
Happy reading!šš
.
*****
"SeƱora, bangun!"
Seorang maid mencoba membangunkan Lidya dengan menggoncang-goncangkan tubuhnya. Setelah mendapat kabar dari seseorang bahwa anak bungsunya mengalami kecelakaan, ia langsung pingsan lagi.
Penyakit yang diidapnya membuatnya tidak tahan mendengar berita-berita mengejutkan dan tragis. Apalagi sekarang anak lelaki satu-satunya mendapat petaka setelah berusaha pulang ke rumah untuk menemuinya.
"Panggilkan dokter Natalie sekarang, April!" perintah Byla pada maid tersebut. Maid itu mengangguk dan segera melakukan apa yang diperintahkan putri nyonyanya.
Byla memandang dengan tatapan sayu ke arah ibunya. "Bangunlah, mama. Charlie membutuhkan kita sekarang."
Mata itu tak beraksi. Ia tetap terkatup rapat.
Air mata di pelupuk mata Byla mulai menggenang. Ia menahan airmata itu agar tidak jatuh. Bukan waktunya menangis sekarang. Ia harus kuat menghadapi kondisi ini.
Ia tahu penyakit ibunya sering kambuh belakangan ini. Mungkin karena kelelahan mengurusi toko kecilnya sehingga ia kurang memperhatikan kesehatannya.
Seseorang mengetuk pintu kamar tempat Lidya berbaring.
"Masuk!"
Tampaklah seorang dokter berparas cantik berdiri di ambang pintu.
"Kau sudah datang, dokter. Tolong periksakan mama."
Dokter bername tag Natalie De Souza itu mengangguk sambil tersenyum. Ia melangkah masuk ke dalam.
"Aku sudah mendengar apa yang terjadi. Kenapa tidak membawa aunty langsung ke rumah sakit itu?" tanya Natalie.
"Setelah memastikan keadaannya tidak buruk."
"Aku mengerti."
Byla keluar dari kamar itu menuju ke dapur meninggalkan Alita memeriksa keadaan Lidya.
"Tolong buatkan minuman untuk dokter Natalie," perintahnya pada seorang maid yang berpapasan dengannya.
"Baik, seƱorita."
Maid itu mengangguk dan langsung melakukannya.
"Kau masih sering memanggilku seƱorita, Mona!"
Maid yang bernama Mona itu hanya tersenyum menanggapi. Ia memang selalu memanggil Byla seperti itu.
Byla juga membuatkan secangkir cokelat hangat untuk dirinya sendiri agar pikirannya bisa jernih kembali. Dering ponselnya mengalihkan perhatiannya dari cangkir cokelat itu.
"Bagaimana keadaan Charlie?"
"Calm down, baby. Everything will be ok."
Terdengar desahan napas pria yang meneleponnya itu dari seberang sana.
"Ayolah, Sam. Katakan padaku. Mama belum juga sadar dari pingsannya."
Samuel, suaminya itu masih terdiam. Ia nampak berpikir.
"Hah...Charlie juga belum bangun. Ia masih bermimpi indah."
Gantian Byla sekarang yang diam.
"Dokter tidak bisa memastikan kepastian kapan ia sadar."
Byla menghembuskan napas kasar. Niatnya menjernihkan pikiran dengan cangkir cokelat hangat tadi langsung hilang mendengar berita tentang adik lelaki satu-satunya.
"Baiklah. Bermalamlah di sana malam ini. Aku akan ke sana esok." Ia mengakhiri sambungan itu setelah berpamitan dengan suaminya.
Setelah menghabiskan cokelat hangat miliknya, ia bergegas ke kamar Lidya.
"Bagaimana keadaannya, dokter?"
"Aunty mengalami aritmia. Saat ini kondisi jantungnya melemah. Jangan biarkan aunty mendengar berita yang mengguncangkan emosinya karena stress akan memicu kambuhnya penyakit itu lagi. Aku sarankan, jangan biarkan ia bertemu Charlie untuk sementara sebelum dia benar-benar sembuh."
Byla menghela napas sebentar dan menghembuskan perlahan. Ada rasa khawatir dalam dirinya mendengar ucapan Natalie bahwa Lidya tidak bisa bertemu Charlie padahal sebelum pingsan tadi ia sudah merengek agar secepatnya menemui anak lelakinya.
"Aku mengerti apa yang kau rasakan, Byla. Aku juga tidak ingin ini terjadi pada aunty, tapi demi kesehatannya, lakukan yang terbaik," lanjut Natalie ketika melihat raut bingung Byla.
"Baiklah, kau cerewet sekali, Natalie."
Natalie terkekeh.
"Dimana Catalina?"
"Tertidur."
"Pergilah."
Natalie segera membereskan peralatan medisnya dan meninggalkan kamar itu.
"Gracias, Natalie."
"Sudah tugasku, Byla."
*****
"Berisik!!"
Pemilik manis cokelat madu itu mengumpat pelan ketika dibangunkan oleh weker retro dengan desain klasik di atas nakas tempat tidurnya.
Tangan mulusnya terulur untuk mematikannya. Setelah benda itu mati, ia kembali bergumul di bawah selimut tebalnya.
Tak selang beberapa lama, benda itu berbunyi lagi. "Oh, astaga. Kau membuatku kesal, s****n!" Ia mematikannya lagi.
Ketika hampir tertidur lagi, ia berteriak.
"Sial, aku terlambat."
Ia bangun membereskan tempat tidurnya dan segera mandi.
Seperti kebiasaannya satu hari yang lalu, ia melajukan mobilnya ke arah yang sama. Sambil bersiul-siul girang ia berhenti di tempat biasa ia menemukan pria itu duduk.
Ke mana dia? Apa sudah berangkat?
Ia tak menemukan pria itu pagi ini. Ia menerka bahwa Charlie-nya sudah berangkat.
Tanpa ingin menunggu lagi, ia pergi dari sana.
"Awas saja kalau kau sengaja menghindariku," geramnya sambil meremas setir mobil.
Sesampai di sekolah, ia masih juga tidak menemukan pemilik manik cokelat tua itu.
"Dimana dia? Apa dia sakit? Tapi, kenapa tidak mengabariku?"
Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan di benaknya. Ia menanti kedatangan pria itu hari ini. Ia ingin bersenang-senang lagi dengannya seperti kemarin.
"Mana si cupu itu?"
Ia dikagetkan oleh suara Izzy.
Abbie menggeleng. "Tadi aku ke tempat biasanya ia menunggu kendaraan umum, ia tidak ada."
"Jangan-jangan..??"
Abbie mengangkat sebelah alisnya. "Apa?"
"Jangan-jangan yang diberitakan di tv semalam adalah si cupu itu. Aww--sakit, sialan"
Abbie memukul kepala temannya itu.
"Setiap kata adalah doa. Jaga bicaramu."
"Hell, orang kaya itu kadang suka sembunyi agar mengetahui wujud asli orang kaya lain yang penuh sandiwara."
"Tidak mungkin."
*****
Ruangan serba putih itu terasa sunyi. Hanya hembusan angin melewati celah ventilasi yang membuatnya terasa sejuk dari hangatnya pemanas ruangan.
Seorang pria berseragam biru khas rumah sakit berbaring di bangkar. Hembusan napasnya terdengar halus dari dalam kantong oksigen yang terpasang di wajahnya. Ia masih asyik di alam mimpinya.
Lidya duduk di samping bangkarnya dan menggenggam tangannya yang tidak memakai infus. Beberapa kali ia mencium tangan kekar itu.
"Maafkan mama, sayang."
Hanya kalimat itu yang keluar dari bibirnya tatkala ia membuka mulut. Ia tidak menyangka kecelakaan yang menimpa anaknya adalah bagian dari dendam masa lalu yang tidak pernah tuntas. Dan ia menyadari sekarang bahwa apa yang dialaminya kemarin juga ada kaitannya dengan kejadian ini.
Setelah pulang dari toko bunganya kemarin, ia mendapati sebuah amplop tanpa nama pengirim di atas meja kerja almarhum suaminya - sekarang dipakainya. Benda itu dibukanya dan melihat beberapa lembar foto kematian Roberto - suaminya - yang menggenaskan.
Seketika jantungnya berpacu sangat cepat dan ia terjatuh. Ia menangis dalam keheningan sambil memegang dada kirinya.
Hal yang sangat ia hindari sejak kepergian Roberto ialah menatap foto-foto kematiannya di TKP. Seolah tahu tentang keguncangan kejiwaannya, musuh yang ingin menjatuhkan anaknya memakai cara itu agar bisa melaksanakan aksinya.
"Bagunlah, Charlie. Ada banyak hal yang menantimu. Bukankah besok kau harus menjalankan kewajibanmu sebagai seorang siswa berprestasi? Jangan gagalkan itu, nak. Kau telah berjuang keras untuk menggapai mimpimu itu. Bangunlah! Tidak baik kau membiarkan gadis itu berjalan sendiri di jalan yang sudah kalian rintis."
Tidak ada sahutan, hanya layar monitor yang berjalan menandakan bahwa yang empunya masih memiliki nyawa. Bulu mata lentik itu terpejam rapat. Sepertinya ia masih ingin menetap di sana.
.
*****
ig @xie_lu13