Substitute Mom

Substitute Mom
Rencana ke Pantai



Bab 24


Tiga tahun kemudian...


Son berusia 8 tahun dan duduk di kelas III SD. Dia tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan cerdas. Di sekolah Son selalu mendapat ranking pertama dan nilai yang sempurna. Namun, sifatnya yang pendiam dan karakternya yang dingin belum juga berubah.


"Hari ini kita jadi ke pantai, Bu Kathy?" tanya Jessica.


Ini adalah masa liburan sekolah menyambut Tahun Ajaran Baru. Sudah 2 minggu sekolah Son libur. Dan sisa masa liburan sekolah 2 minggu lagi. Selama 2 minggu ini, Kathy terus membawa Son jalan-jalan. Mereka ke mal, ke kolam renang, ke arena permainan anak-anak, ke bioskop, ke kafe, ke puncak, ke danau, dan lain-lain.


Hari ini Kathy bilang pada Elen dan Jessica kalau mereka akan ke pantai bersama Son. Tom tidak ikut karena harus masuk kantor dan mengurus perusahaan. Jadi Kathy yang akan menyetir seperti 2 minggu ini.


"Jadi, Jes," jawab Kathy.


Hari masih pagi. Sekitar pukul 09.00. Elen, Jessica, dan Son sudah sarapan nasi goreng yang dibuatkan tukang masak di villa Tom. Tom juga sudah berangkat ke kantor sehabis sarapan tadi. Cuma Kathy yang belum karena dari malam tadi dia merasa kurang enak badan sepulang dari gedung bioskop bersama Son dan Jessica sehingga tidak berselera makan.


"Bu Kathy nggak sarapan dulu?" tanya Jessica.


"Nanti sesampainya di pantai baru sarapan jajanan yang dijual di sana. Sekarang nggak berselera makan," jawab Kathy.


"Oh, tapi ini sudah pukul 09.00, Bu. Sampai di sana nanti bakalan sudah siang. Nanti masuk angin kalau nggak sarapan. Sebaiknya Bu Kathy sarapan sedikit saja dulu," saran Jessica.


"Aku nggak berselera sama sekali, Jes," kata Kathy. "Kepalaku agak pusing dari malam tadi."


"Kalau begitu kita nggak usah ke pantainya, Bu. Lain hari saja kalau Bu Kathy sudah fit kembali," saran Jessica lagi.


Dia dan Kathy ada di ruang dapur. Mereka sedang menyiapkan beberapa keperluan di dapur yang akan dibawa ikut serta ke pantai. Seperti air minum, biskuit, snack, dan lain-lain.


"Nggak, Jes. Aku sudah janji mau bawa kalian jalan-jalan ke pantai hari ini. Aku nggak mau membuat kalian kecewa," jawab Kathy.


"Tapi kan masih ada sisa liburan 2 minggu, Bu. Besok lusa masih sempat. Sebaiknya Bu Kathy istirahat di rumah saja karena kurang enak badan," Jessica masih berusaha memberi saran.


Tapi Kathy tetap bersikeras. Katanya dia masih sanggup menyetir hingga ke pantai yang jarak tempuhnya sekitar 2 jam dari villa Tom.


Elen dan Son ada di kamar Son di mana Elen sedang menyiapkan baju dan celana Son yang akan dibawa ke pantai. Elen berpikir, mana tahu nanti Son bermain dan berenang di pantai sehingga perlu untuk ganti pakaian.


"Kenapa bawa baju lagi, Elen?" tanya Son.


Walaupun Son pendiam dan dingin pada orang lain termasuk pada para pelayan di villa Tom, namun dia suka bicara pada Elen. Dengan Tom, Kathy, dan Jessica, Son bicara juga tapi tak sering. Dia lebih suka berinteraksi dengan Elen yang sering sekali ada di sampingnya selama 8 tahun ini.


"Iya, bawa untuk berjaga-jaga saja, Son. Mana tahu pakaianmu basah sehabis berenang di pantai," jawab Elen sambil memasukkan handuk dan satu stel pakaian Son ke dalam tas travel.


"Apa aku harus mandi di sana?" tanya Son sambil tersenyum nyengir. Dia duduk di tepi ranjang di samping Elen.


"Iya, kalau misalnya kamu berenang di sana. Sehabis berenang harus membersihkan tubuh dari air laut yang asin," jawab Elen.


"Kamu akan berenang juga di sana, Elen?" tanya Son.


"Nggak, Son. Kalaupun kamu ingin berenang di sana harus pakai ban sebagai pelampung. Karena ombak di pantai itu sangat berbahaya walaupun kita pintar berenang," jelas Elen.


"Baiklah," balas Son. "Aku tak sabar lagi mau ke pantai."


"Dulu waktu kamu masih balita kita pernah ke sana juga. Papamu yang nyetir. Kamu masih ingat nggak?" tanya Elen.


"Hmmm...," Son berpikir-pikir sejenak. "Agak lupa, Elen. Tapi samar-samar bisa ingat sedikit."


"Iya, kita sudah lama tidak ke pantai. Mungkin itu 3 tahun lalu saat kita terakhir kali ke pantai," Elen mengingat-ingat.


"Ayolah, Elen. Cepat kita ke bawah temui Mama dan tanya kapan berangkat," ajak Son.


"Ayo Son," Elen pun mengikuti ajakan Son. Dia meraih tas travel Son yang tergeletak di ranjang dan menggandeng tangan Son keluar dari kamar.


Elen dan Son dekat sekali. Kedekatan mereka sudah seperti ibu dengan anak karena Elen setiap hari berada di rumah menemani Son. Jessica yang mengurus segala keperluan Son jika Son hendak sarapan, makan, mandi, tidur, sekolah, atau jalan-jalan. Sedangkan Kathy lebih banyak di luar rumah membantu Tom mengurus perusahaan walaupun tidak duduk di kantor namun ke sana ke mari. Pada pelayan rumah yang lain Son lebih banyak diam alias jarang bicara.


Elen dan Son berjalan menuruni tangga menuju lantai 1. Mereka menjumpai Kathy dan Jessica yang sedang berada di dapur.


"Wah, Son sudah berpakaian rapi," kata Jessica saat melihat kehadiran Son di ruang dapur dengan stelan baju kaos dan celana ponggol selutut. Baju kaosnya dia selipkan dengan rapi di pinggang.


"Iya, Son sudah tidak sabar lagi mau ke pantai," kata Elen sambil tersenyum simpul. "Iya kan, Son?" tanyanya sambil melirik Son.


Son mengangguk. "Iya."


"Oh, sayangku. Sebentar lagi ya, Sayang. Ini sudah mau siap. Mama bawa makanan ringan sebagai cemilan di sana," kata Kathy sambil membalas tatapan Son.


Walaupun Kathy sedang tidak enak badan, namun dia berusaha menyembunyikan hal itu di depan Son. Bahkan dia mencoba tersenyum pada anaknya itu walaupun badannya benar-benar sedang nggak nyaman.


Kathy tak mau mengecewakan Son. Jangan sampai rencana ke pantai hari ini batal karena kondisi tubuhnya yamg kurang fit. Setidaknya, Kathy merasa dia masih sanggup menyetir ke pantai. Mudah-mudahan setelah di saja nanti dia berselera makan dan bisa menyetir pulang juga.


Tak mungkin menyuruh Tom yang menyetir karena papa Son itu sedang berada di kantor dan Kathy tak mau mengganggu pekerjaan suaminya itu dengan menyuruhnya menemani mereka jalan-jalan ke pantai atau menggantikan dirinya menyetir dikarenakan kondisi tubuhnya yang kurang fit.


Biarlah aku yang nyetir sendiri saja, kata Kathy dalam hati.


* * *