
Bab 88
"Ayo kita naik ke ayunan," kata Joseph bagai teringat setelah dia dan ketiga temannya terlibat percakapan seru.
"Yok, ayo," jawab Winy cepat. Dia segera naik ke ayunan diikuti Cyntia, Shania, dan Joseph. Sedangkan Son masih berdiri di samping ayunan.
"Ayo, Wilson, kamu naik ke sini juga," ajak Shania sambil menggeser duduknya agak ke samping mendekati Joseph supaya ada tempat yang cukup luas untuk Son di samping yang satunya lagi atau di samping kanannya sementara Joseph di samping kirinya.
Son pun naik ke atas ayunan dan duduk di samping kanan Shania. Dia menyisakan jarak sedikit antara dirinya dengan Shania supaya mereka tidak terlalu dekat atau tidak sampai bersentuhan.
Bagaimana pula kalau kita naik angkot yang penuh atau sesak dengan penumpang? Mau tak mau kita harus bersentuhan juga dengan sesama penumpang lain yang duduk di samping kiri kanan kita. Bahkan kadang harus berusaha tahan dengan bau asap rokok yang diembuskan oleh penumpang lain.
Tapi sekarang sudah jarang melihat orang merokok di dalam angkot. Mungkin karena biaya hidup sudah semakin tinggi atau harga sebungkus rokok sudah terlalu mahal sampai 20 ribuan jadi orang-orang berpikir untuk berhemat dan tidak lagi merokok. Uang rokok bisa digunakan untuk membeli berbagai keperluan rumah tangga yang lebih penting. Susah cari duit sekarang.
Son yang duduk di samping Shania tidak berkata apa-apa. Dia hanya menunduk sedikit sambil melihati jari-jari tangannya. Mungkin karena dia berdebar dan grogiĀ duduk di samping Shania sehingga tak berani bereaksi banyak dan berusaha duduk dengan tenang.
Winy mulai menggoyang-goyangkan ayunan dari besi itu ke depan dan ke belakang. Gerakannyai itu diikuti oleh Cyntia dan Joseph yang juga mengeluarkan tenaga untuk mengayun-ayunkan ayunan besi. Sementara Shania menyesuaikan dirinya atau tubuhnya dengan irama ayunan yang bergerak ke depan dan ke belakang.
"Kamu sering naik ayunan ini, Wilson?" tanya Shania pada Son yang duduk di samping kanannya. Dia berusaha memecah keheningan cowok itu yang terus diam sedari tadi.
"Mm-mm," Son mengangguk. Dia lupa lagi pesan papanya sejak kecil. Kalau ada orang yang bertanya padanya, jawablah dengan iya atau tidak. Jangan mengangguk atau bergumam saja. Son lupa (mungkin karena zodiaknya Taurus jadi suka lupa) dan tetap lebih suka mengangguk dan bicara singkat atau seperlunya saja. Son lebih suka mendengar dan memperhatikan.
"Sore-sorekah, Son?" tanya Shania lagi memancing Son bicara.
"Iya," kali ini Son menjawab pendek.
Melihat Son begitu diam, keempat temannya tidak bicara lagi. Mereka lebih banyak diam sambil menggoyang-goyangkan ayunan dengan tangan yang memegang besi ayunan di samping kiri kanan tempat duduk ayunan atau mengayun-ayunkannya dengan tenaga dari tubuh.
"Kamu tidak tidur siang, Son?" tanya Shania lagi ingin tahu.
"Kami tidak pulang mengganggu waktu tidur siangmukah?" tanya Shania.
Son menggeleng. "Nggak. Nggak rutin juga. Kadang saja kalau pas ngantuk atau capek. Biasanya juga aku baca-baca dan kerjakan PR atau belajar waktu sore," jawab Son.
"Oh, baguslah," kata Shania. "Kamu rajin sekali belajarnya, Son."
"Wilson pasti juara kelas waktu sekolah dulu?" pancing Winy sambil memandang Son yang duduk di seberangnya.
"Nggak juga. Masuk 5 sampai 10 besar saja," jawab Son.
"Wah, itu termasuk hebat juga!" puji Shania.
"Kalau aku sering dapat ranking 10 dari belakang," kata Joseph sambil tertawa keras.
"Aku juga!" kata Cyntia. Paling bagus cuma bisa masuk di pertengahan misalnya ranking 25 dari 50 siswa."
"Ranking itu sih nggak begitu penting," kata Winy. "Papaku bilang bukan ranking yang menentukan sukses atau tidaknya karier atau pekerjaan seseorang di masa depan."
"Iya, mamaku juga bilang begitu," timpuk Winy.
"Sama," kata Joseph. "Papaku bilang rangking di sekolah itu nggak begitu penting karena sekolah hanya teori saja. Yang penting kita bisa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Praktiknya itu yang penting, bukan teori."
"Setujuuu...!" jawab mereka serempak.
* * *