
Bab 47
Ponsel Son berbunyi. Shania menoleh ke arah Son. Dia melihat Son sedang mengeluarkan ponselnya dari saku celana panjangnya.
Son melihat nama pemanggil. Telepon seluler dari papanya. "Iya, Pa," jawabnya.
"Son," terdengar suara Tom di seberang sana. "Papa ada rapat mendadak siang ini. Nggak bisa jemput kamu sekarang. Kamu sudah pulangkah?"
"Sudah, Pa," jawab Son.
"Bisa tunggu Papa 2 jam lagi? Atau kamu pesan taxol saja?" tanya Tom.
"Aku...," sebelum Son menjawab, Shania sudah mencolek lengan kanannya. Dia mendengar suara papa Son lewat telepon seluler yang dikeraskan suaranya.
"Ikut mobilku saja," kata Shania. "Supirku nanti mengantarmu sampai ke rumah."
Son agak ragu tapi Shania meyakinkannya. "Bilang sama papamu nggak usah jemput."
Melihat Shania memberi isyarat dengan menganggukkan kepalanya, Son pun menyampaikan maksud Shania pada papanya. "Papa nggak usah jemput. Aku pulang naik mobil teman."
"Oh, iyakah? Apa ada teman yang kamu kenal di sekolah?" tanya Tom heran.
"Iya, Pa. Nanti supirnya mengantarku pulang," jawab Son.
"Jadi papa nggak usah menjemputmu?" tanya Tom memastikan.
"Nggak usah, Pa," jawab Son.
"Okelah. Nanti kalau sudah sampai di rumah kamu WA papa saja," pesan Tom.
"Iya, Pa," jawab Son.
Tom pun memutuskan hubungan seluler dengan Son.
Son menyimpan kembali ponselnya ke saku celana panjangnya lalu menatap Shania. "Sebenarnya aku bisa pesan taxol," katanya.
Shania tersenyum. "Nggak apa-apa, Wilson. Supirku baik. Dia pasti mau mengantarkanmu sampai ke rumah," katanya.
Son pun tersenyum kecil.
Mereka memandang ke jalan raya dan tak bicara lagi sampai sebuah mobil sedan warna hitam berhenti di depan Shania, sekitar 5 meter dari tempat berdiri Son dan Shania.
"Itu mobilku datang," kata Shania sambil menoleh ke arah Son. "Ayo, kita ke sana," ajaknya.
Son mengikuti langkah kaki Shania yang berjalan menuju mobil sedan yang sedang berhenti sejenak di tepi jalan raya itu.
Setelah sampai, Shania segera membuka pintu mobil jok belakang dan mengajak Son masuk.
Son pun duduk di jok belakang mobil bersama Shania.
"Wah, ada teman ya, Non," kata abang supir.
"Oh, boleh, Non," jawab abang supir.
"Abang tahu tempatnya?" tanya Shania.
"Tahu, Non," jawab abang supir.
Mobil pun dijalankan perlahan membelah jalan raya yang lumayan ramai di siang itu karena pas jam pulang sekolah.
Tahun Ajaran Baru dimulai pada tanggal yang sama di banyak sekolah. Namun ada juga sekolah yang menentukan tanggal masuk hari pertama Tahun Ajaran Baru yang berbeda.
Duduk di dalam mobil bersama Shania di sampingnya, Son tak berkata apa-apa. Matanya hanya memandang ke samping jendela kaca pada berbagai jenis kendaraan yang berlalu lalang.
Walau Shania juga memandang ke samping jendela kaca, namun matanya sesekali mencuri pandang pada Son yang duduk di sampingnya.
Sedari tadi hanya Shania yang mengajak Son bicara duluan. Karena itu Shania merasa tak enak juga. Dalam hatinya dia ingin Son yang memulai pembicaraan Tapi sia-sia belaka karena Son tak akan melakukan itu.
Kenapa bisa ada orang yang begitu pendiam? pikir Shania. Orang yang tahan tidak bicara apa-apa kalau tidak ditanya atau diajak bicara duluan. Bahkan menjawab dan membalas obrolan pun cuma dengan kata-kata yang singkat.
Selain tertarik pada Son, Shania juga penasaran dan ingin tahu tentang Son lebih dalam. Dia ingin tahu lebih banyak tentang Son karena sekarang Son adalah orang yang penting baginya. Orang yang diperhatikan dan dipedulikannya. Orang yang membuat dia tak bisa lagi merasa bangga sebagai seorang wanita yang selama ini selalu didahulukan, disanjung, dan dikejar-kejar pria.
Berhadapan dengan Son, Shania merasa justru dia yang terkesan berusaha mendekati Son. Tapi Shania tak keberatan karena dia merasa Son pantas untuk itu. Walaupun seumur hidup Shania tak pernah bersikap very welcome terhadap seorang cowok apalagi memperlakukan mereka dengan sangat baik seperti dia bersikap dan memperlakukan Son, namun Shania ikhlas. Dia melakukan semuanya dengan tulus karena dia benar-benar menyukai dan mempedulikan Son.
Merasa Son tak mungkin akan mengajaknya bicara duluan di dalam mobil yang sedang melaju, Shania pun mencoba mencari topik pembicaraan berikutnya.
"Ohya, Son," katanya sambil menoleh ke samping, pada Son yang sedang menatap keluar jendela. "Kamu mengerti soal-soal Matematika yang tadi?" tanyanya.
Son mengalihkan pandangannya dari jendela kaca ke wajah Shania lalu mengangguk. "Iya," jawabnya.
Kamu mengertikah? Aku sama sekali tidak mengerti," kata Shania.
"Sudah dijelaskan tadi," kata Son.
"Iya, tapi aku tidak menyimak karena tidak minat. Tak bisa fokus lho, Son kalau kita tak menyukai pelajarannya," alasan Shania.
Son tersenyum lalu kembali memandang ke samping jendela. Dia merasa tak tenang duduk di samping Shania walaupun hatinya senang dan nyaman.
Son," panggil Shania lagi.
Son kembali memandang Shania.
"Nanti kalau kamu sudah siap PR Matematika yang tadi, pinjamin aku ya," katanya.
"Iya," jawab Son singkat.
Mobil yang dikendarai abang supir pun terus melaju menuju rumah Son.
* * *
* * *