
Bab 91
"Untuk apa kamu datang, Aleena?" ulang Son lagi sambil menatap Aleena dengan sorot mata tajam.
"Tanteku tadi mau ke rumah temannya yang kebetulan lewat rumahmu, Son. Jadi aku nebeng mobilnya ke sini memcarimu," jawab Aleena cepat.
"Mencariku ada apa?" tanya Son.
Dia merasa surprais Aleena bisa tiba-tiba muncul di rumahnya di saat teman-teman sekolahnya sedang datang.
"Nggak apa-apa, Son. Cuma rindu saja," jawab Aleena tanpa ragu.
Son terhenyak. Wajahnya yang dingin tiba-tiba hangat dan menjengah. Hatinya berdesir halus. Entah karena ucapan Aleena yang terasa langsung menusuk ke dalam hatinya atau karena dia merasa Shania yang sedang duduk di sampingnya tiba-tiba memandangnya dan memandang Aleena silih berganti.
Son merasa tidak berbuat salah. Tapi entah kenapa mata Shania yang sedang mengawasi dirinya dan Aleena itu seperti hendak menghakimi 2 orang terdakwa yang telah berbuat salah.
Bukan salah Son jika Aleena tiba-tiba datang mencarinya sampai ke rumah tanpa pemberitahuan atau izin tuan rumah sebelumnya. Bukan salah Aleena juga yang berani berkata jujur kalau dia mencari Son karena rindu. Juga bukan salah Shania yang menaruh rasa curiga pada Son dan Aleena.
Padahal hubungan Son dan Aleena baru terjadi kemarin saat mereka bertemu di kafe dalam rangka acara reuni teman-teman SMA papanya Son dengan tantenya Aleena yang mana itu juga untuk merayakan ulang tahun Tom Simon, papanya Son.
Son yang berusaha menepis pelukan Aleena tak berhasil menggunakan cara halus dan lembut karena Aleena tak mau melepaskan pelukannya jadi Son terpaksa menggunakan cara yang agak kasar.
Aleena menanyakan nomor WA Son sewaktu mereka berdua berbincang-bincang di bawah sebatang pohon yang ada di halaman kafe. Namun Son tidak mau memberikannya sampai Aleena terpaksa mencari nomor ponsel Son dari tantenya yang bertanya pada papanya Son.
Tadi Aleena sudah menelepon ke ponselnya saat Son sedang berada di ruang tamu mengerjakan tugas kelompok Bahasa Indonesia bersama teman-teman sekelasnya. Saat Son dan teman-temannya sedang latihan membawakan peran tokoh di naskah drama yang ditulis Son.
Saat itu sebenarnya Shania sudah menatapnya dengan perasaan tak nyaman dan ekspresi wajah cemburu karena curiga Son memiliki hubungan khusus dengan gadis bernama Aleena yang sedang meneleponnya itu.
Setelah latihan drama berakhir dan mereka duduk-duduk di ayunan besi yang ada di taman, tiba-tiba Aleena muncul di hadapan Son dan teman-temannya dan dengan berani mengatakan kalau dia mencari Son karena rindu.
Tentu saja Shania yang tadi sempat berprasangka pada Son sekarang menjadi semakin curiga. Apalagi Shania merasa Aleena juga balik nenatapnya dengan mata penasaran dan ingin tahu seolah-olah curiga Shania adalah seseorang yang dekat dengan Son.
Son terpaku di tempatnya duduk. Dia tak tahu harus berkata apa. Mata keempat temannya sedang memandangnya dengan tatapan heran dan ingin tahu. Mereka juga memandang Aleena yang masih berdiri di samping Son di tepi ayunan. Keempatnya menaruh rasa curiga akan hubungan Son dan Aleena.
* * *