
Bab 127
"Aku... tak mau dia membuat rusuh lagi," kata Son.
"Aku tak mau balik ke sana lagi," kata Shania. "Lebih baik suruh dia pulang sendiri saja. Jangan menumpang mobil om-ku lagi."
Son terpana. Dia tak menyangka Shania bisa tega begitu melarang Aleena ikut mobil om-nya pulang. Tak mungkin Son membiarkan Aleena pulang sendiri sedangkan mereka datang ke mal ini sama-sama tadi.
"Tidak mungkin begitu, Shan," kata Son. "Kita tidak bisa membiarkannya pulang sendiri naik taxol atau apa karena kan tadi kita datangnya sama-sama naik mobil om-mu."
Shania menatap Son tajam dan dingin. Dia mencoba mencari kejujuran akan isi hati Son dengan meneliti raut wajahnya. Apakah Son serius dengan kata-katanya itu? Apakah Son benar-benar menolak permintaannya? Benarkah Son lebih memihak Aleena daripada dirinya?
"Kenapa tidak?" tanya Shania. Dia melihat wajah Son sungguh-sungguh saat berkata tak mungkin mereka membiarkan Aleena pulang sendiri. Apakah Son sungguh mengkhawatirkan Aleena? Kalau begitu, Aleena pasti seseorang yang berarti bagi Son, pikir Shania.
"Aku tidak tega dan akan khawatir kalau dia pulang sendiri," jawab Son jujur. "Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya? Zaman sekarang banyak sekali tindak kejahatan spontanitas yang tak disangka-sangka. Lebih aman kalau dia pulang bersama kita, Shan."
Shania mendengus kesal. Dia memalingkan wajah dari wajah Son yang kelihatan khawatir saat Shania berkata melarang Aleena ikut mobil om-nya pulang. Setelah beberapa detik, Shania kembali menatap Son.
"Kalau kamu tak tega dan merasa khawatir, ya kamu temani dia sajalah naik taxol," kata Shania setelah dia berpikir sejenak untuk melampiaskan kekesalannya.
"Kamu...!" Shania benar-benar kheki. "Kalau aku yang berada dalam posisi yang seperti dia, apakah kamu akan membelaku juga, Wilson?" tanya Shania.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Shan?" tanya Son kaget. Dia tak menyangka kalau Shania bisa berubah menjadi demikian ketus pada dirinya dan tega pada Aleena saat sedang marah.
Ya, semua orang juga akan seperti itu saat mereka sedang marah. Tak peduli seberapa baik dan lembut hati orang tersebut, jika benar-benar sudah marah dan di luar dari batas kesabarannya pasti akan marah juga.
"Jawab saja, Wilson," kata Shania. "Apakah kamu akan membelaku juga?" tanyanya dengan suara dingin.
Son menghela nafas panjang sebelum menjawab, "Sudah tentu, Shan," jawab Son. "Karena keselamatan manusia itu lebih penting daripada rasa marah."
"Oh, itukah alasannya?" tanya Shania dengan mata menyelidik. Mencari kejujuran sekali lagi di raut wajah Son.
"Iya, Shan," jawab Son. "Kita harus bersikap adil. Siapa yang harus dibela bisa dipikirkan dengan logika. Bukan dengan perasaan. Karena kalau kita mengutamakan sesuatu dengan menggunakan perasaan, maka itu akan tidak adil bagi sesuatu yang lain yang menggunakan logika. Jadi supaya adil, gunakanlah logika, bukan perasaan."
"Hmmm... baiklah," kata Shania. Dia pun ikut menghela nafas panjang dan mengembuskannya perlahan. Rasanya, tak ada gunanya lagi dia bersitegang dengan Son. Karena kata Son, dia harus menggunakan logika, bukan perasaan. Kalau menggunakan perasaan, ya sudah pastilah Shania yang akan dibela dan diutamakan Son. Tapi itu akan tidak adil bagi Aleena.
* * *