
Bab 72
Oh... begitu ya?" Elen pun tersenyum lebar mendengar kata-kata Joseph.
Dalam hatinya merasa geli karena Joseph yang menjawab pertanyaannya yang ditujukan pada Shania. Bukan itu saja, Joseph malah memberikan informasi yang lebih banyak daripada yang ditanya.
Tak salah lagi, bisik hati Elen, ini pastilah Shania yang kemarin memberikan tumpangan mobil buat Son sepulang sekolah saat Tom atau papanya Son tidak bisa menjemput dikarenakan ada rapat tiba-tiba di kantor.
"Kalau begitu, Shania, ibu ingin mengucapkan terima kasih padamu karena sudah mengantar Son pulang dari sekolah kemarin," kata Elen sambil menatap Shania lagi dan tersenyum.
"Oh, nggak apa-apa, Bu. Kalau boleh tahu, ibu ini adalah...?" Shania merasa penasaran juga siapa kiranya yang sedang berdiri di hadapan mereka dan berbicara dengan mereka ini. Jangan-jangan mamanya Son.
"Ups. Aku sampai lupa memperkenalkan diri. Namaku Elen, aku adalah kepala pelayan di rumah ini sejak sebelum Son lahir," kata Elen sambil tersenyum.
"Oh...," Shania, Joseph, Winy, dan Cyntia sama-sama menarik napas panjang.
"Jadi mamanya Son di mana, Bu?" tanya Joseph.
"Sori. Aku harus pesan pada kalian untuk tidak menanyakan hal ini pada Son karena mamanya sudah tiada saat dia duduk di kelas III SD," jawab Elen.
Shania dan ketiga temannya sama-sama terpana. Tak menyangka Son sudah harus menjadi anak piatu di usianya yang masih kanak-kanak.
"Turut prihatin," kata Shania.
"Iya, kami turut prihatin," kata Winy.
"Nggak apa-apa. Itu sudah bertahun-tahun lalu. Kenangan menyedihkan bagi Son dan tak harus sering diungkit. Cuma aku memberitahu kalian saja," kata Elen.
"Iya, Bu Elen," sahut Shania.
Bersamaan dengan itu, Son pun muncul dari atas tangga dan menuruni anak tangga hingga ke lantai 1 ruang tamu. Dia berjalan mendekati sofa di mana Shania dan ketiga temannya sedang memandangnya.
"Ada apa, Elen?" tanya Son saat melihat Elen berdiri di depan teman-temannya yang sedang duduk.
"Nggak apa-apa, Son," jawab Elen. "Aku hanya mengajak teman-temanmu bicara sedikit," senyum Elen. "Ohya, sekarang kalian lanjutkan tugas kelompoknya. Aku mau ke dapur melihat minuman yang sedang dibuat."
Setelah berkata begitu, Elen pun menghadap ke samping kiri dan berjalan menuju ruang dapur.
Son memegang buku cetak dan buku catatanĀ yang barusan diambilnya dari kamar. Dia duduk di sofa yang berada di depan Shania dan teman-temannya.
Karena sofa itu sangat besar maka bisa memuat 5 orang. Tapi Son hanya duduk sendirian di satu sofa yang lebih kecil yang bisa memuat 3 orang. Sedangkan di kiri kanannya adalah sofa yang bisa memuat 1 orang.
Melihat Son mulai membuka buku cetaknya maka Shania dan teman-temannya pun ikut membuka buku masing-masing.
"Ada contoh naskah drama di buku cetak," jawab Son.
"Oh, kalau begitu kita buat saja yang seperti contoh di buku ini," usul Joseph.
"Tidak boleh sama lho dengan contoh yang di buku," ingat Shania. "Kata ibu guru kita harus buat sendiri naskah drama yang lain ceritanya dari yang di buku."
"Betul, dialog-dialognya juga kita buat sendiri," sambung Winy.
"Hmmm... jadi kita mau buat tentang apa?" tanya Joseph sambil memandang Son yang duduk di depannya.
Son mengernyitkan alis. "Barangkali kamu punya ide, Seph?" tanya Son balik.
Teman-temannya memandang Joseph. Joseph pun terpaku dan menunjuk hidungnya sendiri. "Aku?" katanya.
"Iya, kamu, Seph. Kamu kan suka nonton film jadi pasti tahu mau buat naskah drama apa," jawab Cyntia.
Joseph tampak berpikir-pikir sebentar. Lalu dia berkata, "Hmmm... aku teringat satu film yang pernah kutonton. Ada seorang perempuan yang saling mencintai dengan seorang laki-laki. Tapi hubungan mereka tidak bisa berlanjut karena orangtua perempuan tidak mau anaknya menikah dengan laki-laki itu. Ayah perempuan itu hendak menjodohkan anaknya dengan seorang laki-laki tua yang kaya untuk membayar utang."
Shania.dan teman-temannya mendengarkan cerita Joseph.
"Wah, itu bukannya film Siti Nurbaya?" tanya Winy.
"Iya, betul. Alur ceritanya mirip dengan roman Siti Nurbaya yang pernah aku baca di perpustakaan," kata Cyntia.
"Iya juga ya," sambung Shania. "Waktu itu kan kita disuruh sama ibu guru juga meminjam buku dari perpustakaan sekolah terus menuliskan unsur-unsur fiksi yang ada di dalamnya. Seperti judul, tema, nama tokoh, watak, alur, latar, konflik, kesimpulan, dan pesan moral."
"Wah, kamu masih ingat juga ya, Shan. Waktu itu kita masih kelas I SMP," kata Cyntia.
"Ya ingatlah," jawab Shania. "Itu kan buku yang kupilih juga untuk kuresensi."
Jadi kita mau buat naskah drama yang itukah atau yang seperti itu?" tanya Winy.
"Boleh juga sih," jawab Shania. "Tapi kita ubah nama tokoh-tokohnya menjadi nama kita saja."
"Pakai nama kita?" tanya Joseph sambil membelalakkan mata dan memandang Shania yang duduk di sampingnya.
"Kan nggak apa-apa juga, Seph," jawab Shania. "Kenapa kamu kaget? Nanti biar Wilson jadi tokoh laki-lakinya, aku tokoh perempuannya. Kamu jadi tokoh orang tua kaya itu. Winy jadi ibunya tokoh perempuan sedangkan Cyntia jadi ayahnya tokoh perempuan."
"Hah? Aku jadi ayah?" Cyntia tersentak. "Tapi aku kan perempuan?" protesnya sambil memandang ke arah Shania yang duduk di ujung kanan sofa.
* * *