Substitute Mom

Substitute Mom
Tom dan Elen



Bab 7


Elen menaruh segelas teh manis hangat yang baru dibuatnya ke atas meja di mana Tom duduk menghadap ke sana.


"Minumlah dulu, Tom," kata Elen.


Tom meminum teh manis hangat di depannya. Setelah minuman itu lewat di kerongkongannya, dia merasa lebih segar.


"Bagaimana keadaanmu selama 5 hari di rumah sakit?" tanya Elen dengan mata tertuju pada Tom. Dia berdiri di depan Tom dan memperhatikan wajah laki-laki itu.


"Ya... begitulah. Agak lelah," jawab Tom jujur.


"Beberapa malam tidak bisa tidur dengan nyenyakkah?" tanya Elen lagi.


Tom mengangguk. "Kamu duduklah di kursi. Jangan berdiri saja," kata Tom.


Elen pun duduk di kursi yang ada di depan Tom. "Son kecil rewelkah?" tanyanya penasaran.


Sepertinya Elen berusaha mencari tahu apa saja yang dirasakan Tom selama 5 hari ini menjaga Kathy di rumah sakit. Selain rasa bahagia karena kehadiran Son kecil, Tom menyimpan rasa lain di hatinya. Seperti rasa sesak, kesal, jengkel, atau yang sejenisnya. Rasa yang membuatnya merasa lelah.


"Tidak juga," jawab Tom. "Hanya sesekali saja tapi tidak sering-sering," jawab Tom.


Memang ada bayi yang dilahirkan dengan pembawaan lahir rewel atau tidak. Bayi yang rewel akan bisa mengganggu tidur orangtuanya karena dia akan terbangun di jam-jam tertentu di malam hari lalu menangis terus-menerus selama puluhan menit bahkan sampai setengah jam. Orangtuanya terpaksa menggendong dan mengayun-ayunkannya supaya berhenti menangis. Dan itu terjadi hampir tiap malam selama 40 hari Padahal bayi tersebut tidak sedang lapar atau haus tapi dia menangis terus. Sampai dia capek sendiri barulah berhenti menangis.


"Kalau begitu, apakah yang membuatmu tampak begitu lelah dan kurang tidur, Tom?" tanya Kathy terus terang tanpa mampu menyembunyikan rasa ingin tahunya.


Tom tak menjawab. Dia hanya menarik nafas panjang dan menyeruput kembali teh manis hangat di depannya yang bersisa seperempat.


"Kathy-kah?" Elen mencoba menebak.


Tom terpana. Dia mengarahkan tatapannya kepada Elen. Kepala pelayan di rumahnya itu seperti bisa menebak apa yang ada di pikirannya. Elen seperti bisa menduga apa yang dialaminya di rumah sakit.


"Padahal Son kecil bisa ditaruh di ruang bayi untuk dijaga suster tapi Kathy sering meminta suster membawanya ke kamar. Dia sendiri masih kesusahan sehabis operasi. Tak mungkin aku tega membiarkan dirinya yang masih lemah itu sering-sering menggendong atau membuatkan susu untuk Son," celoteh Tom mengeluarkan uneg-uneg yang dipendamnya sekian hari. Selama 5 hari berada di rumah sakit dia tidak tahu harus cerita pada siapa. Sekarang, saat Elen duduk di depannya dan bertanya, Tom pun tak segan-segan menumpahkan uneg-unegnya itu.


"Oh, aku mengerti," kata Elen. "Selain itu juga harus sering-sering mengganti popok dan alas ranjang kan, Tom."


"Betul," jawab Tom sambil tersenyum getir. Tapi kemudian dia tertawa kecil. Rasanya ada yang membuatnya senang juga di tugas-tugas yang dilakukannya untuk Kathy di rumah sakit. Tom berpikir, tidak seharusnya dia mengeluh atau menyesali apa yang diinginkan Kathy itu karena Son adalah bayi mereka yang sudah lama mereka tunggu-tunggu kehadirannya. Jadi seharusnya dia merasa bahagia melakukan hal-hal tersebut.


"Kamu bisa menjaga bayi yang baru lahir, Elen?" tanya Tom bagai teringat.


"Tentu saja bisa, Tom," jawab Elen tersenyum.


"Ohya?" Tom menatapnya takjub Matanya bersinar ingin tahu.


"Dulu sewaktu di kampung halaman dan belum ke kota, aku sering menjaga anak tetangga yang dititipkan di rumahku," cerita Elen. "Ibu bayi itu bekerja di bank desa jadi aku membantu menjaga bayinya dan sebagai imbalannya adalah uang jajan yang kurasa cukup untukku tiap akhir bulan walaupun tidak banyak."


"Hahaha," entah mengapa Tom tertawa lepas mendengar cerita Elen. Mungkin dia senang mendengar Elen pernah menjaga bayi tetangga. Dia lega mengetahui Elen memiliki pengalaman menjaga bayi. Atau mungkin juga geli mendengar Elen mendapat imbalan uang jajan setiap bulan dari hasil nenjaga bayi tetangganya. Itu seperti sebuah cerita yang lucu bagi Tom. Karena itulah dia tertawa.


"Tampaknya kamu sudah berpengalaman menjaga bayi, Elen. Kamu harus membantu baby sitter yang menjaga Son nanti," kata Tom.


Elen tersenyum lebar. "Dengan senang hati, Tom," ucapnya dengan hati berbunga-bunga. Dia senang karena Tom memuji dan mempercayainya untuk turut menjaga Son nanti.


"Kamu tidak harus turun tangan sendiri, Elen," kata Tom. "Semua tugas bisa dikerjakan baby sitter. Kamu cuma perlu mengawasinya jangan sampai ada yang kurang seperti kamu mengawasi pekerjaan para pelayan di rumah ini."


"Iya, Tom. Aku akan berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk Son nanti," janji Elen.


Tom pun tersenyum lega.


Elen menyukai momen-momen seperti ini. Saat dia dan Tom duduk berhadapan dibatasi sebuah meja. Tom bercerita dan dia mendengarkan. Atau dia yang bicara dan Tom mendengarkan. Beberapa dukungan dia berikan pada Tom untuk membuatnya semangat. Sebaliknya, Tom memujinya untuk membuatnya senang. Ada timbal balik yang baik di antara mereka berdua. Tidak seperti hubungan Tom dengan Kathy di mana Tom yang selalu harus menuruti segala keinginan Kathy demi rasa cintanya pada istrinya itu.


Sebenarnya, Elen ingin bersama Tom duduk mengobrol lebih lama lagi. Tapi dia teringat Kathy di lantai atas mungkin sedang menunggu Tom kembali. Jangan sampai istri Tom itu menaruh rasa curiga pada suaminya.


"Kamu tidak kembali ke atas, Tom?" tanya Elen mengingatkan.


"Ups!" Tom bagai teringat. "Aku jadi lupa kalau tadi aku bilang pada Kathy hendak menanyakan padamu tentang baby sitter yang akan menjaga Son nanti. Kapan dia datang?"


"Oh, hari ini, Tom," jawab Elen cepat. "Sebentar ya, kutelepon ke yayasan dulu," kata Elen lalu mengeluarkan hp-nya yang terselip di kantong baju. Dicarinya nomor yayasan itu dan ditekannya nomor itu. Beberapa detik dia menunggu panggilan tersambung. Setelah tersambung, suara seorang wanita menjawab dari seberang sana.


Kathy pun menanyakan tentang baby sitter yang dipesannya dari yayasan itu dan dijawab kalau baby sitter tersebut sedang dalam perjalanan menuju rumah Tom.


Elen pun menutup pembicaraan di ponsel dan berkata pada Tom, "Sebentar lagi baby sitter-nya tiba, Tom."


* * *