
Bab 69
Lonceng pulang berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar dari kelas setelah membereskan perlengkapan sekolah dan buku pelajaran masing-masing.
Shania barusan siap memasukkan kotak pensil dan buku catatannya ke dalam tas saat Richard berjalan mendekatinya.
"Shan," panggil Richard.
Shania menoleh sekilas.
"Sori ya soal tadi," kata Richard.
Shania mengerutkan kening. Dia merasa heran kenapa Richard mengucapkan sori padanya padahal Richard tidak terlibat.
"Gara-gara aku...," kata Richard.
"Gara-gara kamu?" Shania tak mengerti. Dia sudah bangkit dari duduknya dan bersiap-siap untuk meninggalkan meja.
"Iya, gara-gara aku teman-temanku ribut sama kamu," kata Richard.
Shania menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Ya sudahlah, aku mau pulang sekarang. Minggir!" kata Shania sambil mengaitkan tas sekolahnya ke bahu dan bersiap-siap lewat jika Richard memberinya jalan.
"Kamu belum jawab, Shan," kata Richard. "Kenapa buru-buru mau pulang?"
"Iya, mau cepat pulang karena kami mau ke rumah Wilson buat PR kelompok," jawab Shania.
"Kamu... mau memaafkan perbuatan teman-temanku tadi?" tanya Richard.
Shania mengernyitkan alis. Dia merasa bete karena Richard yang menghalangi jalannya belum juga minggir malah mengungkit hal yang tak mengenakkan.
"Haduh..., Chard, tolong minggir, aku mau cepat pulang supaya kami nggak terlambat ke rumah Wilson. Nanti kesorean kami bikin PR-nya," kata Shania.
"Tapi kamu belum jawab," Richard masih berdiri di tepi bangku Shania sehingga Shania tidak bisa keluar dari bangkunya.
"Jawab yang mana, Chard?" Shania seolah bingung.
"Soal teman-temanku tadi," jawab Richard sambil menatap Shania.
Shania melirik sekilas ke bangku belakang di mana kelima teman Richard: Fredy, Mark, Desy, Luna, dan Katrin sedang mengawasinya dengan mata sebal.
Mereka bukan saja palak melihat sikap Shania yang dirasa sombong dalam memperlakukan Richard, tapi juga jengkel dan tak habis pikir kenapa Richard harus begitu merendahkan diri di depan Shania? Bukannya tidak ada gadis cantik lain yang tidak menyukai Richard, tapi kenapa Richard harus menyukai Shania dan mengejar-ngejarnya terus selama 2 tahun ini sejak mereka kelas I SMP?
"Iya, nggak apa-apa, Chard. Sekarang aku sudah boleh lewat kan?" tanya Shania sambil balik menatap Richard.
Melihat Shania sedang menunggunya minggir, Richard pun bergerak ke samping sehingga Shania bisa keluar dari bangkunya dan lewat di samping Richard.
Joseph dan Son yang dari tadi memperhatikan dan mendengarkan percakapan Shania dengan Richard pun ikut bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan meja.
Mereka menguntit di belakang Shania yang duluan melangkah menuju pintu kelas.
Tinggallah Richard dengan kelima temannya melihat kepergian Shania dengan Son dan Joseph yang berjalan meninggalkan ruang kelas.
"Wuih, sombong sekali!" ceplos Luna dengan suara mangkel.
"Ehm-ehm," teman-teman Richard pun berpura-pura mendehem dan ada yang berpura-pura batuk untuk mengusir suasana tegang di antara mereka yang barusan menyaksikan pembicaraan Richard dengan Shania.
Richard melirik Mark yang tadi ditonjok Son. Pelipisnya tampak memar dan bengkak.
Teman-temannya ikut melirik Mark dan menyadari kalau wajah Mark tampak kelam. Seperti ada awan mendung menggantung di sana.
"Gimana pelipismu, Mark? Masih sakit nggak?" tanya Fredy.
"Iya, lumayan," jawab Mark.
Teman-temannya memandangnya prihatin. Entah siapa yang bersalah dalam hal ini? Mark yang duluan mendorong-dorong Son ataukah Son yang tak bisa menahan kesabarannya sampai harus menonjok wajah Mark?
Seandainya saja Luna tidak sok-sokan maju mengganggu Son, pastilah insiden tadi tak akan terjadi.
"Kamu singgah ke rumahku, Mark, aku ada obat untuk luka memarmu," kata Richard.
"Oh, nggak apa-apa, Chard," jawab Mark. "Hanya bengkak dan memar sedikit saja. Entar kompres di rumah sudah bisa." Mark berusaha tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Richard.
"Tapi nampak serius juga," kata Luna.
"No problem-lah," jawab Mark. "Santai saja. Aku sudah biasa berkelahi sejak kecil. Luka memar begini yah biasa saja."
"Benaran, Mark?" tanya Fredy.
Richard, Luna, Desy, dan Katrin semuanya memandang Mark.
Mark mengangguk sambil mempertemukan jari telunjuk dengan jari jempolnya pertanda okey.
"Syukurlah kalau nggak apa-apa. Tapi nanti kita kerja kelompok juga kan?" tanya Desy. "Yang PR Bahasa Indonesia tadi? Membuat naskah drama dan mempertunjukkan di depan kelas?"
"Oh iya, hampir lupa," cetus Katrin.
"Kalau begitu, kita kumpul di rumah Richard kapan?" tanya Katrin. "Tak apa-apa toh kita satu kelompok 6 orang?"
"Iya, kayaknya boleh-boleh saja," jawab Fredy. "Kita kumpul di rumah Richard seperti biasanya kan? Sore nanti saja kita buat sekalian obati memarnya Mark dengan obatnya Richard."
""Mau ya, Mark? Chard?" tanya Katrin.
"Ya, boleh juga sore nanti kita kumpul di rumah Richard," jawab Mark.
Mereka melihat Richard. Meminta persetujuannya. Richard pun mengangguk.
Setelah itu keenamnya berjalan meninggalkan ruangan kelas untuk pulang makan di rumah masing-masing sebelum berangkat ke rumah Richard mengerjakan tugas kelompok.
Sementara itu, Son dan Shania yang sudah sampai di luar gerbang sekolah dijemput oleh Tom dan supir om-nya Shania pulang ke rumah masing-masing.
Rencananya, sore nanti Shania, Joseph, Winy, dan Cyntia akan berkumpul di rumah Wilson mengerjakan tugas kelompok Bahasa Indonesia membuat naskah drama.
* * *