Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Tom Menelepon Elen



Bab 49


Elen sudah selesai menanyai Son. Dia terbiasa melakukan itu karena merasa bertanggung jawab atas segala sesuatu yang berkaitan dengan Son. Dia harus bertanya dengan rinci supaya segalanya jelas.


Apalagi semenjak kepergian Kathy, mamanya Son, dan tidak bekerjanya lagi Jessica, baby sitter Son pada 2 tahun lalu, maka Elen menjadi satu-satunya yang paling dekat dengan Son.


Dengan Tom, Son tak begitu dekat. Walaupun sejak mamanya meninggal, papanya yang mengantar jemput Son ke sekolah, namun Son tetap tak bisa dekat dengan papanya itu. Seperti ada jarak yang memisahkan mereka. Ketidakcocokan yang membuat Son tak pernah mau bicara banyak dengan Tom. Dia tak bakalan mau cerita apa-apa ke Tom kalau tidak ditanya terlebih dahulu.


Jadi Elen merasa dialah yang selalu harus bertanya pada Son tentang segala sesuatu yang terjadi pada dirinya agar Elen bisa menjelaskan pada Tom jikalau suatu hari nanti Tom menanyainya.


Sebenarnya Elen masih penasaran dengan teman sekelas Son yang bernama Shania itu. Kenapa dia bisa begitu baik pada Son di hari pertama mereka bersekolah. Son dan dia hanyalah teman baru yang baru berkenalan. Seperti apakah gambaran sosok Shania itu. Cantikkah? Baikkah? Apakah dia menyukai Son? Kalau tidak, kenapa mau menawarkan Son menumpangi mobilnya?  Elen bertanya-tanya terus dalam hati.


Saat Elen masih mengira-ngira tentang sosok bernama Shania itu, ponselnya berbunyi. Elen segera mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya dan melihat nama pemanggil, Tom.


"Iya, Tom?" jawab Elen.


"Elen, Son sudah pulang ke rumah?" tanya Tom cepat.


"Sudah," jawab Elen. "Son sudah pulang ke rumah dan barusan siap makan," beri tahu Elen.


"Oh, tapi kenapa dia tak memberitahuku? Tadi sudah kupesan sama dia agar memberitahuku via WA. Kutunggu-tunggu tidak ada WA masuk darinya. Kuhubungi ponselnya juga nggak aktif," kata Tom.


Son mendengar kata-kata papanya itu lewat ponsel Elen yang dikeraskan suaranya. Seketika Son pun tersadar kalau dia sudah lalai. Dia lupa melaksanakan pesan papanya.


"Oh, iyakah, Tom? Mungkin saja ponselnya habis baterai. Atau dia lupa karena sudah lapar. Tadi buru-buru makan sesampainya di rumah," kata Elen seperti berusaha membela Son yang lalai melaksanakan pesan papanya.


"Ya, sudahlah kalau begitu," kata Tom lalu menutup sambungan seluler.


Elen menyimpan kembali ponselnya ke saku bajunya lalu menatap Son.


"Hayo, sampai lupa ya, Son?" kata Elen.


"Iya, aku lupa memberi tahu papa," jujur Son. Dikeluarkannya ponselnya dari dalam saku celana panjangnya dan melihat layarnya. "Waduh, kok nggak nyala, padahal tadi masih banyak baterai," kata Son lalu menyalakan ponselnya.


"Kok begitu? Bukannya habis baterai karena kata papamu tadi tak tersambung?" heran Elen.


"Hmmm... lain kali harus lebih hati-hati," ingat Elen. "Jangan sampai buat papamu marah."


"Iya, Elen," jawab Son.


"Ayo, sekarang kembali ke kamarmu dan mandi," kata Elen.


"Iya, aku cuci tangan sebentar," kata Son lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke bak cuci piring. Dia mencuci tangannya di bawah kran air yang mengalir.


Setelah itu dia mengeringkannya di kain lap kecil yang tergantung di dinding keramik depan bak cuci piring. Ada sangkutan kecil yang ditempelkan di dinding keramik itu sehingga kain lap bisa digantungkan di sana.


"Aku mau balik ke kamar sekarang, Elen," kata Son.


"Iya, pergilah," balas Elen yang berdiri di dekat meja makan.


Son pun berjalan meninggalkan ruang makan menuju ruang tamu. Dia mengambil tas sekolahnya yang tadi diletakkannya di atas meja ruang tamu. Kemudian tas itu dibawanya dengan cara menenteng pegangan di bagian tengahnya.


Son berjalan menuju tangga ke lantai 2 untuk kembali ke kamarnya. Setelah sampai di kamar, Son meletakkan tas sekolahnya ke atas meja belajarnya yang ada di samping lemari baju.


Son membuka lemari baju, mengambil satu stel pakaian rumah yang akan dikenakannya sehabis mandi. Pakaian itu diletakkannya di atas ranjang, lalu Son berjalan menuju kamar mandi.


Setelah 15 menit, Son keluar dengan handuk putih membalut di tubuhnya mulai dari atas dada hingga ke bawah lutut. Rambutnya basah sehabis keramas dan Son menggunakan handuk kecil yang ada di tangannya untuk mengeringkannya.


Son berjalan mendekati ranjangnya dan meletakkan handuk kecil di tangannya ke atas ranjang. Dia mengganti handuk putih yang melingkari tubuhnya dengan pakaian rumah berupa baju kaos dan celana ponggol selutut.


Son sudah berpakaian rapi. Dia melangkah mendekati lemari baju di mana ada cermin besar yang menyatu dengan pintu lemari. Cermin itu hampir seukuran 1 pintu lemari baju.


Son mengambil sisir yang ada di atas meja di dekat lemari baju lalu menggunakannya untuk menyisiri rambutnya sambil bercermin di depan lemari.


Selesai menyisiri rambutnya yang berponi panjang dan disisir ke atas, Son meletakkan sisir lalu duduk di meja belajarnya.


Dia mengeluarkan buku-buku dan peralatan tulis yang ada di dalam tas. Menukarnya dengan buku cetak dan buku tulis untuk pelajaran besok. Setelah disusunnya ke dalam tas, Son pun membuka buku cetak Matematikanya dan mulai mengerjakan PR yang diberikan guru Matematika tadi di buku latihannya.


* * *