
Setelah menceritakan semuanya, Adira mengangguk paham. Adira tersenyum lega mendengar penuturan Tristan. Dia percaya Tristan tidak akan melakukan itu lagi.
“tapi aku kasian sama Ken. Harusnya mas ngomong dulu baik-baik sama dia” ucap Adira dengan wajah memelasnya.
Entahlah, Adira suka sekali mengubah nama panggilan. Kadang ‘mas’ kadang ‘kak’. Seperti sekarang ini.
“Aku nggak mau kasih harapan lagi Ra. Udah cukup menurut aku. Pusing aku kalau harus nambah mikirin masalah orang lain” ucap Tristan dengan raut wajah kesal.
“Iya juga sih. Tapi itu bukan salah mas. Kenapa ibunya sejak awal berbohong coba? Kalaupun mas kasih tau mas bukan ayahnya, mana maksud dia. Kan masih kecil ya” ucap Adira membenarkan ucapan Tristan.
“Udah nggak usah dipikirin. Kamu mikirin aku aja sekarang. Aku udah kangen banget kamunya malah biasa aja” ketus Tristan dengan bibir maju lima Senti.
“siapa bilang biasa aja? Aku juga rindu-serindu-rindunya” ucap Adira sambil memeragakan kedua tangannya membuat gerakan lingkaran di atas kepala. Seakan ingin memberi tahu bahwa rindunya tak terhingga.
“Ya udah sini peluk kalau rindu” ucap Tristan sambil merentangkan kedua tangannya.
Adira terkekeh gemas. Jelas Adira langsung berhambur memeluk Tristan dan menghirup aroma maskulin yang selalu ia rindukan.
Pelukan mereka begitu erat dan senyum mengembang di bibir keduanya.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya. Mereka masih mencoba memecahkan celengan rindu yang mereka tabung selama satu bulan ini. Ck.
Setelah selesai dengan acara memecah celengan, mereka tidak langsung pulang dan memilih makan malam di luar.
Saat ini mereka sedang berada di mobil untuk pergi makan.
“mau makan apa Ra?” tanya Tristan sambil sesekali menoleh ke Adira kemudian fokus ke depan kemudi lagi.
Saat ini jalanan lumayan padat karena waktunya pulang kantor. Padahal hari sudah mulai gelap, tapi jalanan masih juga belum lenggang.
“mas mau makan apa? Aku ikut aja” ucap Adira yang memang bingung. Dia makan apa aja masuk ke perut.
Tristan tampak berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Nasi goreng telur asin mau nggak?” tanya Tristan setelah lama berpikir.
“Waaah. Mau banget itu mah pasti enak. Cus kita kesana lah”. Benar kan? Adira bisa memakan makanan apa saja?. Ck.
“Oke kita kesana ya. Deket kok bentar lagi sampe” ucap Tristan yang tidak sengaja mendengar suara dangdutan di dalam perut Adira.
Adira meringis sambil memegang perutnya.
“Maaf kak. Perut nggak bisa dikondisikan. Denger namanya aja aku mendadak lapar. Apalagi udah ada di depan mata coba” ucap Adira membayangkan nasi goreng telur asin yang begitu enak yang tentunya dia pernah memakannya. Tapi itu sudah lama.
Dan saat diajak untuk makan lagi, kenapa tidak. Air liur Adira terasa ingin menetes. Entahlah, Adira begitu tergila-gila dengan makanan.
“nggak papa. Makan nanti yang banyak. Aku yang bayar” ucap Tristan tersenyum manis. Namun matanya masih fokus menatap arah jalanan.
“Horeeee!” jelas Adira bersorak gembira. Adira dan makanan memang tidak bisa dipisahkan.
Akhirnya mobil yang dikendarai keduanya telah sampai di pelataran restoran. Mereka segera keluar dari dalam mobil. Tristan menunggu Adira menyusul dan mereka berjalan beriringan masuk ke dalam restoran.
Saat sudah mendapatkan kursi, keduanya langsung memesan makanan.
“Nasi goreng telur asin dua, udang telur asin satu, onion ring satu, jus alpukat satu, sama es teh manis satu. Udah itu aja mbak” ucap Adira kepada waiters yang mencatat pesanannya.
Setelah selesai memesan, waiters segera pamit dan meminta menunggu.
Tristan tersenyum melihat Adira begitu semangat menunggu makanannya.
“Kamu suka udang telur asin juga?” tanya Tristan yang merasa aneh karena mereka sudah memesan nasi goreng telur asin.
Jika Adira memesan udang telur asin, maka semua kan serba telur asin bukan?.
Tapi itu sumber kenikmatannya.
“Eh mau nanya dong Ra?” ucap Tristan mengalihkan pandangan kepada Adira yang berada di hadapannya. Mereka duduk berhadapan.
“Tanya apa? Tanya aja.” Ucap Adira yang mulai menegakkan tubuhnya.
“Kamu kenapa suka manggil aku kak dan mas sih. Kenapa nggak mas aja. Kan aku udah bilang kalau aku bukan Kakak kamu.” Ucap Tristan dengan satu tarikan nafas.
Adira mengedipkan matanya berulang-ulang. Merasa konyol dengan tingkah Tristan yang begitu mengagungkan nama panggilan. Hanya tanya masalah panggilan? Dan Tristan seserius itu?
“ya nggak papa. Aku suka aja. Terus kalau bukan kakak, apaan dong?” Tanya Adira tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
“Aku......
“Mas sayang kamu..” jawab Tristan terkekeh sendiri. Mengapa dia jadi seperti orang bodoh.
“hahaha. Oke mas sayangnya Adira.” Jawab adira sambil tertawa menanggapi. Benar-benar konyol. Seorang Tristan yang gagah, cool, dan mempesona inginnya di panggil mas sayang? Apakah ini sudah masuk dalam jenis manusia bicun? Eh bucin maksudnya?. Wkwk.
............
“Dari mana nih baru pulang?” tanya Amanda yang melihat kakaknya baru pulang setelah pukul sepuluh malam. Dia sedang berada di dapur untuk minum. Dan kakaknya terlihat baru saja memasuki rumah dan berjalan ke dapur juga.
“Habis mecahin celengan” ucap Tristan begitu santai.
Amanda menautkan alisnya tanda bingung. Untuk apa jaman sekarang menyimpan uang dicelengan? Sedangkan sekarang sudah banyak bank yang buka dan beroperasi.
“Ngapain Abang nabung di celengan? Kan ada bank” tanya Amanda penasaran.
Tristan hanya tersenyum geli dengan pertanyaan Amanda .
“Mecahin celengan rindu maksudnya” jawab Tristan begitu santai sambil membuka kulkas mencari minuman dingin dan segera menenggaknya.
“hahahahahaa Astaga dragon....” Amanda tertawa begitu keras. Abangnya memang pandai mencari perumpamaan.
Hal itu tentu memicu kebingungan untuk se isi rumah. Mama papa nya memang belum tidur dan masih berada di ruangan tv. Jadi mereka jelas mendengar tawa Amanda begitu lepas.
“Kenapa Amanda. Mama kira kamu ketawa sendiri. Jadi takut mama” ucap Bu Siska kesal. Dia begitu kaget mendengar Amanda tertawa sangat lepas di malam hari seperti ini. Namun ada Tristan juga disana.
“hahahaa mama tau nggak bang Tristan habis dari mana?” tanya Amanda yang masih tertawa.
Tristan hanya bisa mendengus melihat tingkah adiknya. Dan memilih berjalan ke arah kamarnya.
“Nemuin Adira pasti kan? Kan udah lama nggak ketemu. Emang kemana?” tanya mama yang mulai penasaran.
“Kak Tristan habis mecahin celengan..” ucap Amanda begitu pelan agar mamanya tidak salah dengar dan masih bisa mempertahankan sisi kelucuan cerita. Wkwk
“mecahin celengan? Ngapain? Kan ada bank. Ribet banget Tristan” jawab Bu Siska tak habis pikir.
“Maksudnya tuh....
“mecahin celengan rindu ma hahahaha” ucap Amanda kemudian dan respon Bu Siska hanya menggeleng.
Sepertinya tingkah konyol Adira telah menulari Tristan.
Sedangkan dikamarnya, samar-samar Tristan masih mendengar ibu dan anak itu membicarakannya dan amanda tertawa begitu lepas. Tristan pun tersenyum bahagia.
Setelah selesai berganti baju dia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur king size nya. Dia memeluk guling dan segera memejamkan matanya. Dia sudah tidak sabar untuk datangnya hari esok.
Ya, besok Tristan akan bertemu lagi dengan Adira. Mereka akan pergi berjalan-jalan. Tentu saja Tristan menyanggupi karena besok adalah hari Minggu. Beberapa menit kemudian akhirnya Tristan tertidur.
Tidak jauh berbeda dengan Tristan, Adira juga merasa hatinya berbunga-bunga. Dia selalu tersenyum bahkan hingga matanya terpejam dan siap untuk menyambut esok hari.