Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Tom, Son, dan Aleena Masuk ke Villa



Bab 152


"Hahaha, kamu sangat pintar bercanda dan


mengambil hati orang, Aleena," puji Tom Simon sambil menatap wajah Aleena dengan mata berbinar senang.


Kelelahannya selama bekerja di kantor dari pagi hingga sore seperti terlunaskan setelah berbincang-bincang dengan Aleena yang lucu dan menggemaskan. Setiap kata-kata Aleena seperti angin segar yang bisa menyejukkan sekaligus menghibur hati Tom walau ada perasaan geli dan tergelitik juga oleh tingkah laku dan mimik wajah Aleena.


"Kamu sudah lama datang?" tanya Tom pada Aleena. "Kenapa tidak masuk ke dalam malah berdiri di taman?"


"Oh, dari jam setengah tiga tadi aku sudah datang ke rumah Om yang besar ini," jawab Aleena.


"Ah, masa? Wah, sekarang sudah jam setengah enam lebih. Berarti sudah 3 jamĀ  kamu di sini," kata Tom sambil melirik jam tangannya.


"Iya, betul, Om. Tapi juga salah. Karena tadi aku dan anak Om sempat jalan-jalan ke mal. Setelah itu baru balik ke sini," jawab Aleena.


"Oh, kalian jalan-jalan ke mal tadi?" tanya Tom surprais. Seketika dia melirik Son.


Son yang dilirik oleh papanya balas menatap papanya dan mengangguk karena papanya seperti bertanya padanya melalui sorot matanya yang ingin tahu. "Iya, betul, Pa," jawab Son.


"Eh... tapi kami pergi bareng teman-teman sekolah Son juga, Om. Kami berenam semuanya ke Deli Park Mall," beri tahu Aleena.


"Supir Om-nya Shania, teman sekelasnya Son," jawab Aleena. "Kami naik mobil Om-nya Shania," jawab Aleena.


"Oh, ya nggak apa-apa," kata Tom sambil tersenyum. Dia melihat Son lagi. "Kok diam saja, Son? Ini tas kerja Papa bawakan dong ke kamar. Kan sudah pernah diajari sebelumnya," kata Tom sambil menyodorkan tas kerjanya yang berwarna coklat yang berisi berkas-berkas atau kertas-kertas kerja dan dokumen-dokumen yang dibawanya dari kantor.


Spontan Son bergerak maju satu langkah dan menerima tas kerja yang disodorkan papanya. Seketika tas kerja itu pun berpindah ke tangannya.


Setelah tas kerja itu berpindah dari tangannya ke tangan Son, Tom Simon pun berkata pada Aleena, "Ayo, Aleena, kita masuk saja ke dalam saja. Di ruang tamu saja kita berbincang-bincang nanti."


Melihat papanya lagi-lagi tersenyum pada Aleena, hati Son pun merasa lega karena itu artinya papanya tidak marah dia jalan-jalan ke mal bersama teman-temannya. Dan juga tidak marah karena Son lupa membantu papanya secara spontan mengambil alih tas kerja papanya untuk dibawa ke kamar.


"Iya, Om, aku mau lihat-lihat rumah Om yang besar ini," kata Aleena sambil terkekeh geli.


"Hahaha, bisa saja kamu, Aleena," tawa Tom. "Ayo, Aleena," ajak Tom lagi. "Ayo, Son," Tom juga memanggil Son.


Son kaget. Tumben kali ini papanya memanggil namanya dan mengajaknya masuk ke rumah dengan suara yang ramah dan lembut seperti pada Aleena. Seketika hati Son pun terasa sejuk dan perasaannya terasa tenang.


Dengan langkah-langkah kaki yang ringan dan hati yang senang, Tom bersama Son dan Aleena menuju pintu masuk utama lalu menaiki dua anak tangga sebelum menapak di lantai teras ruang tamu. Ketiganya kini berada di dalam villa Tom Simon yang sejuk, luas, adem, dan nyaman.


* * *