
Bab 14
Tom dan Kathy pun mulai memakan nasi mereka bersama lauk yang dihidangkan di atas meja. Untuk Kathy, lauknya semua dimasak dengan minyak wijen sedangkan untuk Tom tidak.
Tom melihat Kathy makan dengan lahap. Lauk yang dimasak khusus untuk Kathy itu tercium sangat harum dan menggugah selera. Wanginya tidak sama dengan yang dimasak sehari-hari sebelum Kathy melahirkan.
Tom terpancing ingin mencobanya tapi Elen mengingatkannya kalau lauk itu dimasak khusus untuk Kathy yang baru melahirkan dan memakai minyak wijen yang banyak jadi Tom tidak boleh memakannya karena tidak semua orang tahan dengan minyak wijen.
"Aku boleh menyicipinya sedikit saja?' tanya Tom karena dia benar-benar penasaran melihat cara Kathy memakannya begitu lezat.
"Iya, cobalah," kata Kathy sambil menyorongkan piring berisi lauk daging yang dimasak dengan minyak wijen itu ke dekat Tom.
Elen mencuri pandang. Dilihatnya Tom segera mengambil lauk itu beberapa sendok dan menaruhnya di piringnya sendiri. Lalu Tom pun memakannya dengan cepat.
"Sedikit saja, Tom," ingat Elen sambil berjalan mendekat ke kursi Tom. Dia khawatir Tom memakan daging ayam itu kebanyakan. Begitu perhatiannya Elen pada Tom sampai saat Tom sedang makan pun Elen memperhatikannya.
"Nggak apa-apa, Elen," malah Kathy yang menjawab. "Daging ayamnya tidak akan membahayakan tuanmu," Kathy tersenyum tipis.
Sebenarnya sudah lama Kathy merasakan perhatian ekstra Elen pada Tom layaknya seorang seorang istri pada suaminya sedangkan Kathy sendiri pun sebagai istri tidak begitu memperhatikan Tom. Padahal Elen hanya seorang kepala pelayan di rumahnya yang kebetulan akrab dengan Tom sejak 10 tahun lalu.
Tom sudah selesai memakan daging ayamnya. Dia memandang Elen dan tersenyum senang. "Besok-besok lauk yang seperti ini masih dimasak untuk Kathy kah?" tanyanya.
"Iya," jawab Elen. "Akan dimasak dan harus dimakan Kathy hingga sebulan ke depan."
"Oh... kalau begitu aku boleh nebeng makan tiap hari," tawa Tom lebar.
Kathy pun ikut tertawa.
Suami istri yang tampak akrab dan riuh di meja makan itu membuat Elen tak enak hati dan segera menghindar. Dia berjalan meninggalkan ruang makan dan naik ke lantai atas. Bagaimana pun Elen berusaha mengingatkan Tom, laki-laki itu tetap lebih mendengarkan istrinya. Bahkan saat apa yang dikatakan Kathy dirasa Elen kurang baik pun, Tom tetap mendengarkannya.
Elen merasa kesal dan dia masuk ke kamar bayi untuk melihat Son kecil. Saat Elen masuk, Jessica sedang menggendong Son yang terbangun.
"Son sudah bangun?" Elen berjalan mendekat.
Jessica mengangguk.
"Saatnya minum susu lagikah?" tanya Elen. Dia melihati wajah Son yang sangat lucu dan menggemaskan. Seketika lenyap rasa kesal di hatinya. Tanpa disadarinya, wajah bayi yang masih polos itu menghibur hatinya.
"Bu Elen mau menggendong Son sebentar biar kubuatkan susu untuknya?" tanya Jessica.
"Sini," Elen mengambil alih Son dari tangan Jessica.
Sementara Jessica membuatkan susu untuk Son, Elen cipika cipiki dengan bayi yang sedang digendongnya itu.
Tak lama kemudian, Jessica membawa botol susu yang sudah terisi 60 ml itu ke hadapan Son dan dia membiarkan Elen yang memberikannya pada Son.
"Tunggu saja nanti baru dicuci," kata Elen. "Papa mamanya Son lagi makan di ruang makan."
"Oh, jadi aku nggak boleh ke bawah sekarang?" tanya Jessica. Dia mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar.
"Iya. Nanti saja sekalian dicuci saat kita turun ke bawah makan malam. Sepertinya setengah jam lagi," jawab Elen.
"Kita makan sama-sama nanti, Bu Elen?" tanya Jessica.
"Iya. Tunggu sampai Bu Kathy ke sini untuk menjaga Son baru kita turun," jawab Elen.
Jessica pun mengangguk. Dia mengambil alih Son kecil dari tangan Elen lalu dibawanya mendekati ranjang dan ditaruhnya kembali ke sana.
Sementara di bawah, Tom dan Kathy hampir selesai dengan makan malam mereka. Sekejap keceriaan kembali hadir di antara 2 suami istri itu. Sesaat juga mereka melupakan Son kecil dan berbincang-bincang akrab layaknya dulu.
"Nah, kamu terlalu banyak makan daging ayam yang ditaruh minyak wijen, Tom. Besok-besok kalau nggak tahan bakal panas dalam," kata Kathy.
"Hah? Masa?" Tom tak percaya.
"Iya dong. Nih kan dimasak khusus untuk wanita yang baru melahirkan untuk menghangatkan tubuh mereka. Kenapa pula kamu ikut makan?" jawab Kathy dengan tatapan yang seolah-olah heran padahal tadi dia yang menyorongkan untuk Tom.
"Lho, tadi kok kamu nggak bilang sebelum aku makan?" Tom kaget karena baru tahu akan hal itu.
"Lha, kan tadi Elen sudah mengingatkanmu supaya tidak ikut memakan laukku tapi kamu bersikeras mau sendiri," elak Kathy.
"Aku nggak tahu sebabnya karena Elen tak memberitahuku. Kupikir kenapa pula aku dilarang. Barangkali karena dia takut aku menghabiskan laukmu sehingga kamu kekurangan gizi," alasan Tom.
"Elen sudah benar tadi. Aku yang salah. Tapi kenapa kamu lebih menuruti kata-kataku? Sebenarnya, tadi aku ingin mengetahui mana yang lebih kamu dengar kata- katanya. Kata-kata seorang kepala pelayan ataukah kata-kata istrimu. Dan ternyata kamu lebih mendengar kata-kata istrimu," senyum Kathy.
"Wah, ternyata kamu sedang mengujiku. Tidak adil ini bagiku," protes Tom dengan wajah cemberut seolah-olah keberatan.
"Bukan salahku. Kenapa kamu malah menurutiku?" Kathy tak mau kalah.
Mereka berdua pun saling bersitegang di meja makan layaknya sedang bertengkar saja padahal sebenarnya keduanya hanya berpura-pura berakting untuk mengembalikan kehangatan dan keakraban yang sempat lenyap semenjak beberapa hari lalu karena kelelahan di rumah sakit.
Sekarang mereka bisa bercanda dengan bebas dan lepas seolah tanpa beban apa-apa. Sekejap Tom melupakan kekesalan di hatinya akibat ulah Kathy selama 5 hari berada di rumah sakit dan ulahnya tadi sepulang dari rumah sakit. Canda tawa dan keceriaan Kathy mengembalikan rasa sayang di hati Tom. Bahkan Tom tertawa senang setelah pertengkaran pura-pura dengan istrinya itu.
Tapi itu tak bertahan lama. Karena di waktu berikutnya Kathy segera teringat Son. Dia mulai lagi berbicara tentang Son di depan Tom. Dan Tom pun mendengarkannya dengan rasa kecewa kembali hadir di hatinya. Tidak bisakah istrinya itu hanya memikirkannya saja walau untuk sekejap atau sehari?
Kenapa harus membawa-bawa lagi nama Son? Walaupun itu anak mereka, buah hatinya bersama Kathy yang tentu saja juga disayanginya, tapi itu bukan berarti Tom siap kehilangan perhatian dan kasih sayang istrinya. Sepertinya, Tom belum begitu siap berbagi perhatian dan kasih sayang dengan anaknya sendiri. Dia masih ingin Kathy yang dicintainya memperhatikan dan mencintainya seperti dulu. Cinta dan perhatian Kathy padanya tidak boleh berkurang walaupun mereka sudah punya anak.
* * *