Treat You Better

Treat You Better
110. Jalan-jalan



 


Tristan masih setia menunggu jawaban Adira. Jika jawaban Adira iya, itu berarti dirinya sudah di maafkan. Namun jika tidak, itu berarti Adira belum memaafkannya. Tristan akan berusaha untuk meyakinkan Adira.


“Boleh.” ucap Adira yang tentunya hanya dalam hati.


Yang ada, Adira malah berkata.


“Ya jelas nggak boleh lah. Kan kita lagi marahan. Aku benci banget sama pengkhianat,” ketus Adira berusaha jual mahal, walaupun itu bertentangan dengan isi hatinya.


Hati dan mulutnya memang sedang tidak sejalan.


“Nggak boleh nggak masalah, secepatnya aku bakal bikin aku boleh nginep di sini. Biar nggak boros nginep di hotel terus,” jawab Tristan dengan santai.


Tanpa menunggu lama, Tristan langsung mengecup bibir ranum milik Adira berulang-ulang.


Adira berusaha mendorong tubuh Tristan agar menjauh, namun semua seakan sia-sia karena tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Tristan.


Mungkin karena anaknya juga merindukan ayahnya itu.


Perlahan, kecupan itu berubah menjadi *******-******* kecil. Adira mulai pasrah dengan sentuhan yang Tristan berikan.


Sebenarnya, Adira juga menikmati sentuhan yang sudah lama Adira rindukan.


Entah karena keinginan hatinya sendiri, atau keinginan anaknya.


Lagi-lagi Adira membawa nama anaknya untuk alibi.


Adira menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Pesona Tristan memang tidak terelakkan lagi hingga dirinya tidak sanggup menolaknya.


Saat ciuman berubah menjadi ciuman panas, Adira segera melepaskan dirinya dari belitan tangan Tristan.


Walau dirinya juga sudah terbakar gairah, dia tidak ingin menyerahkan dirinya dengan mudah. Adira ingin memberi sedikit pelajaran untuk suaminya itu yang sudah berani berbohong dan mengurusi mantanya diam-diam.


“Kenapa di lepas sih, Ra?” ucap Tristan frustasi karena gairah sudah mencapai ubun-ubunnya.


“Aku belum siap. Aku masih sakit hati atas semua yang Kakak lakukan. Aku nggak bisa maafin begitu saja,” jawab Adira sambil menatap kesal ke arah Tristan.


Tristan menghembuskan nafasnya kasar. Dia mencoba mengerti perasaan Adira yang pasti sangat sakit hati karena ulah dirinya.


“Nggak papa. Aku tahu ini pasti berat buat kamu. Aku harus apa agar kamu bisa maafin aku dan mau balik lagi ke aku,” ucap Tristan melirih.


Adira menjawab dengan gelengan tanda bahwa dirinya juga tidak tahu harus membalas Tristan dengan apa.


Tristan lagi-lagi menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Sepertinya, Tristan akan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa membujuk Adira.


“Mau jalan-jalan nggak? Atau pengen makan sesuatu gitu?” tanya Tristan berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


“Jalan-jalan?” gumam Adira bertanya.


“Iya jalan-jalan. Aku pengen jalan-jalan melewati sawah dan melihat pemandangan di kota Solo ini yang masih sangat terjaga keasriannya,” ucap Tristan tersenyum membayangkan.


Adira tampak berpikir sejenak apakah dia akan pergi atau tidak.


“Ayolah, Ra. Temani suamimu ini.” rengek Tristan manja.


Adira terkekeh pelan dan mengangguk menyetujui.


Sejak berada di Solo, Adira sama sekali tidak ke mana-mana dan hanya keluar untuk membeli sayuran atau sesuatu barang yang di perlukan.


Jadi, Adira sangat bahagia karena akan berkeliling kota yang dulu menjadi kota kelahirannya.


Tristan bersorak kegirangan dan melompat-lompat seperti anak kecil yang berhasil mendapatkan mainan yang dia inginkan.


“Aku ambil kardigan dulu sebentar,” ucap Adira lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Setelah Adira muncul lagi, Tristan segera menggandeng tangan Adira dengan posesif.


Adira sampai melotot tak percaya dengan sikap yang Tristan tunjukkan.


Setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya, Adira dan Tristan segera keluar menuju mobil Tristan terparkir.


Tristan membukakan pintu untuk Adira dan memegangi kepala Adira agar tidak terbentur.


Setelah memastikan Adira sudah duduk dengan benar, Tristan memutari setengah mobilnya untuk masuk ke kursi kemudi.


...........


“Papa kok bolehin gitu aja sih, Adira dibawa pergi sama Tristan,” ucap bu Dewi sambil bibirnya sudah cemberut kesal.


“Biarin lah, Ma. Mama mau menyiksa Adira terus-menerus? Mama nggak lihat kalau Adira berubah bahagia saat Tristan datang ke rumah?” tanya pak Irawan tak habis pikir dengan istrinya itu.


“Iya sih ... Tapi, Mama pengennya Adira tuh kasih pelajaran dulu buat Tristan. Nggak seru kalau langsung akur,” ucap bu Dewi sambil bibirnya mencebik kesal.


Pak Irawan menggelengkan kepalanya karena tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya.


Mana ada seorang ibu yang ingin anaknya bertengkar terus dengan suaminya?


Tapi, pak Irawan berusaha memahami perasaan seorang ibu yang tidak telah bila anaknya disakiti dan di khianati oleh suaminya sendiri.


Pasti ada rasa tidak rela dan takut bila anaknya akan disakiti kembali.


“Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya. Nggak baik kalau dibiarkan terlalu lama. Itu hanya akan membuat kesalahpahaman semakin banyak,” ucap pak Irawan bijak dan mencoba memberikan pengertian kepada istrinya itu.


Bu Dewi mengangguk tanda mengerti akan maksud suaminya itu.


Bu Dewi juga membenarkan ucapan suaminya. Dia tidak boleh egois karena kebahagiaan Adira, merupakan kebahagiaanya juga.


Memang benar, Adira terlihat lebih berbinar dari biasanya. Biasanya Adira terlihat murung dan selalu melamun.


Namun, saat Tristan datang ke rumah, Adira terlihat menunjukkan berbagai ekspresi yang tidak pernah Adira tunjukkan selama bu Dewi dan pak Irawan berada di Solo untuk menemani Adira.


Hari perkiraan lahirnya pun sudah semakin dekat, bu Dewi ingin Adira melahirkan anaknya di dampingi oleh sang suami.


Karena Bu Dewi sudah tahu bagaimana perjuangan seorang ibu yang akan melahirkan.


...........


Adira tampak menautkan kedua alisnya tanda bingung. Dia mencoba mengingat perkataan Tristan yang mengajaknya jalan-jalan di area persawahan.


Namun yang membuat Adira heran adalah, Tristan tidak mengajaknya ke sawah dan malah ke sebuah rumah makan.


“Ini namanya bukan jalan-jalan tapi makan,” ucap Adira tidak habis pikir dengan pikiran Tristan.


“Emang mau makan, tapi sambil jalan-jalan. Kamu belum sarapan kan, Sayang?” tanya Tristan sambil tersenyum dengan alisnya yang sudah naik-turun.


“Kok tempe?” tanya Adira melucu.


“Ya TAHU dong.” jawab Tristan jumawa.


Kebingungan Adira semakin bertambah karena semakin tidak mengerti dengan ucapan Tristan.


Untuk memecahkan segala kebingungannya, Adira bergegas turun karena pintu mobil sudah di bukakan dari luar oleh Tristan.


Seperti biasa, Tristan memegangi kepala Adira agar tidak terbentur bingkai pintu mobil.


Adira lagi-lagi merasa tersentuh dengan perlakuan manis yang Tristan lakukan.


Setelah Adira turun, Tristan segera menggandeng tangan Adira untuk berjalan masuk ke dalam rumah makan setelah Tristan mengunci mobilnya dengan remot, hingga suara Bip bip terdengar.


Bip. Bip.


Setelah masuk ke dalam rumah makan tersebut, rasa penasaran Adira akhirnya terjawab juga.


Dari luar tidak nampak kalau rumah makan yang Adira kunjungi mempunyai tema outdoor.


Rumah makan itu membentuk saung-saung yang berada di tengah persawahan.


Adira sudah paham dengan maksud Tristan akan jalan-jalan ke persawahan. Memang benar, mereka akan berjalan di tengah hamparan sawah agar bisa mencapai saung tempat mereka akan makan.


Dengan hati bahagia, Adira berjalan lebih dulu menuju salah satu saung yang kosong.


Setelah sampai, Adira segera duduk bersila di dalam saung itu yang kegiatannya diikuti oleh Tristan juga.


Tristan sangat bahagia melihat Adira begitu senang dia ajak ke rumah makan tersebut.


Senyum tersungging di bibir Tristan sejak tadi karena melihat kebahagiaan terpancar di wajah Adira.


Akhirnya setelah sekian lama, Tristan bisa membuat Adira kembali tersenyum bahagia.