Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Perdebatan Joseph, Winy, Cyntia, dan Shania



Bab 86


"Oh... aku tahu rumah makan apa itu. Aku juga pernah ke sana," kata Winy.


"Iya, aku tahu. Itu rumah makan khas masakan Nusantara. Menunya selain ayam dan vegetables, juga ada seafood," Cyntia ikut bicara.


"Iyalah, aku juga pernah ke sana sama om-ku. Itu namanya rumah makan Lembur Kuring, ya kan, Seph?" tanya Shania.


"Iya," jawab Joseph. "Kapan-kapan kita ke sana yuk bareng-bareng. Kita-kita saja. Jangan sama om-mu," ajak Joseph.


"Beres. Tapi siapa yang traktir nanti? Kamu mau bayarin kami, Seph?" tanya Shania. "Soalnya biasanya om-ku yang bayarin karena aku pergi sama dia dan sepupuku. Kalau pergi sama kamu, Seph, kita-kita saja katamu, berarti kamu yang bayarin ya?" sekak Shania.


"Eh... enak saja! Biasanya pun aku ke sana papaku yang bayarin. Aku belum bisa cari duit sendiri. Dari mana duitku bayar tagihan makanannya? Entarlah. Kalau aku sudah bisa cari duit sendiri baru aku traktir kalian makan-makan di sana," jawab Joseph.


"Benar ya janjimu?" balas Shania. "Aku ingat lho."


"Iya, janjinya Joseph mau bawa kami makan-makan di rumah makan Lembur Kuring kalau dia sudah bisa cari duit sendiri. Kalau sudah kerja nanti. Nggak boleh pakai duit bapaknya untuk mentraktir kami makan-makan enak. Harus pakai duit dari hasil keringat sendiri. Dari hasil kerja keras sendiri. Itu baru sangat bernilai," kata Cyntia.


"Betul...!" timpuk Winy. "Ingat, Seph. Kamu belum boleh pacaran dulu kalau belum bisa cari duit sendiri. Kalau masih mengandalkan harta kekayaan orangtuamu untuk membawa pacarmu jalan-jalan, lebih baik nggak usahlah pacaran dulu."


"Iya, betul! Aku setuju!" kata Cyntia. "Bisa cari duit sendiri tanpa perlu mengandalkan orangtua itu baru hebat! Aku salut sama laki-laki yang seperti itu. Laki-laki yang bisa berjuang sendiri di tengah kerasnya perputaran roda dunia dan kejamnya persaingan hidup. Yang tak pernah menyerah untuk tetap bertahan hidup dan berusaha untuk melaju ke depan."


"Sama dengan aku, Cyn," kata Winy. "Entah kenapa sejak dulu aku pun lebih suka dan lebih salut sama laki-laki yang mapan bukan karena mendapat warisan orangtua tapi karena usaha dan kerja keras sendiri."


"Ya... betul... kalau belum mapan juga nggak apa-apa. Yang penting laki-lakinya mau berusaha dan punya semangat berjuang. Kan bukan salahnya si cowok juga kalau dia dilahirkan di keluarga berada dan memiliki semua fasilitas atau kemudahan. Yang penting dia juga mau bekerja sih. Jangan salahkan anak orang kayalah!" ingat Shania.


"Ya salahmu juga sih, Seph," jawab Winy. "Untuk apa pula kamu bilang mau pergi barengan kami atau kita-kita saja ke Lembur Kuring kalau kamu tak mau bayarin?"


"Eh... apa tak boleh aku bilang begitu?" Joseph keberatan. "Kan aku cuma bilang di sana ada kolam ikan juga yang di dalamnya ada ikan besar. Kalian saja yang tak mau kalah."


"Ya sudah! Sudah! Sudah! Kok jadi bertengkar pula kita gara-gara ngomongin ikan?" sebal Shania.


"Ya sudahlah," kata Winy. Dia mengalihkan pandangannya ke tempat lain di taman itu. "Oh... di situ ada ayunan. Ayo kita ke sana naik ayunan," ajak Winy.


Shania, Joseph, dan Cyntia mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Winy yang mana terdapat ayunan di situ.


"Iya... kita ke sana saja yuk, Wilson," ajak Shania pada Son yang berdiri terpaku di depan Shania.


Kebetulan, Son juga sedang memandang arah yang ditunjuk Winy. Walaupun Son tidak bicara apa-apa untuk menanggapi perbincangan keempat temannya, namun dia mendengarkan apa yang mereka katakan.


Memang betul. Yang lebih penting bagi seorang wanita dalam memilih pria atau pasangan hidupnya bukanlah latar belakang keluarga yang mapan melainkan pribadi dari si pria apakah dia mau bekerja, berjuang, dan berusaha sendiri? Itu yang paling penting.


Ada pepatah Tionghoa yang mengatakan, "Tangan sendiri bisa menumbuhkan daging jauh lebih bagus.daripada mengharapkan warisan orangtua. Jika tangan sendiri tak bisa menumbuhkan daging, mengharapkan warisan orangtua yang berapa besar pun tidak ada gunanya."


Yang paling penting adalah diri pribadi si pria. Mampukah dia bertahan dan berjuang sendiri (sampai berhasil) tanpa mengandalkan latar belakang keluarga (yang mapan)? Jika mampu. Kita pantas salut dan angkat tangan untuknya.


* * *