
Bab 20
Setelah Son menghabiskan bubur kacang hijaunya dan ibu guru mengobrol dengan Jessica, Kathy yang duduk di kejauhan baru menyadari dan mengetahui kalau Son sedang berdiri di luar kelas dekat jendela. Dia juga melihat Jessica dan ibu guru sedang mengobrol dengan akrab.
Merasa penasaran, Kathy pun menyimpan kembali hp-nya ke dalam tas dan bangkit dari duduk berjalan ke arah Son, ibu guru, dan Jessica.
Ibu guru tersenyum melihat mama Son melangkah dari kejauhan menuju ke arah mereka. Dia merasa mama dari anak yang sedang berdiri di sampingnya ini sangat cantik.
Langkah Kathy sudah sampai di depan mereka. Son segera menatap mamanya. Ada perubahan ekspresi dingin ke ekspresi senang di wajah anak itu. Dan ibu guru sempat meliriknya sekilas.
"Lho, kenapa Son ada di luar kelas? Dia tidak bersama anak-anak yang lainkah?" heran Kathy.
"Son tadi dibawa keluar kelas supaya mau makan, Bu Kathy," Jessica memberi tahu. "Karena di dalam kelas dia tak mau makan lagi jadi ibu guru membawanya keluar kelas."
"Oh, begitukah?" Kathy manggut-manggut. "Tapi tadi kulihat Son mau makan waktu di dalam kelas?" ingat Kathy.
"Iya, memang, Bu,' jawab ibu guru. "Tapi setelah dia melihat mamanya keluar kelas dia nggak mau lagi."
"Maksudmu aku?" Kathy menatap ibu guru, Jessica, dan Son silih berganti.
Jessica mengangguk. Ibu guru tersenyum.
"Oh, kenapa begitu?" Kathy merasa takjub.
"Karena anak ini sayang mamanya, Bu," jawab ibu guru. "Ibu harus lebih sering berada di dekatnya supaya hatinya terhibur."
"Malsudnya?" Kathy agak heran.
"Anak Ibu ini sangat menyayangi Ibu. Dengan adanya Ibu di sampingnya dia baru mau makan dengan lahap."
"Oh, benarkah?" Kathy tak percaya. Senyum surprais mengembang di sudut bibirnya. Wajahnya juga berubah kaget dan senang.
Kaget karena mengetahui kalau Son yang sering diadukan Jessica susah makan ternyata penyebabnya bukan karena anak itu tak berselera melihat masakan pelayan di rumahnya, melainkan karena tak ada mamanya di dekatnya. Dan senang karena mengetahui Son ternyata menyayanginya.
"Iya, Bu Kathy. Bu Guru memperhatikan sewaktu Bu Kathy ada di dalam kelas Son makan dengan lahap, tapi setelah Bu Kathy keluar dari kelas Son berubah tak mau makan. Jadi Bu Guru menyimpulkan kalau Bu Kathy adalah pemberi semangat baginya," jelas Jessica.
"Wow! Rupanya begitu!" Kathy berseru takjub. Dia segera berjongkok di depan Son dan berbicara padanya. Matanya bersinar penuh rasa kasih dan sayang. Kehangatan menjalar di sanubarinya setelah sekian lama ini terasa dingin terhadap anak sendiri
"Son," panggilnya. Kathy menyentuh lengan Son dan tersenyum padanya dengan mata berbinar. "Kamu benaran sayang Mama, Son? Ayo jawab," pinta Kathy.
Son menatap mamanya yang sedang berjongkok di depannya. Dia melirik sekilas tangan Kathy yang sedang memegang lengannya. Kemudian beralih kembali pada wajah Kathy. Mata Son menatap jauh sampai ke dalam bola mata Kathy. Anak itu hanya bisa menjawab dengan ekspresi dan mimik wajah yang mencerminkan jawaban dalam hati. Dia tak terbiasa berkata-kata manis atau bahkan memeluk seperti apa yang biasa dilakukan anak-anak lain.
"Jawab Mama, Son. Benar kamu sayang sama Mama, Nak? Mama akan sangat senang sekali jika kamu mengatakannya," ulang Kathy dengan sorot mata yang memohon. Dia sangat ingin mengetahui kebenaran yang ada di hati Son karena selama ini dia bingung dengan sikap anaknya sampai akhirnya memilih untuk menyerah dan tak lagi memikirkannya dengan gelisah.
Jawaban Son akan sangat berarti baginya karena itu bisa mencairkan kebekuan di hatinya dan menghangatkan sanubarinya yang sekian lama terasa gersang. Gersang bukan karena kurangnya perhatian suami atau orang-orang di sekelilingnya. Tapi gersang karena ketidakmampuannya untuk memahami anak yang dilahirkannya sendiri.
Kathy gagal memahami jiwa dan pikiran Son. Bukan Kathy saja, bahkan Tom ayahnya Son, Jessica baby sitter-nya Son, sampai para pelayan di rumahnya pun tak ada yang bisa memahami Son. Mereka tak tahu kenapa anak itu selalu bersikap dingin pada orang-orang di sekelilingnya, tak mau bicara, bahkan tatapan matanya pun sangat dingin pada orang lain.
Bisa dibilang hanya Elen yang memahami sifat dan karakter Son tapi Elen tak pernah mau memberitahukan pada siapa pun segala hal tentang Son. Dia menyimpannya sendiri dan karena hanya Elen yang tahu maka Son lebih menurut padanya. Pada kepala pelayan di rumahnya itu yang turut mengasuhnya sejak bayi hingga sekarang.
Tampaknya usaha Kathy meminta pada Son tidak berhasil karena anak itu tetap tak mau bicara. Dia tak mengerti kenapa mamanya yang sangat disayanginya masih belum mengerti juga kalau di dalam hatinya dia sangat menyayangi mamanya itu.
Apakah semua rasa dalam hati harus diekspresikan dalam bentuk kata-kata? Apakah tidak bisa dalam bentuk mimik atau ekspresi wajah? Bahkan bila mata dapat bicara, orang akan bisa mengerti apa isi dalam hati tanpa perlu bicara
"Tenanglah, Bu Kathy," ibu guru menyebut nama Kathy seperti yang didengarnya dari Jessica. "Anak Ibu ini sudah pasti sangat menyayangi mamanya cuma dia tak terbiasa mengekspresikannya dalam bentuk kata-kata. Tapi kalau kulihat dari reaksinya tadi saat makan bubur di dalam kelas dan saat di luar kelas melihat mamanya dari kejauhan, aku bisa pastikan kalau jawaban yang ingin Ibu dengar memang iya."
Kathy menggeser pegangan tangannya pada lengan Son ke belakang punggungnya. Dia segera memeluk Son dan mencium pipinya. Kehangatan menjalar di relung sanubarinya yang paling dalam. Rasa haru dan bahagia seketika menyelimutinya hingga air matanya pun jatuh begitu saja membasahi baju seragam Son.
"Maafkan aku, Nak, karena tidak memahamimu selama ini. Selama ini Mama pikir kamu tak menyukai Mama karena Mama jarang punya waktu untukmu. Mama sudah salah sangka padamu," ucap Kathy lalu menghapus air mata di pipinya.
Kita menangis bukan karena sedih saja. Tapi kita menangis juga karena terharu dan bahagia. Dan itulah yang dialami Kathy sekarang. Dia terharu dan bahagia mengetahui kebenaran yang disimpan Son selama ini. Dia lega karena kekeliruannya selama ini sudah teratasi. Ibu guru yang mengerti jiwa dan pikiran Son telah memperbaiki kekeliruan yang ada di pikirannya. Mencerahkan batinnya yang selama bertahun-tahun ini terasa gelap karena gagal memahami anak yang terlahir dari rahimnya.
* * *