
Bab 37
"Pssst... tuh dia datang," tiba-tiba Luna membuat isyarat suara agar teman-temannya diam.
Richard, Fredy, Mark, Desy, dan Katrin pun menghentikan obrolan mereka sambil memandang ke arah pintu masuk.
Dari pintu kelas yang berhadapan dengan meja dan bangku tempat mereka duduk, seorang muris cewek masuk sambil membawa tas sekolah yang talinya dikalungkan di pundak.
Son tetap menunduk sambil memperhatikan buku pelajarannya walau dia merasa ada seseorang yang sedang berjalan kre arahnya. Tepatnya ke bangku nomor 2 dari depan yang berada di deret ketiga atau bangku yang letaknya pas di depan meja Son.
Sepertinya itu murid cewek dan benar feeling Son karena saat dia duduk di depan Son yang masih menunduk, Son merasakan auranya khas wanita dan sepertinya dia memiliki rambut panjang sepunggung yang dikuncir satu ke atas.
Siapakah dia? Apakah mungkin ini Shania yang mereka bicarakan tadi? pikir Son.
"Hai, Shan!" Richard yang berada di bangku belakang dari deret pertama berjalan ke arah meja yang diduduki murid cewek yang baru datang itu. Tanpa segan-segan Richard langsung duduk di sampingnya.
Shania yang baru selesai meletakkan tasnya dalam laci spontan menoleh ke arah Richard. Tapi dia tidak berkata apa-apa, hanya melihat murid cowok yang duduk di sebelah kanannya itu lalu kembali melihat ke depan.
"Apa yang kamu lihat, Shan? Kenapa tidak membalas sapaanku?" protes Richard yang mengalihkan tatapannya pada wajah Shania ke arah pintu masuk.
"Siapa yang kamu tunggu?" tanya Richard.
Shania tak menjawab.
"Siapa yang kamu tunggu?!" tiba-tiba Richard meninju atas meja dengan kepalan tangannya sehingga meja yang ada di depan Shania pun bergetar.
Shania sempat kaget sekejap. Tapi dia segera mengatasi rasa kagetnya dengan menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Barusan datang saja sudah dikagetkan begini.
Richard yang masih duduk di samping Shania melihat Shania dengan tatapan mata marah. Dengan menahan gejolak di hatinya, dikepalkannya tangannya kuat-kuat.
Sebenarnya, Richard ingin sekali mencengkeram bahu Shania untuk melampiaskan kegeramannya karena didiamkan cewek itu, tapi dia ingat dulu dia pernah ditampar Shania ketika dia menyentuh bahu Shania.
Shania yang merasakan bara api sedang berkobar di sampingnya, menjawab dengan lembut, "Jangan kamu rusak peralatan sekolah yang bukan milikmu, Chard."
Richard pun mengendurkan kepalan tangannya dan perlahan-lahan bara api di bola matanya memadam. Suara lembut Shania yang menegur dan menyebut namanya sudah mampu menentramkan hatinya.
"Iya, aku tidak akan merusak peralatan sekolah. Tapi kasih tahu aku dulu, kamu sedang menunggu siapa, hmmm?" tanya Richard dengan suara lembut.
Shania diam lagi.
Richard menatapnya lekat. Tapi Shania hanya terus melihat ke arah pintu masuk tanpa berkata apa-apa.
Merasa amarahnya bisa tersulut lagi, Richard segera menjauh dari Shania. Dia bangkit dari bangku yang didudukinya di meja Shania lalu berbalik dan kembali ke bangkunya sendiri tempat di mana kelima temannya terus memperhatikan apa yang dia katakan dan buat pada Shania. Juga bagaimana reaksi Shania membalasnya.
"Apa kubilang? Usah urusi dialah, Chard! Dia nggak tertarik sama kamu," kata Luna yang melihat Richard duduk kembali dengan wajah dongkol.
"Emang apa kurangnya aku?" tanya Richard dengan suara sedang.
"Iya, Chard. Nyerah saja. Mundur," kata Desy. "Cewek tidak akan memilih cowok hanya karena dia ganteng atau karena bapaknya kaya. Apalagi yang model Shania."
"Iyalah, masih banyak cewek yang cantik selain Shania. Ayo, move on," kata Mark memberi semangat.
"Betul," Fredy menepuk-nepuk pundak Richard yang duduk di sampingnya.
Mendengar kata-kata teman-teman satu geng-nya itu, Richard pun mengurut dada dan menenangkan perasaannya. Dia tak berkata apa-apa lagi, hanya matanya saja yang terus mencuri pandang pada Shania.
Apa yang barusan terjadi di depannya disimak Son lewat telinga dan mata yang tak kentara. Dia tampak tenang seolah tak peduli pada keadaan yang baru berlangsung di depannya padahal dalam hati dan benaknya diam-diam sedang merasakan, mencerna, menduga, dan menilai.
Son belum melihat wajah Shania dari depan karena Shania duduk di depannya jadi Son hanya bisa melihat punggung dan rambutnya yang dikuncir. Dia memiliki tubuh yang ideal, agak imut tapi ada aura kecantikan, keharuman, dan kelembutan yang terpancar dari sana.
Pastinya Shania ini bukan gadis sembarangan. Setidaknya dia cewek yang berprinsip, tidak murahan, lembut tapi tegas, dan bisa menasihati atau menaklukkan orang lain. Itu kesan pertama Son pada Shania. Suara Shania juga lembut, nyaring, dan merdu.
"Hai, Joseph!"
Son mengangkat kepalanya saat mendengar Shania yang duduk di depannya menyerukan nama seseorang. Dia melihat ada seorang murid cowok yang baru datang dan melewati pintu masuk. Shania sedang memanggilnya dengan melambaikan tangan.
Son mengerutkan kening. Murid cowok yang dipanggil Shania itu tampak biasa-biasa saja. Tidak ganteng, agak ceking, berkacamata minus, rambutnya klimis dan disisir rapi ke kanan, baju seragamnya juga dikenakan dengan sangat rapi. Pokoknya seperti anak mami yang sama sekali tidak menarik. Tidak seperti laki-laki jantan yang bisa membuat cewek suka. Lebih mirip murid yang alim. Tapi kenapa Shania ramah padanya? Malah memanggilnya dan melambaikan tangan padanya. Apakah dia ini yang ditunggu Shania seperti pertanyaan Richard tadi? Son jadi penasaran.
"Sini, Seph! Kamu duduk di sini saja," kata Shania pada murid cowok yang berjalan menghampirinya itu.
Murid cowok yang bernama Joseph itu pun duduk di bangku Shania sehingga kini di depan Son adalah Shania dan di samping kanan Shania adalah Joseph.
"Sini kosong ya, Shan?" tanya Joseph yang memasukkan tasnya ke dalam laci.
"Iya, aku sengaja mengosongkannya untukmu," jawab Shania sambil mengangkat sedikit dagunya.
Saat Shania menoleh ke arah Joseph, Son sedang mengangkat kepalanya sehingga dia melihat sekilas wajah Shania dari samping.
Hati Son berdesir. Hanya melihat dari samping saja Shania terlihat begitu cantik dan mempesona. Apalagi jika melihat dari depan dan mengenalnya lebih dekat plus berbincang-bincang dengannya dan mendengarkan suaranya yang lembut dan merdu. Bisa-bisa Son jatuh cinta. Sekarang saja Son sudah merasa hatinya berdesir.
"Kamu sudah lama datang?" tanya Joseph.
"Nggak, baru saja," jawab Shania santai.
Dari bangku belakang, Richard cs memperhatikan gerak-gerik Shania seperti mata-mata.
Walau tak menoleh ke belakang namun Shania bisa merasakan ada seseorang yang duduk si belakangnya yang dari tadi memperhatikannya diam-diam walaupun tak bersuara dan lebih banyak menundukkan wajah.
Shania bisa merasakan itu aura seorang laki-laki yang entah kenapa sekejap tadi saat dia menoleh ke samping dan menangkap tatapan mata cowok itu lewat ujung matanya, dia merasakan hatinya berdesir. Ada aura laki-laki yang begitu kuat, jantan, dan tegas pada sosok yang membuatnya berdebar itu. Siapakah dia? Shania akan segera mengetahuinya.
* * *