
Bab 154
"Wah, mewah sekali ruang tamu ini," kata Aleena sambil melihat-lihat keadaan ruang tamu Tom Simon yang tertata rapi dengan sofa, meja, lemari, hiasan patung dan barang antik, lukisan di dinding, vas bunga, dan perabotan lain yang tampak mewah dan mahal.
Son diam sejenak sebelum menjawab, "Sama dengan rumah tantemu, Aleena."
"Nggak sama, Son," balas Aleena cepat. "Rumah tanteku nggak semewah ini. Walaupun lumayan luas dan apik tapi hanya barang-barang dan perabotan yang lumayan mahal harganya saja. Bisa terjangkau oleh masyarakat berekonomi menengah ke atas. Kalau rumah papamu ini kan ekonomi kelas atas."
"Nggak juga, Aleena. Masih banyak yang jauh lebih mahal dan lebih mewah dari ini. Usah dibandingkan karena walaupun mahal tapi ada yang lebih mahal. Sama seperti manusia walaupun bagus tapi ada yang lebih bagus. Membandingkan bukan hal yang tepat karena manusia itu tidak ada yang sempurna," kata Son.
"Wah, kamu pintar sekali berfilsafat, Son," puji Aleena. Dia segera berjalan mendekati sofa besar yang ada di ruang tamu lalu duduk di sana.
Melihat Aleena sudah duduk sendiri tanpa dipersilakan, Son pun ikut berjalan mendekati sofa dan duduk di depan Aleena.
Bukankah kata papanya tadi kalau Aleena disuruh menunggu di ruang tamu hingga tantenya datang lalu mereka berdua diajak ikut makan malam di rumahnya? Berarti sementara menunggu Tom selesai mandi dan bersalin pakaian di kamarnya, Son harus menemani Aleena karena Son adalah anaknya tuan rumah.
"Hmmm... berapa orang yang tinggal di rumahmu yang besar ini, Son?" tanya Aleena ingin tahu.
"Nggak banyak. Cuma papaku, Elen, dan aku," jawab Son sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Hah? Siapa Elen? Hanya kalian bertiga yang tinggal di sini?" tanya Aleena seolah tak percaya.
"Oh... ya... aku mendengar cerita tanteku kalau istri teman SMA-nya itu alias istri papamu sudah tiada," kata Aleena bagai teringat.
"Iya, saat aku berusia 8 tahun," beri tahu Son seolah-olah hendak memindahkan atau membagikan rasa sakit dan sedih di hatinya ke hati Aleena.
Bila kita berbagi hal senang pada orang lain itu akan membuat orang lain senang juga. Tapi bila kita berbagi hal sedih pada orang lain akan membuat orang lain sedih juga.
"Siapa Elen, Son?" tanya Aleena mengulangi pertanyaannya yang tadi.
"Elen pengurus rumah tangga kami. Dia kepala pelayan di rumah ini yang mengatur dan mengawasi tugas para pelayan. Dia juga mengurus biaya rumah tangga yang diperlukan dan dikeluarkan setiap bulan," jawab Son. "Kalau tidak ada dia, papaku pasti kelimpungan mengurus semua yang ada di rumah ini yang seharusnya diurus seorang istri. Untung ada Elen yang mengurus semuanya dengan beres dan sempurna," kata Son.
"Oh, tampaknya kamu sangat menghargai dan menghormati Elen, Son," kata Aleena sambil memandang Son lekat.
"Iya, Elen sudah seperti mama bagiku, Aleena. Dia memberiku perhatian dan kasih sayang yang besar juga padaku setelah kepergian mamaku," cerita Son.
"Ohya? Di mana Elen, Son?" tanya Aleena. "Aku ingin melihat dan mengenalnya."
Son memandang sekeliling ruang tamu sejenak sebelum menjawab, "Biasanya dia ada di ruang tamu ini atau di dapur. Kalau tidak, ya di kamarnya di lantai atas," kata Son. "Nanti juga dia datang menghampiriku. Karena biasanya dia juga sering menghampiriku saat aku ada di rumah atau baru pulang dari sekolah. Dia selalu menanyakan keadaanku dan perkembanganku tiap hari."
* * *