Treat You Better

Treat You Better
Gara-gara telur gulung.



Setelah selesai makan, Tristan tidak langsung mengajak Adira pulang. Dia akan mengajak Adira mampir ke pasar malam dahulu. Kebetulan saat akan menuju warung pecel lele, di perjalanan Tristan melihat ada even pasar malam. Jadilah Tristan mengajaknya kesana. Berhubung jam juga belum terlalu malam.


“Kok berhenti si? Nggak langsung pulang?”. Tanya Adira sesaat mobil Tristan berhenti di pinggir jalan. Adira belum menyadari jika diseberang jalan ada pasar malam.


Tristan hanya tersenyum menanggapi karena sekarang fokusnya harus terbagi dengan memarkirkan mobil. Agar tidak menganggu pengguna jalan, Tristan harus parkir dengan benar.


“Lihat kesana coba.. kita kesana dulu. Mau?”. Ucap Tristan setelah berhasil parkir dengan benar dan mematikan mesin mobil. Tangannya menunjuk ke arah dimana pasar malam berada.


Wajah Adira langsung berbinar ketika melihat ada pasar malam diseberang sana.


“Mau!.. mau banget malah. Ayo turun”. Jawab Adira sangat antusias.


Lalu keduanya segera turun dari mobil dan bersiap untuk menyeberang jalan.


Tangan Tristan terulur meraih jemari Adira. Tristan menggandeng nya. Adira tersentak dengan perlakuan Tristan. Matanya berkedip-kedip gugup sambil menatap ke arah Tristan. Perlakuan Tristan membuat kerja jantungnya lebih cepat. Hingga suara Tristan membuyarkan keterpakuan Adira.


“Ra, kita nyebrang dulu”. Ucap Tristan sambil celingukan memastikan jalanan aman. Adira segera mengembalikan jiwanya di alam nyata, setelah berada di atas awan.


“Iya kak”.


Keduanya berhasil menyebrang dengan selamat. Setelah sampai di tengah-tengah pasar, Adira mengedarkan pandangan menatap para penjual berjajaran. Kerlap-kerlip lampu dan alunan berbagai musik yang seperti penjual kaset, memperamai suasana malam hari di pasar malam itu.


Mata Adira langsung tertuju pada penjual telur gulung. Lidahnya seakan memproduksi air liur berlebih saat melihatnya.


“Kak, beli telur gulung dong. Enak banget kayaknya”. Ucap Adira tanpa mengalihkan pandangan.


“Oke kita kesana”. Jawab Tristan langsung menyetujui.


Lalu keduanya berjalan. Tidak, lebih tepatnya hanya Tristan, karena Adira sudah berlari lebih dulu.


Tristan hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah Adira. Sudah seperti anak kecil saja.


“Satu berapaan bang?”. Tanya Adira tak sabaran setelah sampai di stand penjual telur gulung.


“Satu, dua ribu mbak”. Jawab penjual yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


“Beli sepuluh kalo gitu bang”. Ucap Adira lagi.


“Oke, ini mbak. Jadi dua puluh ribu”. Ucap Abang penjual sambil menyodorkan telur gulung pesanan Adira .


Adira merogoh saku Jeansnya dan menemukan uang selembar dua puluh ribuan. Namun saat hendak membayar, ada tangan lain yang lebih dulu terulur.


“Pakai ini aja”. Ucap Tritan sambil mengulurkan uang lima puluh ribuan. Adira menoleh dan tersenyum sumringah.


“Oke”. Jawab Adira sambil mengedipkan mata genit. Tristan hanya terkekeh. Walau debaran jantungnya sudah tak karuan.


Abang penjual segera menerima uangnya dan akan mengambil kembalian, namun segera diurungkan oleh Tristan , dan mengatakan kembaliannya buat Abang aja. Begitulah kira-kira.


Adira tersenyum takjub menatap Tristan.


Lalu keduanya segera mendudukkan diri di kursi kosong yang tersedia.


Adira segera mengambil satu telur gulung dan melahapnya. Dia juga menyodorkan kepada Tristan untuk ikut memakannya. Tristan mengambil satu gulung.


“Enak banget beneran”. Ucap Adira dengan mulut penuh makanan.


Tristan menanggapi dengan anggukan. Tidak diragukan lagi soal rasanya. Tristan mengakui itu.


Setelah habis satu gulung, Tristan mengambil satu gulung lagi dan menyodorkan ke depan mulut Adira. Adira reflek membuka mulutnya untuk menerima suapan Tristan. Bertepatan saat Adira menggigitnya, Tristan memajukan wajah dan menggigit dibagikan yang tak tergigit oleh Adira.


 Keduanya seperti berciuman tapi berpenghalang telur gulung. Tristan tersenyum smirk saat mata mereka beradu sangat dekat. Bahkan Tristan bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Adira menerpa wajahnya.


Adira membelalakan mata. Tristan selalu curi kesempatan dalam kesempitan. Ini bukan yang pertama Adira berdekatan hingga seintim itu, tapi entahlah. Jantungnya selalu upnormal jika berada di dekat Tristan.


Adira menggercap untuk mengumpulkan kesadarannya. Setelah sadar, dia langsung mundur dan membuang pandangan asal. Yang penting bukan memandang Tristan. Karena Adira yakin, wajahnya sekarang sudah memerah.


“Masih aja merah tuh pipi. Padahal baru gitu doang. Gimana nanti kalau udah nikah Ter..... Aw!!. Sakit ra!! Stop! Aw!”. Ucap Tristan diikuti pekikan kesakitan karena mendapat pukulan dan cubitan dari Adira.


Mengapa Tristan suka sekali menggodanya? Dan itu membuat Adira MALU. Tapi sebenarnya dalam hati Adira MAU. Wkwk.


Setelah puas, akhirnya Adira melepaskan Tristan dari amukannya. Dia bersandar pada kursi, tangannya terlipat di depan dada, sedangkan bibirnya sudah maju lima centi.


Tristan terkekeh lagi. Bukannya jelek, Adira malah tambah cantik dan imut jika sedang cemberut.


“Iya maaf deh. Aku janji bakal ulangin lagi”. Ucap Tristan dengan senyum seringainya.


“Apa!!?”. Pekik Adira pura-pura tak dengar.


“Hehe, nggak.. nggak kok. Kata kamu, orang kalo marah itu cepet tua. Jadi gimana kalo kita marah sama-sama? Biar kita bisa menua bersama...”. ucap Tristan menirukan gombalan Adira tempo hari.


Dan itu berhasil membuat Adira tertawa untuk dirinya sendiri. Dia menutup wajahnya karena malu menderanya kembali.


Entahlah dia belajar dari siapa gombalan seperti itu dulu.


 


Di sela keromantisan keduanya terjadi, ada sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan merana. Dia adalah Elvan.


Dia memang datang ke pasar malam karena ajakan dari temannya. Dia juga tidak menyangka disini dia akan bertemu dengan sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara. Perasaan aneh menjalar di hati Elvan. Ada rasa tak terima melihat Adira bahagia dan tertawa lepas bersama orang lain. Mungkin benar kata pepatah


'Jangan membuat seseorang yang kamu cintai terluka dan menangis, karena kamu akan lebih sakit bila penyebab dia tertawa dan bahagia kembali bukan karena kamu, melainkan karena orang lain'.


Mungkin benar, sejak dulu dia menyukai Adira namun memilih untuk mengabaikannya karena Adira memang selalu bersamanya dulu. Berbeda dengan sekarang, jarak keduanya sudah sangat jauh. Elvan merasakan semua itu. Semua bermula dari pernyataan Adira hingga kemarahannya. Bodohnya, Elvan malah marah.


Mengapa dia tidak menyadari perasaanya sendiri? Aneh bukan sebagai manusia?.


Sekarang Adira sudah sangat jauh dan sulit untuk dijangkau. Tidak ada lagi Adira yang selalu menemani hari-harinya. Semua sudah berubah.


Tapi bukankah setiap orang berhak punya kesempatan kedua? Dan semua orang berhak memperbaiki diri?.


Tiba-tiba Elvan merasa mendapat secercah harapan. Dia akan berusaha mendapatkan cinta Adira kembali bagaimanapun caranya. Seperti dulu Adira mencintainya. Begitulah pikiran Elvan.


Tapi Elvan lupa, bahwa cinta tidak bisa dipaksa. Dan rasa sakit yang Elvan berikan sepertinya tidak akan pernah hilang di hati Adira. Walau sekarang dia sudah move on dan memilih kembali jatuh cinta.


“tunggu aku Ra. Sekarang aku yang akan berjuang seperti kamu dulu berjuang. Aku menyesal telah menyia-nyiakan cinta sebaik kamu. Semoga kita bisa bersama kembali. Akan aku usahakan segalanya”. Monolog Elvan kepada diri sendiri. Seakan yakin bahwa Adira akan menerimanya kembali.


Tidak! Tidak Roma!.


Tidak bisa!. Tidak semudah itu meraih cinta Adira.


Adira tipekal orang yang kalau udah cinta ya sangat setia. Sekali dua kali disakiti tidak masalah. Namun kalau sampai berkali-kali, secinta dan sesayang apapun Adira kepada orang tersebut, dia tidak akan pernah ragu untuk melupakan dan menghapusnya dari daftar orang terdekat.


Seperti yang Adira lakukan pada Elvan saat ini.