? Biar aku pesankan,” tanya Adira perhatian sambil memainkan dasi yang bertengger di leher Tristan.


“Kalau makan kamu aja gimana?” tanya Tristan sambil tersenyum menggoda.


“Ish ... Aku serius, Mas,” ucap Adira sambil memukul lengan suaminya pelan.


“Aarav sama Echa di titipkan di mana?” tanya Tristan yang teringat kedua anaknya itu.


“Tadi duo mama datang ke rumah, ya udah deh, aku titipin ke mereka aja,” jawab Adira menjelaskan.


“Mereka memang tahu yang terbaik untuk aku,” ucap Tristan sambil smirk menatap Adira.


Adira yang memang paham dengan maksud ucapan Tristan pun segera menyangkal, “Aku lagi datang bulan loh,”


Bahu Tristan langsung merosot mendengar ucapan Adira yang bagaikan petaka untuk para suami saat pada malam hari. Dan itu akan bertahan dari lima sampai tujuh harian. Tristan harus berpuasa selama tujuh hari dan tidak mendapat jatahnya.


Adira tersenyum melihat wajah suaminya yang berubah menjadi sangat menyedihkan setelah mendengar ungkapan dari dirinya. Untuk menenangkan suaminya, Adira mempunyai rencana untuk menyenangkan suaminya itu tanpa harus melakukan penyatuan.


“Mas memangnya mau sekarang?” tanya Adira ambigu.


Tristan mengerjapkan matanya berulang-ulang tanda kurang paham dengan tawaran yang Adira berikan. Bukankah Adira mengatakan sedang datang bulan? Lalu, Adira menawarkan apa kepadanya? Pikir Tristan bertanya-tanya.


 “Aku bisa memuaskan Mas tanpa harus melakukan penyatuan,” ucap Adira dengan nadanya yang sensual. Tangannya sibuk bermain di kancing kemeja yang suaminya kenakan.


Tristan langsung menelan ludahnya dengan kasar karena sesuatu di bawah sana langsung terbangun mendengar suara mendayu-dayu milik Adira. Entah belajar dari mana istrinya itu, hingga sekarang berubah menjadi sangat nakal dan menggemaskan.