Treat You Better

Treat You Better
Awal Mula



Jangan lupa memberi jejak ya!😘


.


.


.


.


.


Mentari telah bersembunyi di balik pegunungan menyisakan langit sore berwarna jingga dan kini telah tergantikan oleh malam yang dihiasi jutaan bintang di angkasa dan rembulan yang tersenyum cerah di atas sana.


Seorang pria remaja berusia delapan belas tahun sedang bersila di balkon kamar apartemennya sambil membuka beberapa lembar buku pelajaran sekolahnya. Beberapa kali ia menguap menandakan bahwa tubuh kurusnya itu membutuhkan istirahat.


Sesaat perhatiannya teralihkan karena getaran dari benda pipih di sampingnya. Ia tersenyum ketika membaca nama yang tertera di layar sana.


"Halo, Mama," sapanya sambil tersenyum.


"Kau sedang belajar ya?" terdengar suara seorang wanita paruh baya dari seberang telepon.


"Hhmm...Begitulah, Mama" sahut Charles sambil tersenyum.


"Jangan terlalu memaksakan dirimu. Bagaimana kalau nanti kau sakit? Siapa yang akan mengurusmu di sana? Apa kau sudah makan?" terdengar nada khawatir Ibunya dari seberang telepon dengan memberinya runtutan pertanyaan.


"Jangan khawatir, mama. Aku tidak akan segampang itu sakit. Oh iya, ada apa mama meneleponku selarut ini?"


"Hei...Ada apa denganmu? Apa harus ada sesuatu baru mama boleh menelepon anak bungsu mama?" suara ibunya yang berpura-pura kesal terdengar di telinga Charles.


Charles terkekeh. Begitulah ibunya. Selalu menelepon padahal tidak ada hal yang terlalu penting menurutnya.


*****


Di dalam sebuah kamar berwarna putih yang didominasi beberapa warna krem, seorang gadis remaja sedang berkutat dengan sebuah novel yang dibelinya beberapa jam yang lalu. Sambil rebahan di ranjang king sizenya, ia berguling-guling dan sesekali tertawa karena ada adegan yang mengisahkan kejadian lucu. Hingga ketukan halus dari pintu kamarnya membuat mata indahnya mengerjap.


"Nona, Tuan dan Nyonya sudah di bawah menunggu nona makan malam," sahut seorang maid yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Iya. Aku segera turun!" teriaknya dari dalam kamar.


Abbie segera turun dari ranjangnya, tidak lupa ia memberi pembatas pada novel yang dibacanya tadi. Ia mengikat rambut panjangnya asal yang sejak tadi sudah acak-acakan karena guling-gulingan.


Di ruang makan yang luas itu, tampaklah sang ayah, Tuan Besar Benjamin D'Alejjandra dan ibunya, Nyonya Besar Elliza Jayden D'Alejjandra menunggu kedatangan putrinya.


"Maaf sudah membuat papa dan mama menunggu" sapanya sambil mencegah seorang maid yang hendak menarik kursinya ke belakang. "Biar aku saja" katanya.


Keduanya tersenyum menyikapi sikap anaknya yang manis itu.


Sekejab, suasana di ruang makan itu mendadak sunyi. Hanya dentingan sendok dan piring yang bersentuhan mengusik sepinya di tempat itu. Begitulah aturan makan yang diterapkan di dalam keluarga D'Alejjandra. Tidak boleh ada yang berbicara bahkan sekata pun hingga makanan di piring tandas.


Setelah menghabiskan makanan di piringnya, orang tua dan anak itu memasuki ruang keluarga dan bersantai. Hanya di saat-saat seperti inilah mereka mempunyai waktu untuk bersama.


"Bagaimana sekolahmu hari ini, sayang?" tanya Tuan Alejjandra pada putrinya mengawali pembicaraan mereka.


"Biasa saja, papa!" adu Abbie sambil mengerucutkan bibirnya yang mungil. Ayahnya hanya tertawa kecil menanggapi itu.


Lama mereka berbincang hingga tak terasa satu jam telah berlalu. Getaran handphone dari atas meja membungkam suara tawa kecil mereka.


"Siapa?" tanya Elliza ketika suaminya mengakhiri pembicaraan teleponnya. Tuan D'Alejjandra hanya tersenyum penuh arti yang langsung dipahami oleh istrinya, sedangkan Abbie hanya melongo melihat kebungkaman Ibunya.


Ada apa ini? Kenapa raut wajah mama seperti tidak suka begitu? Abbie membatin.


*****


Keesokan harinya, pagi-pagi buta seorang wanita paruh baya yang menenteng dua buah kantong plastik sudah berdiri menekan bel di depan pintu apartemen anaknya sambil menunggu anak remajanya itu membuka pintu. Sejuknya embun pagi hari di kota itu membuatnya mengeratkan sweater tipis yang membungkus kulitnya.


Tak lama kemudian, terdengar bunyi anak remajanya itu membuka password apartemen. Setelah pintunya terbuka, tampaklah sosok Charles yang acak-acakan khas sesorang yang baru bangun tidur. Ia terlihat sedikit terkejut melihat ibunya sudah berada di apartemennya.


"Mama?"


"Apa kau tidak suka melihat mamamu mengunjungimu?" raut kesal wanita paruh baya itu muncul lagi sambil menerobos masuk ke dalam.


"Ayolah, mama. Maksud ku bukan seperti itu. Aku hanya terkejut melihat mama datang pagi-pagi sekali bahkan aku belum bangun" jelas Charles menyengir dan membuntuti ibunya yang berjalan menuju ke dapur kecil di apartemen itu. Wanita itu meletakkan kantong-kantong plastik itu di meja dan membuka kulkas yang ada di pojok dapur itu.


"Mama sudah membuatkan paella dan catalana kesukaanmu."


Mendengar nama makanan kesukaannya itu membuat mata Charles yang tadi hampir tertutup lagi segera berbinar senang.


Setelah selesai sarapan pagi paella kesuakaannya, Charles segera membersihkan dirinya dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Tak lupa kacamata hitamnya bertengger di hidung mancungnya. Ibunya hanya menggeleng-geleng kepala melihat penampilan anak bungsunya yang terbilang kuno dan tidak sesuai jaman itu.


Mereka turun bersama-sama menuju lantai bawah setelah Charles merapikan penampilannya.


"Mama pulang dulu ya! Toko itu mama tinggalkan dengan kakakmu Byla tadi. Sebentar lagi dia akan kembali," jelas ibunya.


"Apa kak Byla tidak bisa tinggal lebih lama lagi di sini?" tanya Charles tidak senang.


"Kakakmu itu juga seorang ibu. Tidak baik meninggalkan keluarganya dan berlama-lama di sini. Kau cepatlah selesaikan sekolahmu biar nanti mama tidak kesepian lagi di rumah."


"Sí, eres rápida. (Iya, dasar cerewet)" sahut Charles sambil berlari dan tertawa keras karena takut diberi bogeman mentah oleh ibunya.


"¿La parlanchina?(Cerewet?)" teriak ibunya geram karena dikatai cerewet oleh anaknya.


*****


Kegaduhan di XI A Grade segera berakhir tatkala seorang guru pria yang seringkali para murid menjulukinya El Asesino karena karakternya yang galak membuat mereka takut ketika berpapasan, memasuki ruangan kelas itu.


"Abigail D'Alejjandra y Charles Delore, sígueme! (Abigail D'Alejjandra dan Charles Delore, ikuti saya)" perintahnya ketika berdiri tepat di depan kelas.


Deg.


Deg.


Jantung keduanya berdebar. Memikirkan apakah mereka memiliki kesalahan sehingga dipanggil oleh si Asesino.


Tidak, tidak, tidak. Aku tidak mau dihukum tanpa aku tahu letak kesalahanku di mana. Suara getar Abbie lirih terdengar.


Kenapa aku? Apa salahku? Bagaimana mungkin aku melakukan kesalahan yang membuat si Asesino itu kesal tanpa aku sadari? Charles tak kalah takutnya.


"Sir...?"


Keduanya kompak berujar. Ketika sadar bahwa mereka serempak, masing-masing memalingkan wajahnya ke arah berlawanan karena sangat gemetar melihat wajah datar si Asesino.


"Ya. Kalian berdua. Cepat!" perintah tegas Mr. Di Vaio-pemilik julukan El Asesino itu.


Mau tidak mau, akhirnya keduanya bangun dari tempatnya dan mengikuti ke mana arah berjalannya Mr. Di Vaio.


*Ke mana ini?


What? Ruang Kepala Sekolah?


Ada apa ini*?


.


.


.


.


.


.


Terima kasih sudah membacanya😘


.


.


.


Love,


Xie Lu♡