
Bab 93
Son terpana menatap Aleena yang senyum-senyum sendiri sedari mereka sampai di bawah pohon. Dia bingung kenapa gadis belia yang usil ini senyum-senyum terus. Apa yang lucu? pikir Son.
"Kenapa, Aleena?" tanya Son dengan suara heran.
"Nggak. Nggak apa-apa...," Aleena menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus tersenyum. Dia gagal menyembunyikan rasa senang di hatinya karena tangannya yang terus dipegang Son.
Kira-kira sudah semenit Son menggandeng tangannya mulai dari tepi ayunan saat menariknya sampai ke bawah pohon saat bicara dengannya. Son tidak menyadari hal itu. Dia lupa kalau belum melepaskan gandengannya di tangan Aleena karena matanya terpana menatap wajah Aleena yang tampak tersenyum berseri-seri dengan mata berbinar.
Son melihat ekspresi wajah dan gerak-gerik Aleena sangat bersemangat, karena itu dia hanya fokus pada wajah gadis belia di depannya sampai lupa melepaskan gandengannya.
Aleena merasakan hatinya bergemuruh cepat. Ada aliran hangat yang menjalar di sekujur tubuhnya. Dia tak mampu membendung gejolak di dadanya yang naik turun dengan cepat karena jaraknya dengan Son begitu dekat tidak sampai setengah meter.
Entah kenapa Son tak segera mengambil jarak dengan Aleena. Son merasa harus berada di dekat gadis ini untuk mengunci gerakannya supaya dia tidak bisa ke mana-mana. Jangan sampai gadis ini balik ke tepi ayunan dan membuat onar di sana.
Son tak mau Aleena bicara panjang lebar dengan teman-temannya. Apalagi dengan Shania. Bisa berabe kalau Aleena sampai menceritakan kejadian malam tadi saat di depan toilet Aleena memeluk Son tiba-tiba untuk menyembunyikan rasa takutnya akan hantu yang katanya ada di dalam toilet.
"Mau apa kamu mencariku, Aleena? Cepat bilang!" sentak Son setelah keterpanaannya pada wajah gadis itu sedikit buyar.
"Sudah kubilang tadi," jawab Aleena dengan suara santai walaupun hatinya masih bergemuruh. "Aku rindu kamu."
Nafas Aleena seolah tertahan oleh embusan nafas Son yang dekat wajahnya. Aleena tak habis pikir kenapa Son berdiri begitu dekat dengannya bahkan Son seperti tak mau melepaskan gandengannya.
Aleena pikir tak mungkin Son terus menggandeng tangannya karena suka. Pasti cowok itu merasa geram atau kesal oleh tindakan konyol Aleena yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Karena itu dia tidak mau melepaskan pegangannya pada tangan Aleena supaya dia bisa menghukumnya dengan gampang.
Apa yang akan dia lakukan padaku? pikir Aleena. Tidak mungkin kan dia ingin menunjukkan sisi romantisnya pada diriku yang konyol ini? Tidak masuk akal.
Walaupun Aleena menikmati momen yang sedang berlangsung, berdiri berdua dengan Son di bawah pohon dalam jarak yang sangat dekat kurang dari setengah meter dengan mata Son yang terus menatap wajahnya dan nafas Son yang terasa menyapu permukaan kulitnya ditambah sentuhan tangan Son pada pergelengan tangannya yang cukup kuat dan erat sampai terasa menyakiti dirinya. Namun dia merasa was-was juga kalau kekesalan Son akan meledak lagi seperti malam tadi saat Son menepis tangannya dengan kasar dan memarahinya yang mencoba mengambil hp android-nya dari dalam saku celana ponggolnya.
* * *