
Bab 132
"Kita pulang sekarang?" tanya Son bimbang. Dia menatap teman-temannya.
"Iya, Wilson. Kita pulang sekarang," jawab Shania. "Joseph, Winy, dan Cyntia sudah tak sabar lagi hendak pulang ke rumah masing-masing."
"Tapi... Aleena belum balik. Entah di mana dia," keluh Son. "Kita tunggu sebentar lagi, Shan. Mana tahu sebentar lagi dia balik," pinta Son sambil menatap Shania.
"Aku tak tahu, Wilson," Shania mengangkat bahu. "Ini bukan kehendakku. Tapi kehendak Joseph, Winy, dan Cyntia. Kalau aku menuruti kehendakmu seorang untuk menunggu Aleena balik, berarti akan mengabaikan kehendak Joseph, Winy, dan Cyntia."
Son terpana melihat ekspresi wajah Shania yang seolah tak berdaya. Dia tak menyangka Shania yang sebelumnya selalu menuruti kehendaknya dan mengutamakannya sekarang menolak kehendaknya dan mengabaikannya.
Son tak tahu, sebenarnya dalam hati Shania tetap mengutamakan Son dan ingin menuruti kehendaknya. Tapi itu tidak bisa dilakukan Shania karena Son masih memikirkan Aleena.
Shania tak tahu, Son memikirkan Aleena karena mengkhawatirkan keselamatannya sebagai seorang teman, ataukah karena Aleena adalah seseorang yang berarti baginya. Jika jawabannya adalah yang pertama, Shania masih bisa maklum. Tapi jika jawabannya adalah yang terakhir, maka Shania berat melakukannya. Son membuat Shania kecewa.
"Kita tunggu sebentar lagi, Shan," pinta Son lagi. "Sebentar lagi pasti Aleena balik."
Shania tak menjawab. Dia menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan. Suasana jalan-jalan mereka ke mal sore ini yang seharusnya riang berubah menjadi muram gara-gara tingkah Aleena yang membuat ribut dan mengacaukan perasaan.
Winy dan Cyntia memalingkan wajah. Mereka enggan menatap Son yang membela Aleena. Gadis belia itu telah berseteru dengan mereka tadi. Tangan Cyntia sudah terluka olehnya. Wajah Winy pun hampir ditonjoknya. Dan sekarang, Son masih membela dan memikirkannya. Dapat dibayangkan bagaimana perasaan Winy dan Cyntia.
Shania yang biasanya mengutamakan dan menuruti kehendak Son pun kali ini tidak berani membelanya. Lagipula, Shania merasa berat jika itu berkaitan dengan Aleena. Tapi jika itu adalah teman Son yang lain, misalnya teman biasa saja, maka Shania masih akan mempertimbangkannya.
Joseph menoleh ke kiri dan ke kanan untuk melihat pada Winy dan Cyntia. Lalu dia melihat ke depan pada Shania yang berdiri di samping Son. Setelah itu dia melihat Son. Kemudian berkata, "Kalau begitu, coba kamu telepon dia, Wilson. Tadi kulihat kamu memasukkan ponselmu ke dalam saku celana ponggolmu setelah kamu berbicara dengan Aleena di ponsel. Maksudku, waktu kita latihan drama tadi kan Aleena meneleponmu."
"Oh," Son bagai teringat. Dia segera merogoh saku celana ponggolnya dan melihat nomor panggilan masuk yang terakhir tadi. Setelah itu Son langsung memanggil nomor itu balik.
Beberapa detik Son menunggu. Panggilan bisa masuk tapi tak dijawab. Son menutup panggilan lalu mengulang memanggil lagi. Tapi tetap seperti itu. Panggilan masuk berdering lebih dari 5 kali tapi tak dijawab. Untuk ketiga kalinya, Son memanggil nomor ponsel Aleena tapi sama saja. Panggilan bisa masuk namun tak dijawab.
Hati Son tiba-tiba merasa khawatir. Kenapa Aleena tak menjawab panggilan masuk darinya? Apakah mungkin sesuatu terjadi padanya? Karena tak mungkin Aleena tak ingin menjawab telepon darinya karena Son tahu selama 2 hari ini Aleena terus mencarinya. Bukan saja meneleponnya, tapi bahkan nekad datang ke rumahnya.
* * *