Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Aleena Memprotes Son



Bab 116


"Sebaiknya kita antre juga di situ," kata Winy sambil menunjuk sebuah kafe yang menjual minuman Amerika. "Kalau tunggu Shania saja bakal lama."


"Iya. Betul juga. Antrean di sini lumayan panjang," kata Cyntia sambil menunjuk barisan yang lumayan panjang di depan kafe yang menjual minuman Jepang dan Korea.


"Jadi siapa yang mau ke sana antre?" tanya Joseph.


"Aku saja," jawab Cyntia. Dia lalu beranjak dari depan kafe yang menjual minuman Jepang dan Korea, tempat di mana mereka berhenti tadi setelah menyusuri mal.


Cyntia berjalan menuju kafe yang menjual minuman Amerika. Letaknya tidak jauh dari kafe yang menjual minuman Jepang dan Korea.


Setelah Cyntia beranjak ke sana, Joseph berkata kepada Winy, "Ayo kita ke kafe yang di ujung sana, Win," ajaknya.


"Untuk apa ke sana?" tanya Winy.


"Ya lihat-lihat saja. Ada jual apa saja di sana. Daripada kita berdiri saja di sini menunggu Shania dan Cyntia pasti lama," jawab Joseph.


"Oh, ayolah kalau begitu," kata Winy. Dia pun melangkah bersama Joseph menuju kafe yang ditunjuk oleh Joseph tadi.


Setelah Winy dan Joseph beranjak dari situ, maka tersisa Son, Aleena, dan Shania yang masih berdiri di depan kafe yang menjual minuman Jepang dan Korea. Namun karena Shania sedang mengantre di barisan dan maju sedikit demi sedikit saat pengantre yang lain memperoleh bagian, maka Shania pun perlahan-lahan menjauh dari Son dan Aleena.


Sekarang, tinggal Son dan Aleena yang masih berdiri menunggu di depan kafe yang menjual minuman Jepang dan Korea. Jika mereka berdua berbicara, tidak akan terdengar oleh teman-teman yang lain.


"Tega sekali hatimu, Son," kata Aleena tiba-tiba. Mengejutkan Son yang sedang melihat pada Shania yang mengantre di barisan.


Son tersentak. Dia segera mengalihkan perhatiannya dari Shania kepada Aleena yang berdiri di dekatnya.


Tapi di depan kafe yang menjual minuman Amerika juga Cyntia yang mengantre, bukannya Joseph. Pikir Son, bukankah Shania dan Cyntia sendiri yang berkehendak mengantre di barisan dan mereka tidak meminta dirinya atau Joseph yang melakukannya? Jadi apa salahnya?


"Maksudku? Coba kamu tebak," kata Aleena berteka-teki.


"Ya karena bukan aku atau Joseph yang mengantre di barisan, tapi Shania dan Cyntia," tebak Son.


"Bukan itu," kata Aleena. "Mengantre minuman di barisan itu bukan pekerjaan yang berat. Bukan hanya bagi wanita, bagi anak-anak umur 7 tahun pun bisa melakukannya. Gampang itu. Bukan masalah."


"Lha, jadi apa?" tanya Son.


"Tega hatimu meninggalkan aku sendirian menunggu di bawah pohon saat kamu hendak masuk ke mobil untuk datang ke mal ini. Kenapa kamu tidak melihatku sebentar apakah aku masih ada di bawah pohon atau sudah pulang? Bagimu, diriku ini apa? Tidak ada pentingnya sama sekali dibandingkan teman-temanmu. Dan juga tidak ada artinya jika dibandingkan dengan temanmu yang bernama Shania itu. Aku bukan siapa-siapa. Aku kalah jauh di hatimu dibandingkan dirinya di hatimu."


Aleena berceloteh panjang lebar di depan Son sambil memasang mimik sedih.


"Jangan bilang begitu," kata Son. "Kamu itu juga temanku."


"Iya, kalau begitu kenapa kamu tinggalkan aku tadi sendirian di bawah pohon dan tak balik-balik?" tanya Aleena.


"Sori, aku lupa. Kami terburu-buru mau ke sini tadi saat supir om-nya Shania datang menjemput," jawab Son tanpa disertai rasa bersalah.


Aleena merengut. Dia merasa jengkel pada Son. Tapi dia tak bisa berkata apa-apa. Memang sudah nasibnya diabaikan Son.


* * *