Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Son yang Menjaga Perasaan dan Melindungi Hati Shania



Bab 119


Wilson Simon bersama kelima temannya pun duduk di tempat duduk yang mengkilap itu dan mulai meminum minuman dalam gelas plastik yang ber-merk luar negeri tersebut.


"Hmm... lezat sekali," kata Joseph yang sudah menyeruput minuman Amerika yang ada di tangannya.


"Iya, betul. Lezat sekali," kata Winy yang menyeruput minuman Jepang di tangannya.


"Aku punya juga lezat," kata Cyntia.


Cyntia sama seperti Aleena dan Son yang menikmati minuman Korea. Sedangkan Shania menikmati minuman Jepang yang sama seperti Winy.


Mereka duduk sambil menyeruput minuman dalam gelas plastik lewat pipet yang ditaruh di atas. Sesekali berbincang-bincang atau berkomentar.


Aleena duduk di samping kiri Son sementara Shania duduk di samping kanan Son. Sekitar 1,5 meter dari tempat Shania duduk, Joseph duduk di tengah-tengah diapit oleh Winy dan Cyntia.


Mereka berenam kelihatan seperti remaja belasan tahun yang menanjak dewasa. Son satu kelompok dengan Aleena dan Shania sementara Joseph satu kelompok dengan Winy dan Cyntia.


"Enak kan, Son?" tanya Aleena sambil menoleh ke samping kanannya.


Son mengangguk. Dia terus menyeruput minuman dalam gelas plastik tersebut.


Shania yang mendengar Aleena bertanya kepada Son dan dibalas Son dengan mengangguk pun tak mau kalah. Dia segera menyebut nama Son, "Wilson...," suaranya terdengar sangat lembut.


"Iya, Shan?" Son segera menghentikan aksinya menyeruput minuman dan langsung menoleh ke arah Shania yang duduk di samping kanannya.


"Benarkah enak minuman Korea-mu?" tanya Shania.


Son mengangguk. "Iya, Shan. Enak sekali," jawab Son.


"Hah? Masa?" Son tak percaya. "Tapi kata Winy tadi enak?"


"Entahlah, Wilson. Aku rasa kurang enak," kata Shania.


"Bukan kurang enak tuh, cuma yang meminumnya perasaannya lagi nggak enak saja makanya minuman yang rasanya begitu enak pun rasanya jadi kurang enak," timbrung Aleena.


Pas! kata-kata Aleena itu sangat pas mengenai hati Shania. Memang betul kata Aleena, perasaan Shania lagi kurang enak makanya minuman yang enak pun dirasa kurang enak.


Bicara soal kenyataan memang kenyataan itu sangat menyakitkan tapi kalau bicara soal kepalsuan maka kepalsuan itu sangat menyenangkan.


Misalnya seorang wanita yang sudah tua dan kita bilang dia sudah tua dan tidak pantas mengharapkan seorang pemuda tampan yang masih muda. Itu jelas sangat menyakiti hatinya tapi itulah kenyataan pahit yang harus diterima dan memang benar kenyataan itu sangat menyakitkan.


Tapi kalau kita berpura-pura memujinya masih muda dan cantik dan pantas mengharapkan pemuda tampan tersebut maka itu adalah suatu kepalsuan atau kebohongan yang diciptakan hanya untuk menyenangkan hati si wanita.


Aleena lebih suka berterus terang mengatakan yang sebenarnya atau kenyataan yang menyakitkan tapi itu adalah kebenaran daripada mengatakan yang palsu atau berbohong yang menyenangkan tapi itu adalah ketidakbenaran.


Aleena juga lebih suka mendengar kata-kata jujur yang menyakitkan daripada kata-kata bohong yang menyenangkan.


Son segera terdiam mendengar kata-kata Aleena yang menghunjam ke ulu hati Shania. Hati Son sungguh tak tega melihat Shania seorang gadis cantik yang demikian lembut dan halus tutur katanya disakiti oleh Aleena. Son saja tidak tega menyakitinya dan lebih memilih diriinya sendiri yang tersakiti daripada Shania. Tak peduli walau bagaimana pun Shania menyakiti hatinya dia tetap akan rela dan ikhlas tetap menjaga dan melindungi hati Shania.


Juga tak peduli jika gara-gara demi menjaga dan melindungi hati Shania yang menyakitinya, dia sampai harus mengorbankan atau menyakiti hati orang lain yang tidak bersalah bahkan yang sudah begitu baik berjuang berkorban dan berusaha mengobati luka hatinya. Adilkah itu bagi orang yang tidak bersalah itu yang disakiti hatinya? Kalau itu adil, maka orang tersebut pun berhak membela dan melindungi diri dan hatinya sendiri.


Shania berpura-pura tak mendengar kata-kata Aleena. Dia sama sekali tak menoleh ke arah Aleena. Jangankan melihat wajahnya, melirik atau mendengar suaranya pun Shania enggan. Dia hanya merasa Aleena adalah penghalang di antara dirinya dengan Son.


Shania sungguh-sungguh membenci Aleena...


* * *