Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Teman-teman Richard Merasa Sesal



Bab 68


Son dan Mark sudah berhasil dilerai. Mark ditarik kembali oleh Katrin ke meja yang tadi mereka duduki di mana Richard dan Fredy sedang duduk menunggu.


Sementara Son mengibas-ngibaskan lengan bajunya yang tadi disiram Luna dengan air jus. Dia juga mengibas-ngibaskan bagian depan kemejanya yang tadi disentuh-sentuh Mark sewaktu mendorongnya berulang kali.


Shania yang menyaksikan apa yang barusan terjadi di depannya berjalan keluar dari belakang meja menuju tempat Son berdiri.


"Gimana keadaanmu, Wilson?" tanya Shania sambil melihati wajah Son.


Son menggeleng. "Nggak apa-apa," jawabnya.


"Baju seragammu gimana?" tanya Shania lagi sambil melihati lengan baju Son yang basah karena disiram Luna.


"Nggak masalah," kata Son.


"Jadi nggak nyaman," kata Shania. "Sori, Wilson. Gara-gara aku, kamu dikasari begitu." Wajah Shania tampak sesal.


"Bukan salahmu," kata Son. "Ayo, kita kembali ke kelas sekarang," ajak Son.


Shania mengangguk dan mengikuti langkah kaki Son yang meninggalkan meja tempat mereka makan.


Sementara Mark, Luna, Desy, dan Katrin sudah kembali ke meja mereka, menghampiri Richard dan Fredy yang memperhatikan gerak-gerik mereka sedari tadi.


Mulai dari Luna yang berjalan mendekati Son, duduk di sampingnya, lalu membuka karet pengikat kantongan plastik berisi jus dingin dan menyiramkannya ke lengan baju Son, pertengkaran Shania dengan Luna, Son yang berdiri menghadap Luna dengan marah, Mark yang mendekat dan menantang Son, Desy yang berpura-pura berbaik hati hendak mengeringkan bekas siraman jus di lengan baju Son, sampai ke Son yang menepiskan tangan Desy  dan Mark yang sengaja mendorong-dorong Son lalu dibalas Son dengan satu tonjokan di pelipisnya.


Semua kronologi itu disaksikan oleh Richard dan Fredy dengan mata awas.


"Gimana keadaanmu, Mark?" tanya Fredy menyongsong Mark dan teman-temannya yang lain yang baru balik dari meja tempat Son dan Shania duduk.


"Agak sakit di sini," jawab Mark sambil menunjuk bagian pelipis kirinya.


"Wah, bengkak tuh, Mark," kata Desy.


"Betul, Mark. Bengkak dan memar. Kasihan kamu...," nimbrung Luna.


"Gara-gara kamu juga sih, Luna sampai Mark ditonjok sama murid baru itu," kata Fredy.


"Lho, kok gara-gara aku?" protes Luna. "Mark sendiri yang mendorong-dorongnya sampai dibalas begitu."


"Iya, tapi kan kamu yang duluan gangguin dia. Pakai acara siram jus segala ke lengan bajunya," ingat Fredy.


"Eh... kok aku yang disalahkan pula?" Desy tak terima. "Kan awal mulanya dari kamu, Luna! Sok-sokan kamu maju duluan mengganggunya sampai bertengkar dengan Shania."


"Pokoknya aku tidak salah!" Luna mulai emosi.


"Sudah! Sudah! Kok kalian jadi bertengkar di antara sesama teman gara-gara 2 orang itu?" kata Katrin.


Desy dan Luna pun saling mengembuskan napas kesal dan membuang muka. Berpaling satu sama lain.


Mereka asyik bertekak sampai lupa memperhatikan wajah Richard yang duduk dengan ekspresi sedih, kecewa, dan putus asa.


Sebenarnya, Mark, Luna, dan Desy saling membela diri karena takut Richard akan menyalahkan satu di antara mereka atas insiden yang terjadi barusan. Dengan saling menuding maka Richard akan tak tahu alias bingung hendak menyalahkan siapa di antara ketiga temannya itu.


Bagi mereka, Richard bukan saja ketua geng yang harus dihormati, tetapi juga teman yang baik dan royal. Sering mentraktir mereka dan membawa mereka jalan-jalan dengan mobilnya. Karena itu mereka sebisa mungkin tak hendak menyinggung Richard.


Kalau bukan karena Luna yang sudah super duper jengkel pada Shania sampai nekad mengusik teman barunya, maka insiden tadi tak akan terjadi.


Padahal Richard tidak suka jika teman-temannya memusuhi Shania demi dia. Dia nggak suka teman-temannya mengusik Shania termasuk teman barunya. Richard hendak memenangkan hati Shania secara gentle. Dengan cara halus. Bukan dengan cara kasar.


Untuk hal yang terjadi barusan, Richard tidak hendak menyalahkan siapa-siapa di antara Mark, Desy, dan Luna. Karena Richard tahu mereka melakukan itu gara-gara ingin membalas untuk dia juga. Richard memahami sifat teman-temannya dan keinginan mereka yang hendak memberi pelajaran pada Shania karena telah berulang kali mengecewakan dan menolaknya hingga membuatnya patah hati.


"Sori ya, Chard," kata Desy akhirnya saat melihat wajah Richard yang temangu memandang hampa ke depan.


Keempat temannya yang lain pun beralih menatap Richard. Mereka melihat wajah Richard sedang dalam rona yang gelap dan tidak menyenangkan. Suasana hatinya pasti sedang tidak baik-baik saja.


Betul, di dalam hati Richard tengah bergejolak berbagai rasa tak enak yang tidak karuan. Sedih, kecewa, putus asa, sesal, tak berdaya. Namun Richard hanya diam saja dan tak menanggapi kata-kata teman-temannya.


Katrin mendorong tubuh Fredy dan Luna supaya maju mendekati Richard juga untuk menunjukkan penyesalan mereka dengan beberapa kata-kata.


Fredy dan Luna pun mengikuti apa yang dikehendaki Katrin. Mereka berdua melangkah ke depan mendekati Richard dengan wajah sesal.


"Sori ya, Chard," kata Luna.


"Sori, Chard," kata Mark.


Richard mengangkat kepalanya. Menatap mereka berdua. Termasuk Desy. Namun tatapannya hampa.


* * *