Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Winy dan Cyntia Mengeluhkan Aleena



Bab 130


Shania dan Son berjalan berdampingan menuju tempat duduk keramik yang mereka duduki tadi. Joseph, Winy, dan Cyntia sedang menunggu mereka kembali.


Tak berapa lama kemudian Shania dan Son pun sampai di tempat yang dituju. Melihat kedatangan Shania dan Son, Joseph, Winy, danĀ  Cyntia pun seketika menoleh untuk melihat pada mereka berdua.


"Wah, lama sekali kalian berdua," kata Joseph saat langkah Shania dan Son sampai di dekat mereka.


"Ke mana saja kalian?" tanya Winy. "Gara-gara kalian berdua, wajahku hampir ditinjok Aleena."


Winy memasang tampang sebal dan masqul setelah berucap demikian. Sorot matanya tampak menyalahkan Son dan Shania.


"Maksudnya?" tanya Son tak mengerti.


"Maksudnya, gara-gara tadi kami berusaha mencegah Aleena mengejar kalian berdua, aku dan Winy sampai jadi korban," papar Cyntia.


"Iya tuh, pergelangan tangan Cyntia sampai luka dan merah dicakar dan dicubit oleh temanmu itu," timbrung Joseph. "Kasihan Winy dan Cyntia. Mereka berdua kalah melawan Aleena."


"Maksud kalian apa?" tanya Shania ikut-ikutan tak mengerti.


Winy mulai bercerita, "Tadi, ketika Wilson mengejarmu yang tiba-tiba melangkah pergi, Aleena seketika berusaha mengejar Wilson dan kami berusaha mencegahnya."


"Hah? Untuk apa kalian mencegahnya? Biarkan saja dia mengejar Wilson. Apa urusannya dengan kalian berdua?" heran Shania.


"Iya, tapi kan kami tak mau dia mendekat pada Wilson dan kamu lagi, Shan. Nanti dia mengerjaimu lagi sampai-sampai kamu marah kayak tadi," kata Cyntia.


Shania tahu, caranya supaya dia tidak marah oleh tingkah laku Aleena adalah dengan tidak mempedulikan Son. Bila dia tidak peduli pada Son, maka otomatis apa pun yang diperbuat oleh Aleena tidak akan ada hubunganya lagi dengan dirinya. Tapi bila dia sangat peduli pada Son, maka apa pun yang diperbuat oleh Aleena ke depannya sudah pasti akan mempengaruhi dirinya, terutama emosinya.


Jadi satu-satunya cara supaya kita jangan terpengaruh oleh orang lain ya dengan tidak mempedulikan atau ambil pusing dengan orang tersebut atau dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Anggap saja itu bukan urusan kita. Dengan demikian hati kita baru bisa tenang.


"Lha, tapi kan kami peduli padamu, Shan," protes Winy.


"Iya, kalau tahu kamu tak bakal menghargai usaha kami berdua yang sampai harus berkorban tangan terluka dan lecet, ya kami juga tak bakalan melakukannya tadi," kesal Cyntia. Dia segera melihat kembali pergelangan tangannya yang sakit, luka, dan merah gara-gara dicubit, dicakar, dan ditinju oleh Aleena.


Shania melirik pergelangan tangan Cyntia dan melihat memang ada luka memar dan luka gores di sana. Apakah itu salahnya? Tidak, itu bukan salahnya karena Cyntia sendiri yang hendak menolongnya padahal Shania tidak meminta Cyntia melakukannya.


Begitulah Shania. Dia tidak akan merasa bersalah atau meminta maaf bila dirasanya itu bukan atas kehendaknya atau permintaannya walaupun orang lain melakukannya dengan suka rela atau dengan rasa peduli padanya.


"Wajahku juga hampir lecet," keluh Winy. "Ah, sudahlah, Cyn, untuk apa pula kita cerita pada Shania? Dia tidak akan peduli pada kita," sindir Winy sambil memalingkan wajah dari Shania yang menoleh padanya.


Sementara itu, Son berdiri tegak melihat dan mendengar percakapan antara Winy, Cyntia, dan Shania yang mengeluhkan Aleena yang telah melukai tangan Cyntia dan hampir melukai wajah Winy juga.


Dalam hati, Son merasa tak enak. Entah kenapa, dia merasa bersalah pada Winy dan Cyntia oleh apa yang diperbuat Aleena tadi. Bagaimana pun juga, Aleena adalah temannya. Dan gara-gara dirinya, Aleena jadi bertingkah laku aneh.


Jadi, di mana Aleena sekarang? Son melihat sekeliling tapi tak melihat Aleena di sana. Di manakah dia? pikir Son dalam hati.


* * *