
Bab 156
"Emangnya di mana kamu taruh bukumu, Son?" tanya Aleena sambil memperhatikan Son yang kebingungan mencari bukunya di bawah meja dan di samping sofa bahkan di bawah sofa.
"Di mana tepatnya aku lupa. Pokoknya bukuku itu tadi dipinjam bolak-balik sama teman-temanku. Bergantian mereka membaca naskah drama yang kutulis itu. Jadi aku nggak tahu siapa yang terakhir memegangnya dan meletakkannya di mana," jawab Son. "Huh! Kalau sampai hilang, terpaksa aku harus menulisnya ulang di buku lain."
"Nggak mungkin hilang, Son. Kalau kamu merasa bukunya pasti ada di ruang tamu ini ya pasti nggak ke mana-mana. Cari sampai ketemu saja. Aku bantu kamu cari," kata Aleena.
Aleena pun bangkit dari duduknya dan membantu Son mencari bukunya. Aleena mencarinya sampai berjongkok dan telungkup untuk mengintip ke kolong sofa yang sempit. Mana tahu buku itu tak sengaja tersepak memasuki kolong sofa saat Son dengan teman-temannya asyik berbincang-bincang? pikir Aleena.
"Ada nggak?" tanya Son sambil melihat Aleena yang telungkup di lantai mengintiip ke kolong sofa.
"Di sebelah sini nggak ada, Son. Coba di sebelah sana," Aleena pun bangkit dari telungkupnya lalu berjalan menuju sisi lain dari sofa dan telungkup di sana. Dia mengintip di kolongnya seperti yang dilakukannya tadi.
"Ada, Aleena?" tanya Son tak sabar.
"Mmm... nggak ada juga, Son," jawab Aleena setelah melongok-longok ke kolong sofa.
"Aduh, jadi ke mana hilangnya bukuku? Di mana-mana nggak ada," kata Son mulai resah. Dia enggan menulis ulang naskah dramanya di buku lain atau di buku baru yang menggantikan bukunya yang hilang.
Tapi kalau memang bukunya tak berhasil ditemukan, ya terpaksa dia harus menulis ulang karena tugas menulis naskah drama itu harus dikumpulkan kepada guru Bahasa Indonesia besok.
"Ya sudahlah, nggak ada di mana-mana," Aleena menyerah. "Sori ya, Son. Aku nggak berhasil menemukan bukumu."
"Bukan salahmu, Aleena. Aku juga tak berhasil menemukannya," Son menggeleng-geleng. "Ya sudahlah, nanti kutulis ulang saja di buku lain," kata Son dengan nada pasrah.
"Hahaha, tulisanku lebih bagus darimu," kata Son. "Nggak usahlah, Aleena," tolak Son. "Nanti ketahuan sama guruku kalau kamu yang menulisnya. Kan beda tulisan kita."
"Ya habis gimana lagi? Nanti kamu capek nulis ulang lagi," Aleena memasang tampang sedih.
"Nggak apa-apa, Aleena. Naskah dramanya tak begitu panjang," kata Son. "Malam nanti saja kutulis ulang sebelum tidur."
Setelah berkata begitu, Son dan Aleena duduk kembali di sofa. Seperti tadi, Son duduk di depan Aleena. Mereka duduk berhadapan dibatasi sebuah meja.
"Cerita-cerita sama akulah, Son," pinta Aleena sambil duduk bersandar pada sandaran sofa.
"Cerita apa?" tanya Son tak mengerti.
"Ya cerita apa saja yang kamu mau cerita. Aku siap mendengarkan semuanya," jawab Aleena. "Kalau tidak, kan kita hanya duduk-duduk saja di sini sambil menunggu papamu selesai mandi dan tanteku datang. Ya... aku bosan kalau diam saja sambil menunggu orang," keluh Aleena.
"Ya memang sifatmu nggak bisa diam," kata Son. "Mungkin sewaktu hamil kamu, mamamu suka makan kepiting ya makanya kamu seperti kepiting nggak bisa diam," canda Son.
"Hahaha," Aleena pun tertawa. "Betul, Son! Mamaku suka makan kepiting sewaktu hamil aku makanya aku lasak begini!" seru Aleena dengan wajah riang. "Kalau mamamu pasti suka makan es waktu hamil kamu makanya sifatmu jadi cool begitu dan hatimu jadi dingin begitu wkwk...!"
Ngeri, ah! 😰
Aleena takuuuttttt... ðŸ˜
* * *