
Bab 98
"Jadi?" Son akhirnya mengeluarkan pertanyaan singkat pada Aleena yang berdiri berhadapan dengannya.
Bibirnya terasa kelu. Dia tak bisa melepaskan padangannya dari wajah Aleena yang sedang menatapnya. Dia juga tak bisa menepis pegangan tangan Aleena pada pergelangan tangannya.
Sekarang, Son yang tak bisa ke mana-mana. Tatapan mata Aleena pada wajahnya yang begitu lekat dan genggaman kedua tangan Aleena yang begitu kuat pada pergelangan tangannya membuat Son tak bisa bergerak bebas. Dia seolah terhipnotis oleh mata dan tangan Aleena.
"Aku mau kamu di sampingku," jawab Aleena. Matanya masih belum lepas dari wajah Son.
Son mengernyitkan alis. Mencoba memahami maksud Aleena. Di sampingnya maksudnya apa? Bukankah sekarang dia sudah ada di depan Aleena?
"Iya, sudah," jawab Son singkat. "Jadi sekarang mau gimana lagi?" tanya Son tegas.
"Kamu ajak aku jalan-jalan keliling rumahmu. Aku mau lihat-lihat taman rumah ini. Juga mau lihat-lihat dalam rumahmu. Dan lihat-lihat kamarmu juga," jawab Aleena.
"Untuk apa?" tanya Son bingung. Apa yang mau dilihat dari sebuah rumah? Bukankah rumah setiap orang itu sama? Ada ruang tamunya, ada ruang dapurnya, ada ruang kamar tidurnya. Lalu ada juga yang memiliki taman atau halaman. Jadi apa yang mau dilihat?
"Mau ya, Son?" pinta Aleena dengan nada halus.
"Hah? Apa?" Son terpana. Dia tak mengerti apa sebenarnya yang diiginkan Aleena dengan melihat kamarnya.
"Bawa aku jalan-jalan keliling rumahmu. Aku mau lihat semuanya," kata Aleena.
"Untuk apa? Untuk apa kamu melihat rumahku?" heran Son.
"Aku ingin tahu saja. Terutama aku ingin melihat kamar tidurmu," jawab Aleena pasti.
Aleena menggeleng. "Pasti beda," katanya dengan mimik wajah penasaran.
"Haduuuh...," Son akhirnya mengeluh karena Aleena terus mendesaknya. "Sudah kubilang, tak ada yang spesial, Aleena. Kamu kok reseh amat sih?"
Aleena memasang wajah sedih. "Masa lihat saja nggak boleh, Son?" suaranya bernada protes.
"Apa urusannya denganmu, Aleena, kamarku dengan dirimu?" Son pun mengeluarkan pertanyaan yang terasa mengusik hatinya. Pertanyaan yang terlintas di pikirannya. Untuk apa Aleena mau melihat kamarnya?. Apa Aleena mau numpang tidur di sana? Di kamarnya? pikir Son. Gawat kalau begitu.
Gadis belia yang nakal ini bisa melakukan apa saja yang dikehendakinya tanpa segan-segan. Son tak bisa menerka apa isi kepalanya apalagi isi hatinya.
Mana tahu karena saking konyolnya Aleena sampai nekad mau numpang tidur di kamarnya. Itu hal yang tak mungkin bisa diterima Son karena Aleena dan dia sama-sama sudah memasuki usia akil baliq. Son 15 tahun, Aleena 14 tahun.
Son sudah tahu jelas batas-batas dia harus menjaga jarak dengan seorang teman yang berlainan jenis dengannya. Tidak lagi sama seperti masa kanak-kanak saat seseorang berusia 5 sampai 10 tahun bebas bermain hujan sambil bertelanjang dada dengan anak-anak tetangga atau dengan kawan-kawannya yang berlainan jenis.
"Boleh kan, Son?" punta Aleena kembali membuyarkan lamunan Son.
Son tersadar lalu kembali memfokuskan pandangannya pada wajah Aleena.
"Tak bisa sekarang, Aleena. Teman-temanku sedang menungguku," jawab Son bagai teringat kalau dia sudah membuat Shania, Joseph, Winy, dan Cyntia menunggunya di ayunan.
Son merasa tak enak hati. Dia bermaksud kembali ke ayunan tempat di mana teman-temannya sedang menunggunya.
* * *