
Bab 29
Sesudah memesan makanan, Jessica kembali lagi ke meja di mana Elen dan Son duduk menunggu.
"Aku sudah pesan 3 piring nasi bersama 3 macam lauk," kata Jessica lalu duduk di kursi bersama Elen dan Son.
Mereka bertiga duduk menunggu pesanan datang sambil sesekali berbincang. Angin yang berembus dari luar membuat suasana menjadi sejuk.
"Bu Kathy tadi makan nasinya sampai habis ya?" tanya Elen pada Jessica.
Jessica mengangguk. "Tapi sehabis makan, Bu Kathy meriang, menggigil, dan berkeringat dingin. Kalian nggak di sana jadi nggak tahu. Kalau tidak, kalian pasti akan ketakutan melihat kondisinya. Aku sendiri sibuk melap keringat di keningnya dan mencari-cari obat untuknya," cerita Jessica.
"Lalu?" tanya Elen menunggu kelanjutan cerita Jessica.
"Lalu kutemukan obat yang kukira obat demam di tas travel yang Bu Elen bawa tadi karena kutahu Bu Elen biasanya selalu menyediakan obat demam atau obat mual untuk Son saat kita bepergian jauh," sambung Jessica.
"Aku lupa membawa obat demam tadi," kata Elen. "Setelah kita berada di tengah perjalanan aku baru ingat. Yang kubawa tadi itu obat alergiku."
"Oh, kupikir itu obat demam jadi kuberikan pada Bu Kathy," sesal Jessica. "Tapi anehnya, Bu Kathy malah baikan setelah minum obat itu. Dia tidak meriang, menggigil, atau berkeringat dingin lagi. Malah terridur nyenyak dan bangun dari tidur jadi lebih baikan."
Elen terpana. "Iya, syukurlah kalau begitu," katanya. "Semoga dia bisa menyetir untuk membawa kita pulang nanti. Kalau tidak, siapa yang akan menyetir?" tanya Jessica.
"Son bermain-main dengan gembirakah tadi?" Jessica balik bertanya pada Elen sambil melirik Son.
Anak itu sedang duduk dengan hening sambil memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan antara Elen dan Jessica mengenai mamanya. Dia mengerti semua isi percakapan mereka walaupun masih berusia 8 tahun.
"Iya, Son senang bermain pasir dan mengumpulkan kerang," jawab Elen. "Dia juga suka melihat deburan ombak yang mengenai batu karang."
"Kalau begitu lain kali kita harus datang lagi bersama Bu Kathy. Son harusnya ditemani mamanya tadi sewaktu di pantai," kata Jessica.
"Iya, Son? Kamu mau datang lagi ke sini kapan-kapan?" tanya Elen sambil menatap Son.
Son mengangguk. "Iya, bersama mama."
"Semoga lain kali saat kita datang lagi ke sini mamamu dalam keadaan sehat supaya bisa menemanimu bermain-main di tepi pantai," harap Jessica. "Sayangnya mamamu tadi tidak enak badan jadi tak bisa menemanimu."
"Nggak apa-apa. Kan masih ada lain kali," kata Elen.
Son mendengarkan kata-kata Elen dan Jessica itu dan merekamnya di otak. Kata mereka, dia akan kembali lagi ke pantai ini bersama mamanya. Saat itu mamanya seharusnya dalam keadaan sehat dan bisa menemaninya melihat ombak laut. Mereka akan duduk bersama di atas batu karang sambil membiarkan ombak datang bergulung-gulung menyapu kaki-kaki mereka. Mamanya juga akan menemaninya mengumpulkan kerang di sepanjang pasir putih yang mereka jejaki.
Tentunya kali ini mamanya harus sembuh dulu supaya bisa membawa mereka pulang ke rumah dalam keadaan selamat. Setelah itu baru ada lain kali.
Pantai, air laut, ombak, pasir putih, batu karang, langit biru, awan putih, pepohonan. Itulah pemandangan alam nan indah dan elok yang tampak dari rumah makan. Lalu angin sejuk yang berembus bisa dirasakan lewat pernafasan dan kulit tubuh. Suara deburan ombak yang datang memecah batu karang di tepi pantai turut menambah suasana indah.
Tak lama kemudian, pesanan makanan mereka pun tiba. Seorang pelayan rumah makan mengantarkannya dan meletakkannya di atas meja.
Setelah nasi dan lauk itu disusun dengan rapi di atas meja, Elen, Jessica, dan Son pun segera mencicipinya. Mereka makan dengan lahap sampai nasi dan lauk itu tak bersisa lagi. Begitu pun minuman dalam gelas yang berupa teh manis dingin.
Mereka masih duduk-duduk sebentar sehabis makan. Setelah 10 menit ketiganya baru bangkit dari kursi dan keluar dari rumah makan untuk kembali ke pondok di mana Kathy sedang menunggu.
Saat Elen, Jessica, dan Son sampai di pondok, Kathy sedang duduk sambil memandang ke depan pada ombak laut di kejauhan yang datang dan pergi berdebur bergulung memecah batu-batu karang. Wajahnya terlihat begitu tenang dan damai. Sepertinya dia sudah benar-benar baikan sekarang.
Jessica dan Son bernafas lega melihat keadaan Kathy sekarang. Elen pun merasa lega karena itu berarti Kathy bakal bisa menyetir untuk membawa mereka pulang. Kalau keadaan Kathy tidak baik-baik saja, Elen pun tidak tahu bagaimana mereka bisa pulang.
"Bu Kathy sudah sehat sekarang," kata Elen pada Jessica sambil matanya memandang Kathy. Lalu matanya berpindah pada Son. "Son, mamamu sudah sehat lagi."
Son mengangguk dan tersenyum lega. "Iya, Elen," senyumnya lega.
Kathy juga ikut tersenyum mendengar kata-kata Elen dan melihat senyuman Son. "Kemarilah, Sayang," katanya sambil memanggil anaknya itu dengan melambaikan tangan.
Son yang sudah duduk di tepi pondok di atas tikar menggeser duduknya hingga masuk ke dalam mendekati Kathy.
Begitu Son sudah ada di dekatnya, Kathy segera memeluknya. Dia mencium kepala anak itu dan mengecup ubun-ubunnya. Hatinya lega karena merasa sudah sehat sekarang walaupun tubuhnya masih agak lemah karena keadaan serius yang dialaminya tadi.
"Kamu sudah makan, Son?" tanya Kathy sambil menundukkan kepalanya melihat wajah Son.
Son mengangguk. "Sudah, Ma.".
"Syukurlah, Son. Sori ya, Nak. Mama tak bisa menemanimu tadi melihat pantai dan ombak laut. Lain kali mama akan menemanimu kalau kita kembali lagi ke sini," janji Kathy.
"Iya, Ma," Son mengangguk lagi. "Nggak apa-apa. Elen sudah menemaniku tadi."
"Iya, Sayang. Untung ada Elen yang menemanimu," kata Kathy dengan suara kecil. Dia masih duduk sambil memeluk dan membelai kepala Son. Keduanya duduk dengan hening sambil mata mereka memandang di kejauhan pada ombak laut yang bergulung dan menimbulkan suara berdebur.
Elen dan Jessica yang melihat kerukunan ibu dan anak itu memutuskan untuk diam saja dan ikut hening melihat pada ombak di kejauhan.
Tidak setiap momen bersama harus dilewati dengan perbincangan atau kata-kata. Kadang dengan diam saja sudah bisa menjelaskan semuanya. Bahwa mereka berempat sedang menikmati keindahan alam lewat penglihatan mata dan pendengaran telinga.
Tidak ada pemandangan yang lebih indah dan mengagumkan daripada alam ciptaan-Nya yang menunjukkan kalau manusia itu bukanlah apa-apa. Manusia hanyalah titik-titik kecil di tengah hamparan laut maha luas yang cuma bisa mengikuti jalannya arus kehidupan seperti air yang bergerak di laut membawa titik-titik kecil itu ke mana suka. Manusia sama sekali tidak punya kuasa untuk menahan atau melawannya.
* * *