Treat You Better

Treat You Better
65. Jalan-jalan ala Tristan.



Angin sepoi berhembus dan menerpa wajah Adira lembut.


Aroma pagi yang sangat Adira sukai dipadukan dengan segelas kopi.


Perpaduan yang pas.


Apalagi ditambah melihat pemandangan matahari terbit di depan sana.



Adira tersenyum meresapi keindahan alam yang telah Tuhan ciptakan di dalam semesta ini.


Tristan yang sejak tadi menatap Adira pun merasa bahagia melihat senyum mengembang di bibir Adira.


Saat ini, mereka sedang berada di kawasan Ranu Kumbolo.


Apalagi jika bukan karena ingin melihat indahnya matahari terbit?


Ranu Kumbolo adalah sebuah danau yang terletak di dalam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, Indonesia.


Danau ini merupakan bagian dari rute termudah yang berasal dari Ranu Pani menuju puncak Gunung Semeru.


Seperti yang Adira katakan, dia sangat menyukai sunrise dan sunset.


Jadi, Tristan mengajak Adira untuk menikmati sunrise di Ranu Kumbolo.


Bukan hanya mereka yang ada disana.


Banyak para wisatawan dan para pendaki yang menyempatkan diri berkunjung ke Ranu Kumbolo.


Tujuannya tidak lain adalah untuk melihat sunrise maupun sunset.


Bila kita melihat matahari terbit dari Ranu Kumbolo, akan terlihat jauh lebih indah.


“Kamu suka, Ra?” tanya Tristan menatap Adira.


“Suka bangeeeeet ... Makasih karena udah ajak aku kesini. Ini merupakan tempat yang paling indah yang pernah aku kunjungi.” jawab Adira balas menatap manik Tristan dalam.


“Apapun buat kamu. Aku akan usahakan semuanya.” ucap Tristan lalu memeluk Adira dari samping.


Posisi mereka saat ini sedang berdiri sambil menatap pemandangan sunrise di depannya.


Pagi-pagi sekali mereka sudah berada disana hanya untuk melihat matahari terbit itu.


“Mau sambil duduk nggak, Ra?” tanya Tristan yang kakinya sudah teras pegal karena sejak tadi terus berdiri.


Jangan lupakan udara dingin yang menembus kulit hingga tulang yang membuat saraf bisa kram.


“Kakak capek ya? Ya udah ... Ayo kita duduk aja disitu.” ucap Adira lalu menunjuk pada tanah yang di tumbuhi rumput yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Tristan mengangguk dan segera mendudukkan dirinya. Adira mengikuti dari belakang.


Setelah mereka duduk, Tristan merapatkan tubuhnya pada tubuh Adira.


Mencari rasa hangat karena dingin yang menjalar ditubuhnya.


Tristan dan Adira sudah memakai jaket tebal, sarung tangan, kaus kaki dan juga shall.


Adira balas merangkul pinggang Tristan dan menyandarkan kepalanya di bahu Tristan.


“Aku sangat bahagia dan beruntung bisa menjadi istri dari Tristan Wijaya.” ucap Adira terkekeh namun saat mengucapkannya, Adira sangat tulus dari dalam lubuk hatinya.


“Terima kasih, Ra. Aku juga merasa beruntung bisa menjadi bagian dari hidup kamu, Adira Belvina.” Balas Tristan yang juga merasa beruntung.


Adira mendongak menatap wajah tampan suaminya itu.


Dia tersenyum sangat manis.


Adira berjanji, senyuman itu hanya akan dia berikan kepada suaminya itu.


Suami yang membuat Adira jatuh cinta berkali-kali lipat.


Semakin kesini, sikap Tristan semakin romantis saja.


Adira berharap, semakin bertambahnya usia pernikahan mereka, semakin erat pula hubungan keduanya.


Tristan juga menunduk untuk bisa menatap wajah ayu Adira yang menatapnya penuh puja.


“I love you, Adira Belvina ....” bisik Tristan tepat di telinga Adira.


Adira tersenyum malu. Wajahnya lagi-lagi dibuat merona.


“I love you too, Tristan Wijaya.” Jawab Adira tersenyum malu-malu.


Tristan pun mengecup pelipis adira lembut. Kemudian dia mengecup dahi Adira dalam.


Menyalurkan rasa sayang dan cinta untuk sang Istri Terkasih.


Adira memejamkan mata merasakan sapuan lembut bibir Tristan di dahinya.


Bibirnya juga tak henti menyunggingkan senyum bahagia.


“Aku suka banget di cium dibagian sini.” ucap Adira sambil menunjuk pelipisnya.


Tristan mengernyitkan dahi.


“Alasannya?” tanya Tristan bingung.


“Aku tuh ngerasa kaya ... Di sayang banget gitu.” Ucap Adira tersenyum simpul.


“Yakin Cuma suka dibagian itu aja?” tanya Tristan sambil menaik-turunkan alisnya.


“Entar kalo ada bagian lain yang kamu suka, bilang sama aku ya.” Ucap Tristan sambil mengerling nakal.


“Iiiishhh.... Apaan sih ....” Kemudian Adira memukul pelan lengan Tristan.


Tristan terkekeh dan pura-pura terkapar di tanah karena pukulan Adira.


Mereka tertawa. Seakan dunia hanya milik mereka berdua.


Sedangkan yang lain, ngontrak.


“Lebay deh ... Aku pelan lho mukulnya.” ucap Adira masih terkekeh.


“Biar dramatis gitu lah.” ucap Tristan lagi.


“Hahahaha.”


Mereka kembali tertawa.


Seiring dengan tawa bahagia keduanya, matahari juga seakan ikut bahagia dengan menampakkan dirinya malu-malu.


Pagi yang cerah untuk hari yang sedang berbahagia.


Tidak lupa, mereka sempat mengabadikan momen dimana Matahari akan muncul.


Mereka sempat mengambil beberapa foto epik.


Sayang sekali jika mereka tidak mengabadikan momen itu.


Karena mereka juga tidak tahu kapan akan berkunjung kesini lagi.


Jalan-jalan yang Tristan sebut ternyata lebih ekstrem dari yang Adira kira.


Orang jalannya mendaki gunung.


Sesuatu yang belum pernah Adira lakukan.


Dan saat pertama kali melakukannya, Adira ingin melakukannya lagi dan lagi.


Adira merasa tertantang dan ketagihan saat bisa berbaur dengan alam.


Mungkin memang, Adira adalah pencinta alam. Dan dia tidak menyadari itu.


Kalau Tristan sendiri, dia pernah beberapa kali mendaki gunung sewaktu SMA.


Dan itu sudah sangat lama.


Saat dia kembali mendaki gunung, dia sudah tidak sendiri lagi (dalam artian, sudah tidak jomblo lagi). Melainkan dia bersama seseorang yang spesial.


Rasanya berbeda.


Dulu dia mendaki gunung bersama teman-temannya. Kepuasan dan kebahagiaan tentu dia dapatkan.


Tapi, ketika dia mendaki bersama Adira, kepuasan dan kebahagiaan itu seakan bertambah.


.......


“Wooaahh!” teriak Adira saat keduanya berhasil melewati Tanjakan Cinta.


Tanjakan Cinta merupakan jalan setapak menuju bukit, dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Letaknya tepat setelah Ranu Kumbolo menuju Oro-oro Ombo.


Dia juga berhasil untuk tidak menoleh ke belakang.


Mitosnya, jika sang Pendaki menoleh ke belakang, maka dia akan putus cinta.


pendaki yang memikirkan pasangannya dan berhasil melewati Tanjakan Cinta tanpa menoleh ke belakang, akan berjodoh dan cintanya akan abadi. Sebaliknya, kalau di tengah jalan ia menoleh ke belakang, hubungan percintaan konon akan putus.


Percaya tidak percaya, namun banyak pendaki yang mencoba jurus ini untuk menguji ketahanan diri sendiri. Tanjakan Cinta memang cukup melelahkan, dan tampaknya sulit untuk tidak menoleh ke belakang karena Ranu Kumbolo terbentang cantik di sana.


Tristan tidak terlalu percaya dengan mitos seperti itu.


Namun Adira mengatakan, dia juga tidak percaya.


“Memang, apa salahnya bila berjalan tanpa menoleh ke belakang?” Begitulah kira-kira yang Adira ucapkan.


Tristan memilih menurut.


Toh, jika mereka berhasil, cinta mereka akan abadi.


Tristan tentu ingin sekali cintanya dan cinta Adira abadi selamanya sampai ke akhirat kelak.



.


.


.


.


.


.


Segitu dulu ya ...


Jangan lupa kasih aku like dan comment ya😘