
Bab 115
Setelah melihat-lihat berbagai perlengkapan di toko perlengkapan kantor, Joseph, Winy, Cyntia, Shania, Son, dan Aleena pun berjalan keluar dari sana dan melanjutkan langkah menyusuri mal menuju tempat lain.
Joseph, Winy, dan Cyntia yang berjalan di depan melangkah sambil berbincang-bincang. Sementara Shania, Son, dan Aleena yang berjalan di belakang hanya sesekali saja berbicara.
Kadang Aleena mengomentari apa yang dilihatnya yang ada di sebelah kirinya, yaitu barang-barang yang dipajang di etalase toko. Atau berbagai jenis makanan yang kelihatan dari depan saat mereka melewati kafe-kafe.
Banyak pembeli yang mengantre sampai berbaris di depan kafe yang menjual makanan luar negeri. Misalnya: makanan khas Jepang atau Korea. Kelihatan dari bentuknya yang menarik dan lezat. Juga tercium harum dan wanginya saat makanan itu dibuat di alat pemanggang kue lalu diserahkan kepada pembeli yang sedang mengantre.
Begitu juga dengan minuman. Berbagai jenis minuman yang tercium harum, wangi, dan lezat terpajang di depan kafe. Ada pelayan kafe yang berdiri di belakang stan-stan sambil melayani pembeli. Mereka membuat minuman itu di beberapa mesin minuman. Setelah dibuat, minuman itu diserahkan kepada pembeli yang segera menerimanya dengan lega lalu membayar harganya.
Harga makanan dan minuman khas Jepang, Korea, Taiwan, atau Amerika itu lebih mahal 3-5 kali lipat dari minuman yang dijual di kaki lima. Misalnya harga jus alpukat atau es campur di kaki lima 6-12 ribu/gelas plastik, maka harga minuman khas luar negeri di kafe mencapai 30-50 ribu/gelas plastik.
"Kamu mau minuman khas Korea, Wilson?" tanya Shania sambil menoleh pada Son yang berdiri di samping kirinya.
"Hmmm..., boleh juga," jawab Son sambil mengangguk.
"Hei... tunggu dulu! Sebentar!" panggil Shania pada Joseph, Winy, dan Cyntia yang berjalan di depannya.
Mendengar panggilan Shania yang menahan langkah mereka, Joseph, Winy, dan Cyntia pun menghentikan langkah sejenak lalu menoleh ke belakang untuk melihat pada Shania, Son, dan Aleena.
"Ada apa, Shan?" tanya Joseph sambil menatap Shania.
"Wilson mau minuman Korea, kalian mau nggak?" tanya Shania sambil memandang ketiga temannya.
"Hmm... boleh juga," jawab Cyntia.
"Kalau aku minuman Amerika," jawab Joseph.
Shania mengerutkan kening. Dia pusing mendengar permintaan ketiga temannya. Yang berdiri di sebelah kiri Son yaitu Aleena belum ditanyanya. Shania kurang hendak berbicara dengan teman Son itu yang bukan teman sekelasnya.
Apalagi Shania juga kurang menyukai Aleena. Dia merasa berat hati bertanya pada Aleena apa pesanannya. Apakah dia ingin minuman Korea, Jepang, Taiwan, atau Amerika.
Tapi Shania merasa kurang pantas jika dia tidak bertanya pada Aleena karena Aleena ada di antara mereka walaupun bukan teman sekelasnya. Karena itu Shania pun menoleh ke samping kiri untuk melihat pada gadis belia itu yang berdiri di samping kiri Son.
"Kamu mau minuman apa?" tanya Shania pada Aleena.
"Emang ada minuman apa saja?" Aleena balik bertanya.
"Korea, Jepang, Taiwan, Amerika," jawab Shania. "Tapi ada yang terpencar di kafe lain. Misalnya minuman Taiwan dan Amerika di kafe lain. Tidak ada di kafe khas Korea dan Jepang."
"Oh... aku ikut Son sajalah. Supaya tidak ribet," jawab Aleena.
"Son mau minuman Korea," beri tahu Shania.
"Iya, aku minuman Korea juga," kata Aleena.
Setelah mendengar pesanan kelima temannya, Shania pun melangkah mendekati kafe dan mengantre di barisan yang lumayan panjang.
* * *