Treat You Better

Treat You Better
Semanis Kembang Gula



Happy Reading!😊


.


*****


Hal yang tidak pernah dibayangkan Charles dalam hidupnya, bahkan dalam mimpipun ia tak akan pernah berniat untuk ini. Akan jalan bersama dengan seorang gadis cantik yang selama ini ia kagumi dalam diam.


"Kenapa kau tidak pernah mengendarai motormu ke sekolah?" tanya Abbie sambil memakai helm yang diberikan Charles kepadanya.


"Tidak ada alasan. Aku lebih suka naik kendaraan umum. Lebih irit," jawabnya sambil terkekeh.


"Dasar pelit."


Setelah Abbie duduk di atas motor itu, Charles menghidupkan mesin motor itu.


"Apa kau pernah naik motor sebelumnya?"


"Never."


Charles manggut-maggut.


"Pegangan. Nanti kau jatuh."


"Di mana? Tidak ada pegangan di sini," protes Abbie.


Charles terkekeh dengan kepolosan Abbie.


"Di sini." Ia mengambil kedua tangan gadis itu dan melingkarkannya di pinggangnya. Ia merasakan tangan itu dingin dan sedikit gemetar. Ia tersenyum.


"Jangan takut, Abbie. Kau aman!"


"Aku tidak takut, hanya sedikit...hm...sedikit canggung," jelasnya.


"Kau akan terbiasa. Percayalah padaku."


Ia merasa nyaman sekarang. Pelukan gadis itu dari belakangnya membuatnya terus tersenyum.


Aku bahagia. Biarkan saja hari ini aku menikmati pelukan hangatmu, Abbie.


Dia juga merasakan jantung gadis itu memukul-mukul punggungnya. Entah itu perasaan yang sama seperti yang dirasakannya atau tidak, ia tak tahu pasti. Yang jelas, ia senang merasakannya.


Sepanjang perjalanan, tangan Abbie tak lepas dari pinggangnya. Dan sekarang, kepala gadis itupun sudah menempel di bahunya.


Oh Tuhan, biarkan aku besar kepala sekarang.


"Kalau kau takut, bicaralah. Jangan memaksakan dirimu," kata Charles saat mereka di lampu merah. Ia sedikit menoleh agar gadis di belakangnya mendengar. Bersamaan dengan itu, gadis itu juga mencondongkan kepalanya ke samping telinga Charles sehingga wajah mereka tinggal beberapa senti sehingga tidak saling menyentuh.


Jantung Charles tak karuan. Ia berdehem untuk menetralkan kecanggungan itu.


"Jalan, Charlie. Sudah lampu hijau."


*****


Sesampai di tempat festival, keduanya berjalan menyusuri daerah itu. Banyak penjual makanan dan minuman yang berseru menawarkan dagangan mereka.


Abbie segera berlari sambil menarik tangan Charles mendekati seorang wanita tua yang menjual permen kapas.


"Tolong, berikan aku dua," ujarnya sambil mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.


"Kau akan mendapatkannya, seƱorita," sahut wanita tua itu sambil tersenyum.


Ia menyodorkan dua tongkat permen kapas berukuran jumbo yang berbentuk hati.


"Ini cocok untuk pasangan muda yang sedang berkencan seperti anda, seƱorita," katanya yang membuat Abbie tersipu. Charles hanya terkekeh mendengar penuturan wanita itu.


"Kami bukan sepasang kekasih, seƱora," jelas Abbie.


"Saya sudah tua, seƱorita. Tentunya saya tahu tatapan-tatapan yang dimiliki pasangan yang mengaku bukan kekasih," ujar wanita tua itu sambil terkekeh membuat pipi Abbie memerah.


"Gracias, seƱora." Charles tidak ingin memperpanjang urusan dengan pedagang permen itu, ia menarik tangan Abbie menjauh.


Dengan memegang permen kapas berbentuk hati, keduanya duduk di atas rumput hijau di lapangan luas itu. Mereka benar-benar seperti pasangan kekasih sekarang.


Semua mata terfokus pada kembang api itu.


Saat kembang api itu bertambah banyak, Charles memberanikan dirinya memegang tangan Abbie. Sontak gadis itu terkejut. Sepertinya darah di pembuluh darahnya berhenti mengalir sekarang. Jantungnya juga berpacu sangat cepat.


Ia memandangi wajah pria di sampingnya itu. Matanya masih asyik memandangi kembang api berwarna-warni di atas sana.


Saat dirasanya gadis itu sedang memandanginya, Charles menolehkan kepalanya sambil tersenyum.


Mereka saling berpandangan beberapa saat. Seakan terhipnotis oleh mata cokelat milik Abbie, Charles merapatkan tubuhnya ke arah gadis itu. Dan tanpa disadari gadis itu, Charles menarik pinggangnya agar menempel di tubuhnya. Ia segera melingkari lengan kokohnya di pinggang Abbie.


Abbie mematung. Jujur, ia merasa sangat gugup sekarang. Otaknya memerintahkannya agar memberontak, tetapi tubuhnya tidak bisa beraksi. Sontak ia meletakkan kedua tangannya di dada bidang milik pria itu. Ia bisa merasakan sesuatu yang ingin menerjang keluar dari rongga dada pria itu. Ia tahu sesuatu akan terjadi sekarang.


Karena tinggi gadis itu hanya sebatas bahunya, Charles harus menundukkan kepalanya ke wajah gadis itu. Tatapan matanya tertuju pada bibir ranum milik gadis itu. Warna merah merona lipstick itu, membuat gairah Charles ingin segera mencicipi benda itu.


"Bolehkah?" tanyanya dengan suara parau menahan sesuatu.


Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir gadis itu. Tapi, ia memejamkan matanya. Charles yang merasa itu adalah lampu hijau untuknya segera mendaratkan bibirnya pada bibir gadis itu.


Sebuah benda kenyal dan hangat dirasakan Abbie ada di bibirnya. Ia terkejut, namun hanya bisa diam. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia mencengkeram kemeja milik pria itu.


Karena dirasanya Abbie tidak menolak penyatuan bibir mereka, Charles mencoba ******* perlahan bibir ranum gadis itu. Meski ia pernah mencium pria ini, tapi itu hanya sebuah kecupan singkat bukan ciuman seperti ini. Karena belum pernah melakukannya, Abbie membalas lumatan itu dengan canggung. Charles bisa merasakan gerakan bibir Abbie sangat kaku.


Charles menekan tengkuk gadis itu menggunakan tangan kirinya agar memperdalam ciuman mereka sedangkan tangan kanannya tetap melingkar di pinggang gadis itu.


Setelah dirasanya keduanya hampir kehabisan napas, Charles melepaskan pagutan bibir mereka. Ia melihat dengan jelas pipi gadis itu merona sekarang.


Abbie segera menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. Ia malu. Sangat malu.


Charles terkekeh melihat wajah malu-malu Abbie. Ia mengusap rambut panjang milik gadis itu.


"Apa ini yang pertama?" bisiknya. Ia merasakan kepala Abbie menggeleng.


"Ini yang kedua," jawabnya.


"Berarti yang pertama itu---" belum selesai ia berucap, gadis itu sudah menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan dibahas lagi. Aku malu," ujarnya dengan pipi memerah.


Charles terkekeh. Ia merapatkan lagi pelukannya. Mereka saling membalas pelukan di senja yang indah itu. Mengungkapkan perasaannya melalui pelukan. Tak ada mata yang melihat mereka melakukannya. Semuanya sibuk menyalakan kembang api mereka.


"Aku mencintaimu," bisik Charles tepat di telinga Abbie.


Abbie terkejut bukan main. Pria itu menyatakan cinta padanya. Hal yang paling ia tunggu selama ini.


Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang pria itu. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ia masih takut membangun sebuah hubungan asmara setelah kejadian itu.


Bagaimana sekarang? Ia mencintai Charles. Ia akui itu. Ia ingin menjadi kekasih satu-satunya pria itu, tapi ia masih ragu dengan keputusannya. Hatinya memang telah mencintai pria itu, hanya saja bukan saat yang tepat sekarang untuk membalas perasaan yang dimiliki pria itu.


Ia tak ingin melukai orang yang dicintainya. Cukup Levin yang terluka karenanya.


"Maukah kau menjadi kekasihku?"


Pertanyaan Charles membuyarkan lamunannya. Ia menengadah. Senyuman manis pria itu membuatnya nyaman. Ia tak ingin kehilangan senyum itu dari hadapannya.


Aku harus mengambil keputusan.


Sementara itu, tak seberapa jauh dari tempat mereka berdiri, seorang pria yang menutupi kepalanya dengan topi dan memegang kembang api mengambil gambar mereka berdua tanpa sepengetahuan mereka. Setelah itu, ia mengirimkannya ke sebuah nomor.


šŸ’ŒTuan D :


Mereka baru saja melakukannya, Tuan.


.


*****


Love,


Xie Lu