
Waktu bergulir begitu cepat. Hari pernikahan Adira dan Tristan akhirnya tiba.
Tepatnya besok, acara ijab kabul akan terlaksana.
Semuanya sudah di urus dengan baik. Souvenir, catering, gaun dan embel-embel lainnya.
Saat ini, keluarga Tristan maupun keluarga Adira sudah berada di sebuah hotel mewah bintang lima tentunya.
Setiap anggota keluarga di fasilitasi kamar untuk beristirahat.
Tak terkecuali para antek-antek Tristan dan Adira.
Mereka juga ikut menginap di hotel yang sama.
Beberapa kamar memang sengaja di booking demi kelancaran acara.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Semua masuk ke dalam kamar masing-masing.
Tidak terkecuali Adira dan Tristan.
Mereka tidur di kamar yang berbeda namun bersebelahan.
Jika mereka tidur bersama, bisa-bisa acara besok terancam gagal karena permainan bola yang tidak bisa dihindarkan.
“Kok aku gugup gini ya.. Kakak rasain nggak?” tanya Adira berjalan menuju kamarnya.
Dia meremas tangan Tristan yang berada di genggamannya.
“Biasa aja” jawab Tristan singkat.
“jangan gugup dong” sambung Tristan lagi.
“kenapa emangnya?” tanya Adira mengerutkan kening.
“Aku jadi gemas” jawab Tristan berbisik tepat di telinga Adira.
Adira mengelus tengkuknya karena tersipu malu dan lehernya tiba-tiba merinding.
“Jangan kangen” ucap Tristan ketika sudah di depan kamar inap Adira.
“Nggak akan” jawab Adira
“udah masuk sana” perintah Tristan sambil tersenyum manis.
“Iya aku masuk nih ...” ucap Adira namun dia tak kunjung masuk.
Tristan terdiam mengamati sikap Adira.
“Ayo masuk. Udah malem nih” perintah Tristan lagi karena Adira masih betah berdiri di depan pintu sambil menatapnya.
“iya.. iya... Aku masuk. Good night sayang” ucap Adira lalu menutup pintu cepat.
Tristan tersipu dengan panggilan ‘sayang’ yang Adira sematkan.
Adira bersandar pada pintu. Dia menarik nafas lalu menghembuskannya berulang-ulang. Mencoba menetralkan perasaan gugupnya.
Jantungnya berdetak tidak karuan akhir-akhir ini. Mungkin karena sebentar lagi di akan menikah.
Adira bangkit dan menghidupkan lampu kamar.
Adira dibuat kagum, di atas kasur sudah banyak kelopak bunga mawar yang bertabur.
Kamar yang Adira kira adalah kamar biasa, ternyata sudah disulap menjadi kamar pengantin.
Di lantai juga begitu banyak kelopak bunga yang dibentuk seperti hati. Jangan lupakan lilin-lilin yang menghiasi di setiap sudut ruangan.
Dan juga balon-balon yang ikut menghiasi kamar tersebut.
Mata Adira berkaca-kaca.
Lalu dia beralih ke tumpukan kado dan beberapa bucket bunga yang berada di atas meja panjang.
Kebanyakan adalah kado ucapan pernikahan.
Dia mengambil salah satu bucket bunga mawar berwarna merah dan menghidunya.
Di bucket bunga tersebut terdapat kartu ucapan yang membuat Adira tertarik untuk membaca dan mengetahui siapa pengirimnya.
Untuk
Calon istriku yang sebentar lagi akan berubah menjadi istri. Bukan calon lagi ya.. ingat...
Adira terkekeh membacanya. Di surat pun Tristan masih sempat-sempatnya membuat lelucon.
Di kemudian melanjutkan membacanya lagi.
Kamu harus tau, nggak ada kalimat yang bisa menggambarkan apa yang aku rasakan saat ini.
Terlalu indah di hadapan kamu.
Aku mencintaimu Adira Belvina.
Dari.
Tristan Wijaya ' si babang tamvan’
Adira terharu sekaligus merasa lucu.
Memang, bawaan orang humoris tuh lebih dapat chemistry ketimbang orang romantis.
Cowok romantis belum tentu humoris. Tapi cowok humoris sudah pasti romantis. Wkwk.
Sepertinya kejutan tidak akan pernah ada habisnya.
Beberapa detik setelahnya, telinga Adira dibuat terkejut dengan ratusan kembang api yang meluncur di udara.
Adira yang penasaran langsung membuka pintu balkon dan berdiri di sana.
Dia menikmati pesta kembang api dari balkon kamarnya.
Jangan lupakan bunga mawar merah yang berada di pelukannya.
Belum selesai menikmati pesta kembang api, lagu Bruno Mars yang berjudul Marry You terdengar di lantai bawah.
Adira menutup mulutnya tak percaya.
Mereka berdansa di bawah sana membentuk berbagai macam formasi.
Pertunjukan berakhir dengan formasi love.
Adira benar-benar merasa sangat bahagia saat ini.
“Kamu suka nggak?” tanya sebuah suara tiba-tiba.
Adira terkejut dan menoleh. Dia mendapati Tristan sudah berdiri selangkah di belakangnya.
Saking bahagianya, Adira tidak menyadari jika Tristan sudah masuk ke dalam kamarnya.
“Suka bangeeet.... Makasih ya..” jawab Adira manja. Dia berhambur memeluk Tristan erat.
Tristan mengecup kepala Adira sayang.
“Kapan kakak bikinnya? Perasaan tadi kita bareng terus deh?” tanya Adira penasaran.
Dia mengurai pelukannya dan menatap Tristan.
“Nggak Cuma aku yang kerja. Tapi juga atas bantuan mereka semua” ucap tristan menunjuk ke lantai bawah.
Adira mengikuti arah pandang tristan dan mendapati para teman-temannya tersenyum dan melambai ke arahnya.
Mereka duduk dengan santai di kursi yang tersedia.
“Aaaaaa... Kalian bikin aku terharu” ucap Adira manja dan kembali memeluk Tristan.
“Kamu senang?” tanya Tristan lagi.
“Bukan hanya senang. Tapi bahagia pake banget. Makasih ... Makasih ya babang tamvan” jawab Adira meledek.
Tristan terkekeh karena mengingat kata-kata itu berada di kartu ucapan yang Tristan berikan untuk Adira.
Lalu tanpa aba-aba Adira mengecup pipi kanan dan kiri Tristan.
Dia lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Tristan untuk menghilangkan rasa malunya.
Ck. Nih anak ngatain aku suka nyosor tapi sendirinya juga begitu. Batin Tristan dalam hati.
Dia tersenyum smirk ke arah Adira.
“Aku begini karena ketularan kakak ya. Jadi yang salah kakak karena udah ajarin aku yang iya-iya” ucap Adira seakan tau isi hati Tristan.
“Yang enggak-enggak kali Ra hahaha” jawab tristan tergelak.
Bukan hanya ucapan Adira yang lucu, melainkan ekspresi Adira yang terlihat sangat menggemaskan saat mengatakannya.
Adira tersenyum sangat manis memandangi wajah tampan yang sedang tertawa ringan di hadapannya.
Terpesona...
Aku terpesona..
Memandang..
memandang wajahmu yang manis.
Adira bernyanyi yang tentunya hanya dalam hati.
"tidur gih.. kamu harus siapin tenaga yang banyak buat besok" suruh Tristan berbisik tepat di telinga Adira.
"Emang kenapa mesti siapin tenaga lebih banyak?" tanya Adira polos.
"Hari ini adalah hari terakhir kamu tidur sendiri dalam ketenangan. besok kamu udah tidur sama aku" ucap Tristan menaik turunkan alisnya.
"ish... mulai deh mesumnya. aku sih maklum.. wong waktu udah mau jam dua belas. bentar lagi kakak pasti bakal berubah jadi serigala auw... auw... " ketus Adira di akhiri menirukan suara serigala mengaung.
Tristan tertawa lagi. Adira memang sumber bahagianya.
"emang aku semenakutkan itu?" tanya Tristan terkekeh.
"iya lah. kalau aku nggak hati-hati bisa kena terkam tuh" jawab Adira asal.
Tristan tertawa lagi.
"ya udah. good night sayangku Adira...." ucap Tristan manis. dia melenggang pergi meninggalkan Adira yang masih terbengong dengan ucapan Tristan.
apakah Tristan ingin membalasnya? karena dia juga tadi mengatakan sayang dan membuat Tristan mungkin merona.
Adira tersipu lagi dan menjawab,
"good night sayang" jawab Adira yang sudah tidak terdengar lagi oleh Tristan.
kemudian Adira segera pergi untuk tidur.
dia harus mempersiapkan tenaganya untuk besok.
jangan salah paham dulu..
maksud Adira adalah tenaga untuk acara pernikahannya besok.
sudah pasti akan selesai sampai malam.
maka dari itu Adira harus mempersiapkan tenaganya bukan? hehe.
.
.
.
.
.
.
.
.
**ayo... tolong bantu dukung novel aku ya para readers tercinta...
dukungan kalian sangat membantu.
makasih yang buat para readers yang masih setia membaca karya ku.
sebuah kebanggaan jika kalian masih setia membacanya...
terima kasih banyak ya buat para readers setia😘**