
Bab 44
Les ke-6 dan ke-7 adalah Matematika. Guru Matematika di kelas Son adalah perempuan muda berusia 30-an. Dia masuk ke kelas setelah murid-murid duduk di bangkunya masing-masing.
Murid-murid mengenalinya sebagai guru Matematika yang mengajari mereka di kelas I dan II. Sekarang ketemu lagi di kelas III.
Setelah saling menyapa dan memberi salam, ibu guru Matematika mulai mengajar. Dia menyuruh murid-murid membuka bab I buku cetak dan mulai menerangkan di papan tulis contoh-contoh soal yang ada di buku.
Murid-murid mendengarkan dengan telaten karena Matematika adalah pelajaran yang sulit. Guru yang pengertian pasti akan menerangkan dengan lengkap, jelas, dan tidak cepat supaya murid-murid bisa mengerti.
Di buku cetak tertera juga soal-soal latihan yang harus dikerjakan murid-murid. Ibu guru menulis 5 soal di papan tulis dan bertanya apakah ada yang bisa mengerjakan soal-soal itu.
Walaupun sudah diterangkan dengan jelas oleh ibu guru, namun mayoritas murid di kelas Son masih ragu untuk maju karena itu membutuhkan keberanian. Bila jawaban benar bolehlah bangga. Tapi bila salah bisa-bisa dianggap sok-sokan.
Karena tak ada yang berani maju, ibu guru terpaksa memanggil Fredy yang diketahuinya selalu mendapat nilai bagus saat ujian Matematika di kelas I dan II.
"Fredy, ayo kamu maju ke depan mengerjakan 5 soal ini," kata ibu guru.
Fredy yang sedang duduk di bangku belakang dan cas-cis-cus dengan kelima temannya spontan melihat ke depan.
Ibu guru sedang memandangnya. "Ayo, Fredy," kata ibu guru lagi. "Tunjukkan pada teman-temanmu bagaimana cara mengerjakan soal ini."
"Iya, Fred, majulah," kata Luna.
"Iya tuh, maju ke depan. Kamu bisa kan?" tanya Desy.
"Sudah pasti bisa. Fredy kan paling pintar Matematika di kelas kita," jawab Katrin.
"Sana, maju!" Mark mendorong bahu Fredy yang duduk di sampingnya.
Fredy pun dengan enggan bangkit dari duduknya dan keluar dari belakang meja berjalan menuju depan kelas.
Sesampainya di depan kelas, ibu guru memberikan spidol biru untuknya yang bisa digunakan untuk menulis di papan tulis putih dan kilat. Tinta dari spidol itu masih bisa dihapus walaupun sudah dituliskan di papan tulis.
Sebelum zamannya Fredy cs, murid-murid tempo dulu masih menggunakan kapur tulis dan papan tulis yang spesial untuk kapur tulis. Tulisan kapur tulis di papan tulis juga bisa dihapus dengan penghapus, namun saat menghapus akan menimbulkan debu dari kapur tulis yang beterbangan di udara dan mengganggu pernapasan.
Fredy sebenarnya sudah mengerti penjelasan ibu guru. Tapi dia masih kurang yakin bisa mengerjakan soal-soal di papan tulis. Dia enggan maju karena takut salah. Bisa-bisa teman-teman sekelasnya jadi sangsi padanya padahal selama ini dia dianggap yang paling jago Matematika.
Fredy menerima spidol biru yang diberikan ibu guru dan mulai menggunakannya untuk menulis jawaban soal-soal latihan di papan tulis. Dia mengerjakan sesuai dengan petunjuk dan penjelasan ibu guru yang didengarnya tadi.
Setelah Fredy mengerjakan 5 soal itu, ibu guru menyuruhnya duduk kembali.
Ibu guru pun memeriksa jawaban Fredy di papan tulis sambil berkata-kata sendiri. "Ini benar walaupun ada sedikit silap.. Ini benar juga cuma sebaiinya ditulis dengan lebih jelas. Yang lainnya bagaimana menurut kalian?"
Murid-murid memperhatikan ibu guru yang sedang menjelaskan jawaban Fredy. Tidak ada yang berkomentar atau berniat memperbaiki. Selain karena Matematika memang sulit dipahami, mereka juga enggan ambil pusing. Toh murid yang paling jago Matematika di kelas saja bisa salah sedikit. Apalagi mereka yang sama sekali nggak ngerti. Padahal sudah diterangkan dengan lengkap dan jelas.
"Hmmm... baiklah. Jawaban Fredy untuk 5 soal ini sudah lumayan. Ini Ibu perbaiki sedikit-sedikit," kata ibu guru.
Dia tampak mencoret sedikit-sedikit di sana sini dan menulis jawaban yang benar. Setelah beberapa saat, dia pun selesai mengoreksi jawaban Fredy.
"Nah, ini semua sudah benar. Kalian boleh menyalinnya di buku catatan. Karena waktu kita tidak cukup lagi, maka Ibu akan berikan PR untuk kalian kerjakan di rumah. PR-nya yang sisa 5 soal lagi kejakan di rumah dan kumpulkan saat ada les Matematika di hari berikutnya."
Murid-murid mendengarkan kata-kata ibu guru dan melakukan apa yang disuruh, yaitu menyalin soal-soal latihan dan jawaban di papan tulis ke buku catatan. Juga memberi tanda di buku cetak PR di rumah 5 soal.
"Pusing aku Matematika," kata Shania saat murid-murid mulai menyalin dan ibu guru duduk di bangkunya yang ada di belakang meja guru.
"Sama lho, Shan. Aku juga pusing. Sama sekali tak mengerti," balas Joseph.
"Buat apa kita belajar Matematika yang begitu rumit?" tanya Shania.
"Buat apa?" tanya Joseph balik.
"Kamu nggak tahu?" tanya Shania lagi.
Joseph menggeleng.
"Buat melatih otak kita. Berpikir, menghitung, menjumlah, mengurang, mengali, membagi, dan sebagainya," jawab Shania.
"Oh, begitu ya?" Joseph manggut-manggut.
"Iya, supaya otak kita terlatih untuk berpikir logis dan rumit. Dan juga supaya otak kita tidak karatan!"
"Hahaha," Joseph ketawa.
Shania cekikikan.
Ibu guru dan murid-murid memandang ke arah Shania dan Joseph.
Sementara Son yang mendengar percakapan antara Shania dan Joseph diam-diam ketawa dalam hati karena geli. Rupanya Shania pintar melucu juga, pikirnya.
* * *