Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Son Meminjam PR Bahasa Inggris Shania



Bab 41


Lonceng masuk berbunyi. Murid-murid di kelas Son satu per satu bergegas memasuki ruang kelas.


Tampak Richard, Fredy, Mark, Desy, Luna, Katrin, dan lainnya berjalan beriringan. Juga Joseph yang berjalan mendekati meja Shania. Sedangkan 6 sekawan duduk di bangku belakang dari deret pertama pintu masuk yang berdekatan dengan tembok.


Shania bernapas lega saat Joseph duduk di sampingnya. Dia merasa lebih tenang duduk bersama Joseph yang alim. Berdekatan dengan Richard cs membuatnya tak nyaman, karena itu dia sengaja bersikap dingin dan cuek pada mereka supaya tidak dihampiri atau diusik.


Lain sikap Shania pada Son. Walaupun Shania juga tidak tenang berada di dekat Son, tapi kegelisahannya lebih ke hati yang bergemuruh karena berbagai rasa yang bergolak dalam dada.


Rasa itu adalah rasa suka yang membuat Shania tidak tenang. Sedangkan ke Richard cs adalah rasa tidak suka yang membuatnya tak nyaman.


Shania tersenyum menyambut Joseph yang duduk di sampingnya. "Sudah selesai sarapannya, Seph?" tanya Shania.


"Iya. Dari tadi kamu di dalam kelas saja, Shan? Tidak ke mana-mana?" tanya Joseph sambil matanya melihat pada buku catatan Son yang ada di atas meja Shania.


"Iya, aku di kelas menyalin catatan," jawab Shania. Dia membolak-balik buku catatan Son yang dipinjamnya tadi.


"Itu catatannya siapa?" tanya Joseph lagi.


"Punya Wilson," jawab Shania.


"Oh, murid baru ya, Shan?" Joseph menoleh ke belakang melihat Son yang kepergok sedang mengawasi mereka berdua. Joseph buru-buru memalingkan mukanya kembali ke depan karena dia merasa tatapan mata Son sangat dingin dan membuatnya takut.


Tentu saja, bagi Joseph yang alim, teman-teman yang kasar seperti Richard cs cukup membuatnya tak nyaman. Namun murid baru ini bukan teman yang kasar. Cuma entah mengapa Joseph merasa hatinya tidak tenang juga melihat Son. Dari tadi saat Son memperkenalkan diri di depan kelas, Joseph melihat wajah dan tatapan mata Son sangat dingin hingga membuat jantungnya berdetak keras.


Shania mengangguk.


Joseph tak bicara lagi karena merasa Son masih mengawasinya dari belakang hingga membuat punggungnya terasa dingin. Dia merasa, Son bukan sengaja mengawasinya. Tapi lebih ke memperhatikan apa yang dia perbincangkan dengan Shania.


"Sudah selesai," kata Shania lalu membalikkan punggung melihat ke belakang.


Tatapan mata Shania bertemu kembali dengan Son. Untuk sekejap, keduanya kembali seperti tadi. Saling memandang tanpa banyak bicara tapi jantung berdegup kencang.


Shania dan Son tidak perlu bicara banyak karena dengan cepat hati mereka terasa begitu dekat dan bisa mengerti satu sama lain tanpa perlu menjelaskan. Tatapan mata sudah bicara dan mengisyaratkan semuanya.


"Ini catatanmu, Wilson. Aku balikkan ya. Thanks," kata Shania.


Son merasa hatinya berdesir melihat senyum lembut Shania yang dilemparkan padanya.


"Ok," jawab Son singkat.


Shania membalikkan punggungnya kembali lalu melihat ke depan kelas. Dari pintu masuk tampak bapak guru yang dulu mengajari mereka pelajaran Bahasa Inggris sedang melangkah masuk.


Les keempat dan kelima adalah pelajaran Bahasa Inggris. Berarti mereka diajar oleh guru yang sama seperti waktu mereka kelas I dan II SMP.


"Selamat pagi, Anak-anak," kata bapak guru yang berkacamata minus itu.


"Selamat pagi, Pak," balas murid-murid di kelas Son.


"Bapak akan mengajari kalian pelajaran Bahasa Inggris. Kita akan melanjutkan materi yang dari kelas I dan II. Jadi bahan yang di kelas III ini adalah kelanjutan dari materi yang sudah kita pelajari di kelas I dan II," kata bapak guru.


"Iya, Pak," jawab murid-murid serempak.


"Baiklah. Coba buka buku cetak Bahasa Inggris kalian. Bapak akan menjelaskan materi bab I."


Murid-murid segera membuka buku cetak masing-masing dan bapak guru pun mulai menjelaskan isi bab I. Kadang bapak guru menulis di papan tulis untuk memperjelas apa yang diterangkannya.


Setelah bapak guru selesai menerangkan satu les, dia menyuruh murid-murid mengerjakan soal-soal latihan yang ada di buku LKS yang jumlahnya 20 soal.


Pelajaran Bahasa Inggris adalah pelajaran kesukaan Son. Kebetulan, Shania unggul di pelajaran Bahasa Inggris sehingga dia bisa mengerjakan semua soal yang ditugaskan.


Walaupun Son bisa mengerjakan 20 soal latihan itu, namun dia merasa ada yang ragu.


"Shan. Pssst... Shan. Jawaban nomor 17 apa?" tanya seorang murid cewek yang duduk di deret keempat dari pintu masuk tapi sebaris dengan meja Shania yang berada di deret ketiga.


Shania menyebutkan jawaban yang ditulisnya pada temannya itu.


Seorang murid cowok yang duduk di deret kedua dan di baris kedua yang sebaris dengan meja Shania ikut-ikutan meminta jawaban nomor 16, 17, dan 18. Shania pun sibuk menyebutkan jawaban yang dia tulis.


Tindakan 2 teman Shania itu diikuti oleh beberapa murid yang lain yang duduk berdekatan dengan Shania. Bahkan teman-temannya yang lain yang duduk di bangku belakang pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke meja Shania meminta jawaban darinya. Ada juga yang saling berbagi dengan teman lain yang sudah mendapatkan jawaban dari Shania.


Kebetulan bapak guru Bahasa Inggris sedang keluar kelas sebentar. Barangkali kembali ke kantor guru untuk mengambil sesuatu.


Son melihat Shania seperti dikerubuti teman-teman yang meminta jawaban soal darinya. Tebakan Son, pastilah Shania jago pelajaran Bahasa Inggris.


Ternyata benar, karena Son mendengar teman-teman yang sudah mendapat jawaban dari Shania itu bilang beruntung memiliki teman seperti Shania yang pintar Bahasa Inggris dan mau berbagi.


Setelah semua teman yang meminta jawaban dari Shania duduk kembali di bangku masing--masing, Son memutuskan untuk melakukan sesuatu.


"Shania," dipanggilnya nama gadis itu dengan suaranya yang  lantang tapi lembut.


Suara Son terdengar lantang tapi nadanya lembut. Itu ciri khas Son. Walaupun dia bicara dengan lembut tapi suaranya terdengar lantang.


Shania tepekur. Dia seperti tak yakin Son sedang memanggilnya. Tapi itu memang suara Son. Dan Shania menoleh.


"Iya, Wilson? Ada apa?" tanyanya.


"Boleh pinjam LKS-mu sebentar?" tanya Son sambil menatap Shania.


"Iya, boleh," jawab Shania cepat. Dengan segera diambilnya buku LKS di atas meja yang sudah diisinya dengan jawaban untuk soal-soal latihan bab I. "Ini, Wilson," katanya sambil menyerahkan buku itu pada Son dengan punggung yang berbalik.


"Trims," Son menerima buku LKS yang diberikan Shania dan mencocokkan jawaban Shania dengan jawabannya sendiri.


Karena pelajaran Bahasa Inggris adalah pelajaran yang disukai Son, maka dia ingin menghindari kesalahan yang mungkin dengan mencocokkannya dengan jawaban Shania. Pastinya jawaban Shania betul karena dia mendengar teman-teman memujinya pintar Bahasa Inggris.


* * *